‘Ied Fitri 1434 H

Fiuhhh… karena mobil masih di dialernya ^^, di rumah hanya ada satu sepeda motor, maka berlelah-lelah-lah kami menggunakan jasa angkot dan ojek untuk bersilaturrahim ke keluarga Ama di kecamatan sebelah; Talaga, Majalengka. Melalui jalan turun naik dan berlubang-lubang masyaAllah bagusnya! Ditambah jembatan terputus dalam rangka perbaikan sehingga harus memutar dan melewati sasak (jembatan bambu) untuk menuju rumah terjauh. Tapi pemandangan indah bebukitan, sungai, pepohonan, dan air terjun menebus semua lelah.

Di Indonesia, momen ‘Idul Fitri memang menjadi ajang silaturrahim, sangat meriah. Berbeda dengan di Arab Saudi yang lebih meriah Idul Adhanya ketimbang Idul Fitrinya.

Tidak seperti di Jogja/ Jawa. Di keluarga, tidak ada tradisi kumpul Trah. Maka, jarang sekali bertemu keluarga besar kecuali saat Idul Fitri. Jadi tidak hafal siapa saja saudara-saudara sekeluarga seluruhnya.

CATAT…

 

Keluarga Ibu

(Eni Ule Julaeha& Aki Abdul Rosyid)

Tempat Tinggal

1 Endis Firdaus (Uwa Endis) & Uwa Ati

  1. Munira Firdaus (Kak Ira)
  2. Muhammad Thoyyar Firdaus (Abang -alm)
  3. Zanira Firdaus (Neng Kike)

 

Bandung, Jabar
2 Iyan Ruhdiyan (Uwa Yoyon) & Uwa Ati

  1. Fanny Dwiphoyanti (Teh Fun)
  2. Sena Avicena (Aa Sena)
  3. Nabila Emirotul Mufidah (Neneng)

 

Maja, Majalengka Jabar
3 Ene Junaeriyah (Ibu ^^) & Pak Pepen (Ama)

  1. Yuli Nurullaili Efendi (Teh/ Dek Leli)
  2. Ahmad Mudzakkir Effendi (Ahmad)
  3. Abdul Basith Effendi (Nde)

 

Maja, Majalengka Jabar
4 Edin Sofarudin (Mang Edin) & Bi Nur Hasanah

  1. Rain Dzikro Ghaitsa
  2. Hanum
  3. Hammas Rail Ghaza
  4. Raghiba

 

Sadawangi, Majalengka Jabar
5 Uun Unaenah (Bi Uun) & Abah

  1. Abdurrahman Faiz
  2. Ahnaf Alfath
  3. Thoriq Fasya
  4. Muhammad Rijal
  5. Muhammad Yusuf

 

Purwokerto
6 Elin Maslina (Mang Elin) & Bi Lilis

  1. Gilang Praha Zulfikar (Yayang)
  2. Safira

 

Kadipaten, Majalengka Jabar
7 Emak Maxtalina (Mang Emak) & Bi

  1. Muhammad Khaitam (Deden)
  2. Ihsan (Ican)
Garut, Jabar
8 Rosyida Nur Hamidah (Bi Ucu) & Mang Bakrie

  1. Nadila Salsabila
  2. Adin
  3. Azzam
Solo

 

Itulah, secara usia, saya cucu tertua di keluarga ibu. Kedua, Teh Fun (beda lahir sebulan tok). Saya pribadi lebih dekat dengan keluarga Ibu. Mungkin karena pola hidup yang lebih sama, lebih nyaman. Mungkin juga karena tempat tinggal kami yang sewilayah dengan keluarga Ibu.

 

Keluarga Ama

(Siti Rohmah-Eni Empo & Aki Qomaruddin)

Tempat Tinggal

1  Arnali (Uwa Nali) & Sarminah

  1. Ceu Dadah

(3 putra)

  1. Ceu Jojoh

(5 putra)

  1. Ceu Roroh

(….)

Cilengsar, Talaga, Majalengka
2 Inoh Aminah (Uwa Inoh) & Makdum (alm)

  1. Ceu Iing

(1. Yayah, 2. … , 3. …)

  1. Ceu Nunung

(1. Ima, 2. … , 3. …)

  1. Ceu Emem

(2 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
3 Uju Juwariyah (Uwa Uju) & Syahmudin

  1. Momon Suparman

(1. Asep Wildan, 2. Nurul, 3. Nisa)

  1. Mamah

(3 putra)

  1. Usep Syaifuddin & Imas

(1. Mia, 2. ….)

  1. Abdul Kholiq

(2 putra)

  1. Opik Taufiqurrohman

(2 putra, 2 kembar -alm)

  1. Mimih

(2 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
4 Emah (Uwa Emah) & Makbul

  1. Mujtahidah

(1. Inun, 2. …., 3. …., 4. ….)

  1. Abdul Harist (Endun) guru MAN Talaga

(2 putra)

  1. Iin

(3 putra)

  1. Aa Iyan Tentara Bandung

(2 putra)

  1. Ipah

(3 putra)

  1. Asep

(1 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
5 Eman Sulaiman ( Uwa Eman) & Aah

  1. Baban
  2. Dedeh

(1 putra)

  1. Awal
  2. Risna
  3. Aceng (Ceceng)

 

Campaga, Talaga, Majalengka
6 Cicih Sukaesih (Uwa Icih) & Pupung

  1. Nunung

(1. Syifa, 2. …)

  1. Dede

(3 putra)

  1. Ii

(2 putra)

  1. Iah

(3 putra)

  1. Asep

 

Sadahurip, Talaga, Majalengka
7 Aah Muawwanah (Uwa Aah) & Abdul Ajid

  1. Yoyoh

(2 putra)

  1. Dedi

(2 putra)

  1. Iman

 

Campaga, Talaga, Majalengka
8 Epen Supendi (Ama) & Ene (Ibu)

  1. Yuli Nurullaili Efendi (Teh/ Dek Leli)
  2. Ahmad Mudzakkir Effendi (Ahmad)
  3. Abdul Basith Effendi (Nde)

 

Maja, Majalengka

 

Baru itu yang saya tahu dari Ibu dan Ama. Nanti ditambahkan lagi. Oya, di keluarga Ama, rata-rata sudah berkeluarga. Bahkan saya punya panggilan Eni (Nenek) dari cucu (anaknya anak alo –sepupu- ^^’)

***

Hal paling menyebalkan ketika ditanya-tanya. Nyaris di  S-E-T-I-A-P  tempat dan waktu dan S-E-T-I-A-P saudara/tamu yang didatangi atau mendatangi;

“Teh/ Dek, kapan nikah?”

“Duh sudah perawan si Teteh teh, mana calonnya? Orang Jogja ya? Atau orang sini?”

“insyaAllah, nanti Uwa datang ke Maja-nya kalo nikahan si Neng ya…”

“Bu, kapan hajatannya?”

^^’ hanya bisa menyediakan sesungging senyum *apakah tidak ada topik lain? Misalnya; kerja di mana? Jadi lanjut S2? Apa saja aktivitas di Jogja?

;; Ibulah yang menyediakan tameng; “Belum dikeluarkan jodonya Wa…” juga dengan senyum termanis ibu.

Maka, setelah melewatkan satu tiga rumah Uwa-Uwa, di rumah Uwa selanjutnya,  bersiap menahan nafas dan menyunggingkan senyum termanis, lalu mengangguk-angguk saja saat ditanya; “Kapan nikah?” *Belajardaripengalaman

Begitu juga pertanyaan SETIAP teman-teman SD di Desa Sadasari yang kukunjungi. Rata-rata semua sudah menikah dan beranak pinak; “Kapan….??? Tahun depan kalo ke sini bawa gandengannya ya?!” *Hmmmm… tidak ada yang bisa memaksakan takdir.  “Iya Teh… temennya Ahmad (adek) juga walimahan bulan depan. Kalo di sini, sudah kerja ataupun belum, kalo siap nikah ya nikah saja.” Ujar Bi Erah. *Begitu sederhananya pikiran orang-orang di sini. Sementara orang-orang kota, orang-orang berpendidikan tinggi,  cenderung berbelit-belit, mempertimbangkan banyak hal dalam berpikir dan memutuskan banyak hal .

Jika tahun depan belum menyiapkan  j-a-w-a-b-a-n, jadi malas untuk kembali berkunjung ataupun dikunjungi…

Tambah lagi,

Teh Fun; “Dek, kalo nikah nanti cukup salaman mengundang kerabat saja atau mau walimah besar-besaran di gedung?”

Apaan sih Teh?! *Mumet

sudahlah, kukembalikan semua padanya dan pada-Nya yang menanggung hatiku, hidupku, rizkiku, dan matiku…

Fatih Seferagic Sosok Ala ‘Edward Cullen’ Yang Hafizh Quran

Written By Freiz Sky on Sabtu, 19 Januari 2013 | 12.47


PARA ibu muslim sebaiknya sejak saat ini harus melupakan obsesi mereka untuk mendapatkan calon mertua bule, jika bule tersebut ‘kadar’ Islamnya seadanya. Dan para ABG juga harus mulai berhenti mengidolakan artis seperti Justin Bieber atau sosok vampire ganteng ala Edward Cullen yang ada di film Twilight.

Karena masih banyak bule-bule Muslim yang ada di luar sana yang keislamannya mungkin jauh lebih baik dari kita yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim dan lebih layak dijadikan mantu atau dijadikan sosok ‘idola’ (tentunya Rasulullah yang tetap harus jadi idola utama).


Siapakah sosok bule Muslim tersebut? Salah satunya adalah Fatih Seferagic. Pemuda bule Amerika hafizh 30 Juz Al-Quran, bersuara indah dan ganteng pula. Pemuda muslim berkebangsaan Bosnia ini lahir di Stuttgart, Jerman dan sekarang menetap di Texas, Amerika Serikat.

Tinggal di negara mayoritas penduduknya kafir tidak membuat Fatih Seferagic menjadi anak muda kebanyakan yang ada di negara adidaya tersebut. Di lingkungan yang penuh kemaksiatan seperti di AS dirinya mampu menjadi sosok penghafal Al-Quran dan menjadi guru untuk hal itu. Pada umur 4 tahun ia bersama keluarganya pindah ke AS, tinggal di Arizona selama 3-4 tahun sebelum akhirnya menetap di Baltimore, Maryland selama 7 tahun dimana ia memulai dan menuntaskan hafalan Al-Qurannya.

Berbeda dengan kebanyakan kita di Indonesia semasa kecil yang masih asyik bermain, pada usia 9 tahun Fatih Seferagic sudah memulai menghafal Al-Quran. Dan hebatnya dia hanya butuh waktu 3 tahun untuk menyelesaikan hafalannya sehingga menjadikan dirinya hafizh Al-Quran 30 juz pada usia 12 tahun. Ia melatih hafalannya tersebut di bawah bimbingan Syaikh Qari Zahid dan Qari Abid.

Layaknya anak muda kebanyakan, penampilan Fatih Seferagic juga gaul bahkan sekilas tidak terlihat dirinya seperti seorang Muslim (karena wajahnya benar-benar bule) apalagi Muslim yang bisa menghafal 30 Juz Al-Quran secara lengkap. Namun ketika dia menjadi imam shalat, barulah kita akan melihat sosok Fatih sebenarnya. Bacaan Al-Qurannya merdu, enak didengar seperti bacaannya Syaikh Misyairi Rasyid. Dan sekarang sambil sekolah, Fatih juga mengajar Al-Quran serta menjadi ketua remaja masjid Syaikh Yasir Birjas di Dallas, Texas.

Bagi yang ingin menjadi ‘murid’ nya, tenang saja peluang untuk itu terbuka luas. Dia akan mengajarkan tajwid Al-Quran hingga bagaimana menghafal Al-Quran. Yang uniknya belajar langsung ke dia bisa menggunakan fasilitas Skype. Namun sayangnya hal itu hanya berlaku untuk warga AS dan Kanada saja (mungkin kalau dia menerima murid dari Indonesia, dia akan kecewa berat karena Skypenya akan buffering terputus-putus disebabkan koneksi internet Indonesianya yang tidak bagus).

Bagi para ibu yang menginginkan Fatih Seferagic menjadi mantunya atau bagi para gadis yang berharap Fatih Seferagic menjadi calon suaminya, silahkan ikuti kegiatan dia di facebook.com/fatihseferagic atau kicauannya di twitter.com/fatihseferagic.(islampos)

lihat videonya : http://www.youtube.com/watch?v=2klaRIDHPno

My Bodyguards :)

I have two bodyguards now ^^

(Dulunya kecil-kecil, sekarang mereka tumbuh menjulang!)

Image(205)

1st Bodyguard

Image(209)Nama                                    : Ahmad Mudzakkir Effendi

Usia                                       : 23 tahun

Pekerjaan utama             : Bodyguard

Pekerjaan sampingan    : Mahasiswa

Hobi                                       : nge-games, otak-atik, *diam-diam suka menghafalkan Quran

Diperlukan terutama ketika saya dan dia berada di Jogja. Meski pendiam, kalo bicara sulit dimengerti, tapi asik saat diajak jalan, wisata kuliner, dan perpulangan ke kampung halaman. “Mad, tolong angkutin barang-barang  ya.” ^^’

Jangan kaget kalo suatu saat melihat saya berboncengan dengannya ^^

2nd Bodyguard

DSC_0000012Nama                                    : Abdul Basith Effendi

Usia                                       : 16 tahun

Pekerjaan utama             : Bodyguard

Pekerjaan sampingan    : Pelajar

Hobi                                       : menyanyi, memasak

Diperlukan terutama ketika saya dan dia berada di rumah orang tua. “Nde, cepetan ini bantuin ambil piring… kecapnya tolong diambil… garamnya mana?”

Dan dengan sabar, Abdul Basith menemani saya (belajar) masak dan memberi petunjuk, “Teh, awas kalo masak ikan ini nanti meletup-letup minyaknya.”  Ujarnya. “Ya sudah Nde aja yang masaknya ya,” balas saya *paling geli memegang ikan-ikanan yang… dan takut memasak dengan minyak meletup-letup. Dan dia mengangguk, segera melaksanakan tugasnya… ^^’ *cita-cita jadi chef katanya.

Senangnyaaaa punya dua bodyguard ini…. 😀

*dan lebih senang ketika disangka bahwa saya adalah anak bungsu dengan adanya mereka berdua ^^

Refleksi penyentil hati…

Hampir setiap pagi saat berangkat kerja di bulan Ramadhan sekitar pukul tujuh, saat mentari mulai menyapa hangat… di tikungan jalan Berbah sebelum komplek perindustrian itu selalu terlihat seorang kakek tua yang sedang berjalan terbungkuk memegang tongkat menyangga tubuh kurusnya. Terkadang kulihat kakek berjalan ke arah barat, lain hari kulihat beliau sedang berjalan pelan terbungkuk ke arah timur.

Kulitnya legam. Rambut putihnya tersembul dari caping yang sudah bolong sana sini. Beberapa hari mengenakan pakaian batik kuning dipadu celana hitam yang ujung bawahnya diikat karet/ tali rafia, beberapa hari kemudian mengenakan batik hitam putih korpri yang kesemuanya sudah usang… tiap kali melihat kakek ini, tiap itu pula air merembes kedua kelopak mata hingga menggenang…

Seperti inikah hidupnya? Takdir baginya? Siapa yang mampu menolongnya?

***

Yang ini rada romantis. Saya yakin tidak salah lihat; seringkali entah di manapun, di jalan Kaliurang, hingga Prambanan, terkadang kulihat dua penyepeda ini berboncengan. Seorang Bapak dan seorang ibu. Kutaksir beliau berdua adalah sepasang suami istri. Entah belum sempat kutanyakan apa profesi mereka berdua; tapi dari kesemuanya, kutebak mereka pengumpul barang-barang bekas.

Sepeda yang dipakainya tidak mewah; ialah onthel yang sudah sepuh. Separuh jok paling belakang ditumpangi anyaman bambu tempat membawa barang-barang. Separuhnya lagi dipakai oleh sang istri untuk duduk nyaman. Ya, terlihat sangat nyaman. Kadang kulihat sang suami turun dan mendorong sepeda tanpa menurunkan istrinya yang duduk di jok belakang tersebut sehingga kaki istri menggantung tidak menapak tanah sedikit pun. So sweet…^^

Pemandangan sederhana yang menggetarkan… indah dan mengharukan :’)

***

Satu hal yang sangat kusesalkan dulu. Keinginan yang tak pernah sampai untuk sekedar menjenguknya; menjenguk seorang kakek tua yang berjalan saja sudah gemetaran dan penglihatan yang rabun.

Tujuh tahun lalu…

Saat setiap pagi berangkat kuliah dari kos pertama di daerah Tawangsari, utara Fakultas Kehutanan UGM, saat yang harusnya membahagiakan karena ditemani semburat mentari yang menyemburkan kilau emas pagi harinya yang hangat… justru mendadak menjadi memilukan melihat seorang Kakek tua duduk di tepian jalan yang tanpa trotoar. Tangannya menengadah pada setiap orang yang lewat. Kulitnya telah begitu mengeriput, matanya terpejam, tubuhnya gemetaran. Setiap pagi.

Hingga suatu saat, saya tidak menemukannya duduk di tempat biasanya. Terdengar selentingan bahwa gubuknya tak jauh dari tempat beliau biasa duduk, dan ia sedang jatuh sakit… tak ada keberanian untuk mengetuk pintu tripleknya, sekedar melihatnya terakhir kali… Namun… hingga saat ini, rasa sesal masih terbawa tak kunjung padam… bayangan kakek tua dan gubuknya masih terngiang-ngiang…

Maafkan saya Kakek… 😥

***

Tukang sampah yang sering kulihat urat-uratnya yang menonjol, pemulung, pengamen, gelandangan berpenampilan dekil, orang-orang kurang waras yang berkeliaran di pinggir jalan…

pengemis

Semua takdir-Nya telah tersurat bukan?

Inikah dunia?

Inikah hidup?

Hidupku,

hidup mereka…

Mereka begitu tangguh menjalaninya… jika aku berada di posisi mereka, sanggupkah?

Untuk bersyukur saja, seringkali kita LUPA.

Malah menyalahkan Allah jika mendapatkan yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi.

 

RABB HAMBA TAHU ENGKAU MAHA ADIL. Lindungilah mereka, lindungilah kami… dari bahaya kekufuran dan kekafiran…

Inilah dunia yang kulihat… selalu pilu melihat pemandangan yang memilukan seperti itu. Ada perasaan bersalah. Apa yang bisa kulakukan untuk mereka? Apa?

 

 

Ama

Entahlah… emosiku selalu labil akhir-akhir ini. Nyaris tak ada bedanya dengan Eni (nenek) yang sedikit-sedikit air matanya menggenang di kelopak matanya.

Ba’da shubuh di masjid Dahufugur ini, libur Ramadhan di kampung halaman, berkesempatan menjadi murid Ama (Bapak) lagi. Bersama ibu-ibu yang sudah sepuh (yang muda-muda pada ke mana ini?), belajar melagukan bacaan Qur’an, tajwid, dan terjemahannya.

Semua suasana ini membuat memori membawaku menjelajahi masa lalu. Berkelebatan tak terbendung; memori masa kecil. Berapa lama aku tak menyengajakan diri menjadi murid Ama yang pernah ia banggakan lagi?

***

1994-2000 M

Masjid At-Taubah, Desa Sadasari, bersama teman-teman sebaya, juga Teteh-teteh dan Aa-aa… duduk melingkar di hadapan Ama. Tak ada bedanya aku dengan teman-teman sepengajianku diperlakukan Ama. Bahkan tak jarang Ama memarahiku jika tak serius mengikuti lantunan ayat Qur’an yang dibacakan Ama. Pernah suatu ketika, Ama marah sampai memukulkan ujung sajadah ke pahaku. Tidak sakit, tapi suara gelegar pukulan sajadahnya cukup membuat kaget dan jera.

At-Taubah yang selalu ramai setiap waktu shalat apalagi maghrib, dengan Ama sebagai imam sekaligus guru ngajinya, dengan Ama yang selalu mengajakku mengolah nafas dan suara ba’da shubuh; “Supaya kuat menahan nafas saat mengaji dan bersuara nyaring.” Ujar Ama.

Ama yang juga selalu mengajak naik bukit tiap hari Minggu, bersama Ahmad, adik pertamaku, melihat pemandangan indah yang terhampar hijau dari ketinggian, bergelayutan menyenangkan di lengannya yang kekar sambil melihat pemandangan indah itu… mengajariku menghirup nafas dalam-dalam, merasakan kesegaran udara pegunungan… mengajakku menyentuh dan mencecap air gunung yang bening dan dinginnnn…

Ama yang sering mengajakku menggeluti hobinya; bermain bulu tangkis hingga mahir dan pernah suatu ketika, saat aku kecil masih duduk dibangku SD, bermain bulu tangkis dengan keras dan alot satu lawan satu dengan Ama hingga aku sempoyongan nyaris pingsan gara-gara belum sarapan!

Ama yang terkadang mengajakku ke kantor dinasnya, membelikan oleh-oleh coklat kacang Cha-cha setiap pulangnya…

Ah, suasana yang menyenangkan bersama Ama, nyaman, merasa terlindungi… Dulu…

Seiring perjalanan waktu, yang memisahkanku dengan Ama sejak usia SMP hingga saat ini (berarti sekitar separuh usiaku, 13 tahun!)… tidak lagi menjadi murid ngajinya… Toh, kupikir untuk apa belajar lagi melagukan Al-Qur’an? Siapa yang mau mendengarkan suara seorang wanita? Walaupun merdu, indah, justru tidak boleh diperdengarkan pada khalayak yang ada lawan jenisnya di sana.

Jarak tempat dan waktu telah memisahkan semuanya… Kesenjangan semakin tampak saat berbagai masalah berdatangan. Apalagi setelah aku memahami Islam sebenarnya yang kuketahui dari Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Aku dan Ama berbeda; aku yang menjalankan Islam kemoderatan dan Ama yang ketradisionalan..

Masing-masing ngotot memegang prinsip-prinsipnya, soal perilaku sehari-harinya; termasuk soal merokok dan soal-soal lain yang penting…

***

Sungguh, aku tidak memungkiri bagusnya lantunan ayat Quran yang dibaca oleh Ama…

Tapi…

Sudahlah… Bagaimanapun, beliau tetap Bapak-ku yang menjadi perantaraku, membuatku ada di dunia ini bukan? Selagi masih ada kesempatan, meski sulit…, pasti bisa! Gunakan Fiqh dan seni berdakwah yang selama ini telah kau pelajari dung… Pada orang lain kau bisa, masa pada orang yang paling dekat, pada keluarga, tidak bisa? Apalagi kau nyaris ‘menjadi orang’ sekarang. Do’akan saudaraku,

Bismillah…

Rabbighfir lii wa liwaalidayyaa, warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa…

TRY TO IKHLAS :’)

🙂 Be ikhlas

Ok, I would like to try :’)

Memang, jika dalam hidup ini kita mengekang diri dalam suatu lingkaran yang kita buat sendiri, akan sulit menemukan kebahagiaan. Kebebasan yang membahagiakan.

Ikhlas-lah… Lepaskan semua kekangan. Bebaskan hatimu. Bebaskan dirimu. Tidak ada sesuatu pun yang boleh mengekangmu, atau kau mengekang sesuatu atau seseorang, mengekang hatimu atau hati seseorang selain dengan kekangan/ikatan aqidah, persaudaraan, dan kekeluargaan.

Tidak ada sesuatupun yang boleh membuatmu menangis akibat kekangan kecuali atas dasar aqidah, persaudaraan, dan keluarga.

 

Radhiitu billahi rabba

Wa bil islaami diina

Wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rasuula

 

 

Aku ikhlas ALLAH menjadi Rabb-ku

Dan aku ikhlas ISLAM menjadi agamaku

Dan aku ikhlas MUHAMMAD menjadi Nabi dan Rasulku

 

 

Be ikhlas 🙂

Allah telah mengatur segalanya yang terbaik untuk menjadi manusia yang lebih baik 🙂

OK!

I   C A N   D O   I T !!! Aku pasti bisa (^^)9

*bi  idznillah…insyaAllah...

Hati yang Satu

Puch, kau benar; hati manusia hanya satu… jika hatiku baru, harusnya aku tidak merasakan apapun yang pernah hatiku rasakan. Dan akhirnya, aku harus berjuang memperbaikinya dengan keras sekarang…

***

Lihatlah… bulan nyaris purnama Ramadhan ini bersinar indah… dengan kuning yang bercahaya… ingin selalu kunikmati kedamaian melihatnya, dari atas ketinggian asrama bambu yang baru dibangun ini…

Dear the moon, I met her two months ago…

 

Di walimah seorang sahabat…

Selama ini, aku tak pernah melihatnya langsung. Begitu melihatnya, gerak-geriknya, mendengar sekelebat suaranya… Entahlah, perasaan macam apa ini. Cemburu?

muslimah-berjilbab-9She is beautiful with a glasses she uses…

Sweety smile…

With low, melodious, sweet, and clear voice…

She has prudish behavior…

And she ever becomes one of student of a place I love (I call it My Paradise) …

Mestinya ia tumbuh menjadi gadis sholihah dan rajin beribadah. Menyayangi keluarganya yang utuh. Pandai menjaga diri dan emosi. Stabil. Tidak sepertiku. Years ago… Something damaged my right mind stired up the hormonal system, then; I changed little by little… 😥

And… She’s perfect

Jika bidadari cemburu padanya, bagaimana aku tidak cemburu?

Di surga yang akan ia tempati, tentulah aku hanya menjadi seorang pendatang. Bukankah kedatanganku hanya akan mengusik ketenangannya?

Is it the time for me to go…???

OK, i’ll go far away…

 

Good bye…

My past…

 

Good bye…

:’I

Prambanan, 14 Ramadhan 1434 H

Wahai hati yang satu… tunduklah pada kuasa-Nya

Berdamailah dengan-Nya

Apapun yang terjadi esok, tenanglah… semua yang digariskan-Nya pastilah yang terbaik untuk seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Setiap takdir ciptaan-Nya menciptakan jejaring yang bekerja ritmik, saling berkaitan, saling berpengaruh, menciptakan keseimbangan dunia; keharmonisan.

All is well… :I

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA -Hanum Salsabiela Rais& Rangga Almahendra

99 cahaya di langit EropaPerjalanannya di Eropa telah membuatnya kembali jatuh cinta padanya. Pada agamanya; Islam.

Paris n’est pas qu’une question de Tour Eiffel et de Louvre.

Cela va bien au dela des ces “petits batiments.” J’ai trouve ma foi ici

 

*sulit sekali menuliskan ulang dan mengejanya -.-’ !

 

(Paris tak hanya tentang Eiffel atau Louvre.

Lebih dari dua bangunan “kecil” itu. Aku menemukan imanku di sini)

(Marion Latimer, Paris)

Itu salah satu kata-kata puitis seorang teman baru penulis di Paris yang semakin menyemaikan cinta di hati penulis novel travelling ini. Ya, justru saat ia berada di negara yang kata ‘Islam’ menjadi minoritas dan ‘lawan’ dari Eropa/ Barat. Tapi, sisa jejak-jejak cemerlang yang pernah kaum Muslimin tinggalkan di bumi belahan barat sana tak bisa diabaikan begitu saja.

 

croissant

croissant

Roti Croissant ; simbol kekalahan perang kaum muslimin

hagia-sophia dalam

hagia-sophia

hagia-sophia

hagia-sophia

Hagia Sophia; museum yang menjadi saksi sejarah dua agama yang pernah berjaya pada masanya

Besarnya Blue Mosque yang berdampingan indah tak mau kalah dengan Hagia Sophia

 

Kara_Mustafa_Pasha

Kara_Mustafa_Pasha

Lukisan seorang pesakitan Kara Mustafa Pasha di museum … di antara gagahnya lukisan para tokoh-tokoh Barat lainnya

Ugolino_di_Nerio_1315_1320_La_Vierge_et_l_Enfant_Sienne_detail

La_Vierge_et_l_Enfant_Sienne

Rahasia di balik kerudung yang dipakai Bunda Maria dalam lukisan The Virgin and The Child 1315-1320 *Tahukah? Ia bersulamkan lafadz ‘La ilaha illallah’ dalam tulisan Pseudo-Kufic (arab kuno)

Musik Rondo Alla Turca– yang diciptakan Amadeus Mozart; ternyata terinspirasi dari kedisiplinan tentara Islam Janissari khilafaf Utsmani

Bunga Tulip; yang kita kenal sebagai ikon negara Belanda ternyata asli dari Anatolia Turki dan sebagian Asia Tengah. Semakin populer saat Kekhalifahan Ustmani/ Ottoman melancarkan invasi ke negara-negara Eropa. Termasuk Belanda.

Dan…

Arc_de_Triomphe_du_Carrousel
Arc_de_Triomphe_du_Carrousel

Tahukah kita? Air mancur besar, monumen Obelisk Mesir, jalan Champs-Eysees, juga monumen Arc de Triomphe du Carrousel  (yang di atasnya terdapat patung Quadriga, kereta perang Yunani Kuno ditunggangi 2 perempuan dan 2 figur malaikat bersayap yang ditarik 4 kuda berukuran sebenarnya) di Paris membentuk garis lurus sempurna yang menghadap ka’bah? Mengapa Napoleon Bonaparte merancangnya demikian?

***

“Sekarang ini anak-anak makin melupakan sejarah agama. Aku ingin suatu saat nanti, dari awal kedatangan di dunia ini seluruh anak muslim tahu, tiada kebanggaan yang berarti kecuali menjadi muslim. Aku ingin mereka lahir sebagi muslim karena mereka memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, merasakan, dan mencintai islam, bukan karena paksaan orang lain. Dan aku ingin mereka tahu bahwa dalam setiap waktu, dalam masa depan mereka, mereka akan menemui orang-orang yang berbeda dalam hal kepercayaan, bahasa, dan bangsa. Aku akan mengajarkan pada mereka bahwa perbedaan terjadi bukan karena Tuhan tidak bisa menjadikan kita tercipta sama. Menciptakan manusia homogen itu bukan perkara sulit untuk-Nya. Itu semua terjadi justru karena Tuhan Maha Tahu, jika kita semua sama, tidak ada lagi keindahan hidup bagi manusia. Jadi, nikmatilah perbedaan itu…” (Fatma, Turkish, sahabat penulis)

Fatma, telah menggugah kesadaran penulis akan agamanya melalui perjalanan ke tempat-tempat bersejarah, di mana kaum muslimin pernah menyentuh bumi Eropa, menyinarinya…, lalu luluh lantak akibat kealpaan sendiri, juga gempuran membabi buta dari luar… Tak bisa tak menitikkan air mata… Namun darinya, kita bisa menemukan esensi dari sejarah;

Esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu : siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan.

***

Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apapun yang kaupilih akan mengantarkanmu pada titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan.

Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang.

Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal…

(The Alchemist, Paulo Coelho)

 

JADILAH AGEN MUSLIM YANG BAIK, di manapun kita berada… (bil hikmah)

pesan fatma 🙂

Benar-benar Cinta-Kerja-Harmoni :)

Ya…

Pada suatu kesempatan… saat iftor jama’i di kediaman ketua Bapilu DPC Mlati; Pak Wisnu.

562697_411734372277640_1860683207_n

Dibuat takjub. Dengan tingkah polah para calon bapak. Ibu-ibu masak dan mencuci sudah biasa saya lihat, tapi… jarang-jarang saya melihat ada orang (lebih tepatnya; laki-laki) yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mereka saat itu; mencuci piring.

Dengan dalih bagi-bagi tugas; Ibu-ibu yang memasak, maka bapak-bapak yang harus mencuci piring setelahnya. Dan… OK! Disepakati.

*jadi terharu… indah nian kerjasama yang dibangun ini… mereka bahkan tidak gengsi, malah candaan mereka saat mencuci piring mengganggu konsentrasi Ibu-ibu yang sedang shalat di ruang tengah.

***

Tapi…

Memang sebetulnya, pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dkk BUKANLAH KEWAJIBAN WANITA!

???

Simaklah kisah ini…

Bahwasanya seorang lelaki mendatangi ‘Umar untuk mengadu tentang perangai istrinya, lalu lelaki itu berdiri di depan pintu rumah ‘Umar dan mendengar suara omelan istri ‘Umar kepada ‘Umar. ‘Umar sendiri diam tak bersuara, tak membalas omelan istrinya itu. Lelaki itu pun berbalik pergi seraya berkata (dalam hati),

 “Jika keadaan Amir al-Mu’minin ‘Umar bin al-Khtahthab saja seperti ini, bagaimana bisa (aku mengadukan) perihalku.” 

‘Umar keluar dari rumah dan melihat lelaki itu pergi. ‘Umar memanggil lelaki itu, 

“Apa keperluanmu, wahai saudaraku?” 

Lelaki itu berkata, “Wahai Amir al-Mu’minin, aku datang untuk mengadu kepadamu tentang perangai istriku yang selalu mengomeliku, namun barusan aku mendengar istrimu pun berbuat demikian kepadamu sehingga aku pun kembali seraya berkata (dalam hati) kalau keadaan Amir al-Mu’minin dengan istrinya pun seperti ini, bagaimana bisa (aku mengadukan) perihalku.” 

‘Umar pun berkata kepada lelaki itu, “Aku menanggung omelannya (dengan sikap diamku) karena hak-hak yang dimilikinya dariku. Istriku memasak makanan dan mengadon roti untukku, dia mencuci bajuku dan menyusui anakku padahal semua itu bukanlah kewajiban baginya. Selain itu, hatiku pun merasa tenang kepadanya dan (terjauhkan) dari hal-hal yang haram. Itulah yang membuatku (bersikap diam) menanggung omelannya.” 

Lelaki itu berkata, “Wahai Amir al-Mu’minin, seperti itu pulakah istriku?” 

‘Umar menjawab, “Kau tanggunglah beban itu, wahai saudaraku. Karena semua (omelan) itu hanya sejenak saja.”

***

Pesan Ustadz…

Memang benar pekerjaan rumah tangga sebenarnya adalah kewajiban LAKI-LAKI.

Tapi… wanita yang baik pasti MAU MEMBANTU suaminya.

Jika tidak dibantu istri, suami kerja, dan sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jangan salahkan jika ia mencari wanita lain.

Aduh, diancam! Wahai saudari-saudariku, bersiaplah menjadi ‘pembantu’… *semoga mereka sadar ikut membantu meringankan pekerjaan-pekerjaan itu.

Wanita yang baik juga pasti TA’AT pada suaminya. Jika diminta untuk mencuci, ya nyuci. Jika diminta untuk masak, ya masak. Jika diminta untuk menyetrikakan baju, ya nyetrika… dsb…

“”Makanya, suatu saat jangan mau bersuamikan laki-laki PEMINTA-MINTA!” ujar Puch”

Ups, No comment…  ^.^’

Fenomena membludaknya jamaah

12 Juli 2013

Bahagia sekali melihat masjid ini makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

Usai silaturrahim ke Bu Dukuh sampai lewat waktu berbuka, kuputuskan untuk menunaikan shalat maghrib di masjid Baiturrahman Mulungan Wetan. Tempat saya dan adik-adik SD hingga SMP biasa berkumpul malam mingguan dulu kala. Sekarang sekali waktu.

Bahagia sekali melihat masjid ini makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

Mataku membulat tak percaya. Melihat kembali adik-adik yang dulu sempat kubina. Mereka datang lagi ke masjid berombongan. Mata kami saling bertemu, saling melepas rindu.

“Nduk, Le… ke mana saja kalian….???”

“Mbak Yuliii….”

:’)

Usia mereka yang semakin dewasa, menyulitkan kami untuk bertemu kembali. Berkumpul bersama tiap malam mingguan bagi mereka sudah seperti ‘amalan anak kecil, anak TPA’. Mindset itu yang harus diubah! Dengan kondisi seperti sekarang ini, pertanyaannya adalah; How?!

Bahagia sekali melihat masjid ini makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

Ramadhan menyatukan kita semua… menyatukan kaum muslimin dalam shaf-shaf yang rapat dan padat di masjid-masjid… ramai-ramai melantunkan asma-Nya…

Tapi, setelah Ramadhan berlalu?

😥

Bahagia sekali melihat masjid-masjid makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

 

 

 

 

 

SURVIVE!

“Kamu tidak tulus…”

Cukup. Cukup. Dan cukup.

Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Dari mana ia tahu urusan hati orang lain?

OK, well… jujur, saya sedang sangat sangat saaangatt sedih dan merasa … *tak terkatakan… karena kata-kata itu… Telah berhari-hari kesulitan mengendalikan kelenjar air mata untuk tidak mengeluarkan airnya. Tapi nihil. Tiap kali menengok ke suatu arah, berusaha mengalihkan perhatian, menghilangkannya, ia malah hadir menggenangi pelupuk mata. Hingga sembab. Hingga meler, sesak, flu, nyeri di perut, pusing. Jelek. Tidak bolehkah meruahkan semua?

Ya, TIDAK BOLEH!

Ternyata selama ini, mata air yang mengalir ‘terasa tulus’ terlimpah mencari muaranya melalui ucapan dan tindakan malah berarti lain baginya; mencekik, mengekang kebebasannya untuk bergerak, mengganggu hidup sang muara…

ingin kuminta satu hal lagi, untuk memperjelas semua.. tapi itu hanya akan merusak ritmik gelombang muara… sudahlah…

Ingin rasanya membenamkan diri, ditelan bumi, dan tak ada orang lagi yang mengingatku pernah ada di muka bumi ini. Fiuhhh, dasar sisi melankolis! Sudah kubayangkan dalam pikiranku menutup semua akses yang menghubungkanku dengan orang-orang; mengganti nomor telpon genggam, ganti alamat e-mail, tutup blog, tutup akun jejaring sosial. Dan… beres! Aku akan benar-benar menghilang!!!

Tapi buat apa hal tersebut kulakukan? Akankah mengorbankan banyak hal, banyak hubungan yang telah terjalin, hanya karena satu orang atau karena sesuatu yang terjadi?

TIDAK!

Biarlah saya tetap menjadi diri sendiri yang membuka diri dengan orang-orang seperti apa adanya mereka mengetahui seperti apa diri saya. Sama seperti yang kulakukan dulu-dulu. Posting blog seperti biasa; supaya anak cucuku bisa membaca&mengambil pengalaman-pengalaman berharga nenek moyangnya (walaupun ada yang konyol& melow-melow), dan menulis memang salah satu hobiku, caraku menumpahkan cipta-karya-rasa. Juga pasang status &ikut komen jejaring seperti biasa; menyambung silaturrahim&mencari info-info penting. Dan mencoba untuk bersikap biasa kepada siapa saja, semuanya, tidak terkecuali, demi silaturrahim. Yah, semoga semua bisa kulakukan seperti biasa.

Jujur, aku malu, tapi lihatlah, aku memang bebal. Naluri survival-ku muncul. Aku harus bertahan dan terus ‘hidup’. Aku tidak ingin air mata yang selalu berlomba-lomba keluar akhir-akhir ini menghambat hubungan sosialku dengan orang-orang di sekelilingku. Banyak aktivitas produktif yang harus dilakukan dengan S-E-N-Y-U-M-A-N 🙂 ketimbang dengan wajah buruk yang meringis sakit menahan tumpahnya air dari kelenjar air mata. Please, JANGAN JADI PEREMPUAN CENGENG! Syukurlah, lingkunganku tidak mengijinkanku ‘mati’ hanya karena sakit.

Biarkan. Biarkan hati sembuh sendiri tanpa air mata lagi. Setelah kumohon, biarkan Zat Yang Mahamenyembuhkan bekerja mereparasi hati yang terlanjur kroak. Atau seperti kata Tere Liye; tidak mereparasi, tapi…

menggantinya dengan hati yang baru :’)

TIDAK. ULANGI. Tanpa tanda kutip (‘)

Tapi…

menggantinya dengan hati yang baru 🙂

 

LIFE IS BEAUTIFUL

HIDUP TERLALU INDAH UNTUK SEKEDAR DITANGISI BUKAN?

=)

Kudeta Mesir: Kejahatan Kemanusiaan dan Pengkhianatan Demokrasi Terbesar Abad Ini

Redaksi – Minggu, 7 Juli 2013 12:46 WIB

 Maneger Nasution – Komnas HAM RI

Komnas HAM RI mengecam keras kudeta militer di Mesir yang menggulingkan Presiden Mohamed Morsi yang terpilih secara sah melalui mekanisme demokrasi.

Saya mengecam sikap Barat dan Parlemen Eropa karena tidak “tulus“ menyebut penggulingan itu sebagai kudeta. Mereka mengabaikan nilai-nilainya sendiri dengan tidak menyebut intervensi militer di Mesir sebagai kudeta. Ini adalah tes ketulusan Barat dan Eropa telah gagal. Hemat saya kudeta itu adalah kejahatan kemanusiaan, pengkhiatan demokrasi, serta mengorbankan rakyat dan masa depan Mesir.

“Ini adalah kejahatan kemanusiaan dan sebagai pengkhianatan demokrasi terbesar abad ini“.

Kudeta militer ini akan menjadi bencana bagi masa depan Mesir. Militer yang tampaknya “mundur” dari politik setelah lengsernya Hosni Mubarak (Februari 2011) telah kembali melangkah ke arena kekuasaan. Kudeta militer ini telah menjadi intervensi penghancuran politik negara Mesir yang baru saja menghirup udara demokrasi untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Komnas HAM RI juga menyampaikan ucapan duka kemanusiaan atas jatuhnya korban 17 orang tewas dan lebih dari 460 cedera akibat dalam bentrokan pada Jumat, seperti yang dilaporkan Kementerian Kesehatan Mesir (Metrotvnews.com, 5/7)

Komnas HAM RI mengimbau kepada masyarakat dunia untuk mengutuk keras kudeta militer terhadap pemerintahan yang sah dan berdaulat di Mesir. Tindakan ini adalah pengkhianatan terhadap nilai demokrasi yang telah menjadi norma secara universal.

Saya menyayangkan standard ganda PBB melalui sekjend-nya soal kudeta di Mesir. Ban Ki Mon “membiarkan” kudeta di Mesir dan melihatnya sebagai bentuk pengungkapan kebebasan bersuara. Berbeda sekali saat kudeta militer di Niger (2010) Uni Eropa,  AS, dan Prancis menghimbau Niger dengan selekasnya memulihkan tata tertib UUD. Pada 2012 mereka juga mengecam kudeta militer di Afrika Barat, Mali. Gedung Putih juga mengecam keras kudeta militer di Guinea mereka mengecam militer Bissau yang merebut kekuasaan dari kepemimpinan negara sipil. Negara-negara barat juga setali tiga uang, pada satu sisi mengagungkan demokrasi, namun pada kasus Mesir hanya diam seribu bahasa. ”Lantas kenapa pada saat terjadi kudeta di Mesir  semua pada diam? Ada apa ini sebenarnya?”

Saya berharap Presiden RI memberikan (lagi) sikap lebih lugas lagi soal krisis Mesir ini, karena fatsun politik Indonesia adalah bebas aktif. Indonesia  harus berperan aktif dalam menciptakan ketertiban dunia sesuai amanah UUD 1945. [ ]

sumber: http://www.eramuslim.com

baca juga :

pidato-yusuf-qardhawy-di-aljazeera

ini-pernyataan-para-pendukung-mursi

allahu-akbar-30-juta-rakyat-mesir-turun ke jalan Dukung Mursi

MARI ATUR POLA MAKAN

MasyaAllah… nduuuk…

 

*saat menginap di Fathiya yang isinya anak-anak mahasiswa.

 

Berapa kali kamu makan dari tadi sore hingga malam ini? Sore makan nasi. Bakda maghrib makan nasi lagi. Bakda isya…. makan bubur oatmeal.

 

Kan mau belajar Teh…, persiapan energi!”
ckckck… itu namanya r-a-k-u-s. atau kamu sedang stress po? Belum juga belajar dan belum hilang laparnya makan yang pertama, sudah makan lagi. Lagi dan lagi.

nafsu makan

Tahukah engkau saudaraku?

“Seburuk-buruk tempat yang kita isi adalah P-E-R-U-T.” Kata Nabi.

Maka, tahanlah! Karena ia juga melatih kita mengendalikan hawa nafsu.

Jujur, kalau saya stress, atau akan datang bulan, porsi makan jadi lebih banyak dan lebih sering ingin ngemil. Jadi gendut, tak usah dipikirkan. Atau dipikirkan nanti sajalah. Tapi sebaliknya, jika stress-nya berat, sangat banyak pekerjaan, atau merasakan kesedihan yang mendalam, sulit rasanya untuk makan. Jadi lebih kurus? Ya, itulah yang dikatakan orang-orang. Senang dibilang kurus? Tidak. *Apalagi jika terlalu kurus. Senangnya dibilang “ideal” ^^’

Ternyata, memang ada FAKTA ILMIAH PASANG SURUT NAFSU MAKAN…. kaitannya dengan stress dan emosi… baca artikel ini http://www.gosipartisindonesian.com/2013/06/stress-meningkatkan-nafsu-makan.html

Ternyata saudaraku, pola makan yang tidak teratur juga dapat menyebabkan dampak-dampak tidak positif. Berpengaruh pada lambung, tubuh yang menjadi lebih kurus atau menjadi lebih gemuk, paling parah, bisa menyebabkan kanker hati/ usus!!!

Ingat sebuah nasyid yang didasarkan sabda Nabi?

“Sepertiga dari perutmu isilah dengan …

Sepertiga dari perutmu isilah dengan …

Sepertiga dari perutmu isilah dengan…

“Tidaklah anak Adam memenuhi kantung yang lebih buruk dari perut.

Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya.

Namun jika ia harus (melebihinya),

hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan,

sepertiga untuk minuman,

dan sepertiga lagi untuk bernafas

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah. Dan At-Tirmidzi
berkata, “Hadits Hasan”

 

Mari, kita atur pola makan kita agar tidak ada sesal di kemudian hari. Yuk marii… ^^

PUTRI DALAM CERMIN

Masa tidak ada yang percaya umur saya 17 tahun?! ^^’  Kecuali mahasiswa dan bapak polisi yang satu ini.

Ikut mengantri menemui ketua yayasan, “Baru mau masuk kuliah ya?” lontar mahasiswi yang belum saya tahu namanya ini. What?!!! 

“Yang hilang TRANSKRIP NILAI? S1? Mbak sudah lulus kuliah to?” Sudah tahun 2011 lalu lulus S1 Pak… “Saya kira baru lulus SMA…” What???!!!

Jadi terharu… saya tampak imut mungkin ya… di mata mereka berdua. *Yes ^0^!

***

Putri dalam cermin

Ini bukanlah cerita tentang ibu tiri Putri Salju yang jahat dan cermin ajaibnya. Ini adalah kisah Si Gadis biasa dari kalangan rakyat jelata yang sedang mematut-matut diri di depan cermin… cermin kecil coklat tua dengan ukiran meliuk-liuk indah. Pahatannya halus. Serupa bunga dan daun yang menjulur di taman.

Si Gadis bergumam-gumam sambil mematut-matut diri…

Wahai cermin, siapakah yang paling cantik di dunia?

Si perempuan bertanya pada cermin meniru ibu tiri Putri Salju. Percuma sebenarnya Si Gadis bertanya. Selain cermin adalah benda mati, jelas-jelas ia juga tidak bisa dibilang cantik menurut parameter kecantikan dunia saat ini jika cermin bisa menjawab. Definisi gadis cantik: kulit putih tanpa jerawat+noda, pipi merona, hidung mancung, bibir merah dengan balutan lipstik, bulu mata panjang dan lentik, kelopak mata warna warni dan bla bla bla… dan gadis ini… jauh dari semua itu.  Ajaib! Si cermin menjawab ;

Wahai gadis, sebenarnya aku suka kau yang dulu

Hah?!

Si Gadis terkejut. Sebelumnya, sepanjang hidupnya selama 25 tahun berlalu, cermin itu tidak pernah menjawab gumaman-gumaman si Gadis. Konon, cermin itu telah menemani keluarga Si Gadis turun temurun. Kini, cermin itu ada di tangannya.

Rupanya, Si Cermin sudah tidak tahan dengan perubahan si Gadis. Ia sangat merindukan gadis kecilnya yang bersih… *meskipun dengan kulit kecoklatan. Hatinya memancarkan aura yang bersinar terang dan menyenangkan orang yang melihat wajahnya–yang meskipun jauh dari parameter cantik jaman ini…

Sorot mata yang hangat…

Senyum yang tulus….

Dahi yang jarang sekali berkerut karena urusan duniawi…

Terlahir dari hati yang pasrah, bersih, harapan-harapan penuh pada Rabb, menerima apapun putusan-Nya dengan lapang

Sekarang?

Ke mana hatimu yang bercahaya?

Pancaranmu begitu redup

Apa yang membuat hatimu seredup ini?

Gadis, kau mengharapkan dunia terlalu banyak

Sudahlah…

Berkali-kali kukatakan… bahwa Dia, perhatian-Nya, kasih sayang-Nya yang selama ini terlimpah untukmu, dan apa yang ada di sisi-Nya jaaaaaaaauhhhh lebih baik dari dunia dengan seisi-isinya sekalipun.

Si gadis tertunduk, “Wahai cermin ajaib, akan kuusahakan mengembalikan hati putihku…”

cermin

Saat telah maklum, terbiasa, dan akhirnya pasrah dengan panggilan

‘Bu’

 oleh nyaris semua orang…

Usia telah mencapai derajat ibu-ibu ternyata ^^

Cooking Academy Series #2

4 Juli 2013

Hiks… daripada menggalau setelah melihat pengumuman seleksi beasiswa BPPDN DIKTI 2013 tadi malam, mending lanjut belajar masak lagi yuk. *PASTI SEMUA RENCANA-NYA YANG TERBAIK, THE BEST!

Waktu libur ustadzah semakin sempit. Muali dari tanggal 1 Juli, tanggal 6 Juli sudah harus masuk kantor. 6 Juli? Anak-anak mulai masuk kembali ke pondok tanggal 13 Juli. 13 Juli? What a short holiday right?!

Kali ini, belajar masak…

SAYUR BAYAM+IKAN ASIN+SAMBAL

SAYUR BAYAM

 

Bahan : Sayur bayam, wortel, oyong, bawang puti, bawang merah, garam, gula pasir, penyedap rasa

 

Cara:

  1. Panaskan air di atas kompor
  2. Potong-potong seluruh bahan
  3. Masukkan bawang putih, bawang merah, dan wortel terlebih dahulu
  4. Setelah wortel terasa empuk, masukkan daun bayam dan oyong hingga layu
  5. Tambahkan garam, gula, dan tomat secukupnya
  6. Cicipi, matikan kompor, sajikan 🙂

 

 

IKAN ASIN

 

Bahan : ikan asin, minyak goreng

 

Cara :

  1. Panaskan minyak secukupnya hingga panas
  2. Masukkan ikan asin  hingga matang
  3. Angkat, tiriskan, sajikan 🙂

 

SAMBAL

 

Bahan : Cabe, bawang putih, garam

 

Cara:

  1. Siapkan ulekan
  2. Masukkan semua bahan, gerus
  3. Sajikan dengan senyuman 🙂

 

 

NB: Untuk menggoreng ikan asin, api cukup dinyalakan kecil saja supaya tidak cepat gosong dan sedikit mengeluarkan asap. Hati-hati dengan letupan-letupan kecil minyak *ini yang tidak saya suka dari memasak >.<

Ternyata mudah… 🙂

Waktu yang dibutuhkan untuk menyajikannya, dari jam 07.00-07.40, sedikit kemajuan 🙂

Selamat menikmati 🙂

 

SEBAIK LELAKI & SEBAIK WANITA #3

#3 SEBAIK LELAKI 

 

Lelaki TERAGUNG di jiwa wanita,

 

bukan cuma yang rajin shalatnya, melainkan yang ketekunan ibadahnya membuahkan akhlak mulia.

 

 

Lelaki TERSHALIH bagi wanita,

 

bukan sekedar yang banyak ilmu agama dan hafalan al-Qurannya, melainkan yang kedua hal itu teterjemah di kepribadiannya.

 

 

Lelaki TERSHALIH bagi wanita,

bukan yang sekadar banyak ilmu agama dan rajin ibadahnya; tapi juga yang paling mulia akhlaknya.

(Salim A. Fillah)

SEBAIK WANITA 3# 

Wanita yang ditakjubi malaikat itu berilmu dan berkeadaban;

dibaringkannya sang suami di pangkuan, disimak dan dibetulkannya hafalan al-Quran.

 

 Wanita yang dirindu surga,

 

tuan putri para bidadari; ditunaikannya amanah Allah lahir dan batin; sebagi anak, saudari, istri, ibu, dan nenek.

 

 Wanita yang tak disudi neraka;

 

syaitan gigit jari oleh syukurnya, putus asa oleh istighfarnya, tepok jidat oleh ridha suaminya.

 

 

(Salim A. Fillah)

 

PANTAI GLAGAH INDAH

Kali kedua menginjakkan kaki di tempat ini. *Entah mengapa tempat dengan latar beton-beton yang disusun untuk menahan gelombang laut yang ganas ini menjadi salah satu tempat yang terasa istimewa. Membawa memori.

Pertama kali bersama teman-teman (lebih tepatnya; adik-adik) Kelompok Studi Profetik Farmasi tahun 2010an *kalau tidak salah.

And here it’s… the best shoot I like! ^^

DSC01850

it’s so funny… isn’t it? ^^

Kedua kali… ya kali ini. Bersama keluarga besar PPM Baitussalam (benar-benar besar; karena masing-masing karyawan boleh mengikutkan istri/suami &semua anak-anaknya).

IMG_0422

Jika mencapai target, 230 orang ikut serta. Tapi sayang hanya separuh yang turut dalam acara *padahal isinya seneng-seneng…

IMG_0500

kemah kita 🙂

IMG_0425

IMG_0519 IMG_0550IMG_0513

Nasib jadi bujangwan dan bujangwati (baca; gadis/perawan/jomblo/single/… jelas? -red); kita benar-benar dicuekin di acara ini. Full lomba, full untuk keluarga; Lomba pasang tenda keluarga, smart family, kreasi jilbab ibu dan anak, futsal sarungan bapak-bapak, lomba kelereng anak-anak, lomba masak kelurga, pentas seni anak-anak, bakar jagung *kalau yang ini bujangwan bujangwati boleh ikut ^^’, dan terakhir… susur pantai Glagah indah bersama…. keluarga. Mari keluargaku, bujangwati… kita GJ bersama  :’D

IMG_0333

smart family

IMG_0347

Bu Bekti’s Family ^^

IMG_0364

Bu Baety’s Family 🙂

IMG_0365

Ust. Ali’s family 🙂

IMG_0366

Usth. Qibty’s Family 🙂

IMG_0380

ayoo… injak balonnya !!!

IMG_0391

Be careful dek kelerengnya….

IMG_0399

futsal sarungan ^^

IMG_0441

senangnya masa bersama keluarga :’)

IMG_0450

masakan ngasal bujangwaties; “maklum akhwat” ^^’

IMG_0480

ini baru masakan betulan… (keluarga siapa ya?)

Jadilah bujangwan bujangwati memisahkan diri masing-masing, luntang luntung, GJ bersama, juga tak ketinggalan… disuruh ini disuruh itu oleh panitia *alhamdulillah, ada kerjaan.

IMG_0534

Satu peristiwa yang tidak akan terlupakan; ketika hujan malam-malam sehingga tenda kebanjiran dan esoknya, terjadi suatu peristiwa!

;ombak yang tinggi menyeret saya dan teman-teman ketika berfoto, saat ingin mengambil gambar orang dengan latar ombak tinggi. Dan tahukah? Saat terseret sampai jauh…sampai basah kuyup… tepat di depan kami, siapa yang datang…? tebak?! Ustadz-ustadz! Dengan wajah menahan tawa dan ada yang terang-terangan menertawakan *Ustadz Aqil ki…  o>.<o

Wah! Benar-benar… pengalaman mengasyikan sekaligus memalukan yang tidak akan terlupakan! *kalau tidak mau dianggap anak kecil, saya mau lagi dibawa ombak bermain-main ^^’ Ustazdah Ana sudah siap-siap membuka mulut mengomentariku “Bu Doseen…. Bu Dosen. Ckckck…” #sambilgeleng-geleng. Memangnya tidak boleh po? #wajahtanpadosa…

Info

Tiket masuk  Rp.3000,-