Ayez & Aktur :)

Lama  tidak menuliskan sesuatu. Mandek oleh otak yang full dan aktivitas fisik yang melelahkan.

Posting tulisan yang dulu pernah kutulis ini saja Ok?!

***

Lucunyaaaaa anak-anak ini….

Tidak ada anak kecil yang tidak lucu. Setuju???

Termasuk yang dua ini :

Antares Al-Farisi Zaman & Arcturus Al-Farabi Zaman

Keduanya adalah anak dari Bu Dwi, Kepala Prodi di tempat saya bekerja. Beberapa kali mengunjungi rumah beliau dalam rangka membicarakan persiapan-persiapan sebelum perkuliahan dimulai, beberapa kali itu pula bertemu dengan Ayez ddan Aktur.

Antares = Bintang paling terang

Arcturus = Bintang paling besar

“Ayah keduanya memang pecinta astronomi,” ujar Bu Dwi.  “Kami pun tidak ingin membeda-bedakan anak-anak termasuk nama. Karena suatu saat salah satu atau mungkin keduanya akan menanyakan apapun yang telah kita perbuat pada mereka. Mengapa kakak diperlakukan begini, tapi adik diperlakukan begitu?”

Aktur masih bayi, baru terlahir sekitar sebulan yang lalu. Sering menangis akibat dijahili kakaknya; Ayez. Barangkali pelampiasan rasa cemburu karena perhatian Bundanya tersedot pada Aktur.

aktur
aktur 🙂

Meski usianya baru 3 tahun, Ayez tampak sangat cerdas. Tutur katanya jelas, perilakunya saja sudah seperti orang dewasa; terkadang sok menasihati “Yang sabar ya…”  ^.^

*belakangan, baru kuketahui bahwa ternyata Ayez sering dijadikan model anak cerdas tapi cerewet oleh para mahasiswa psikologi UGM dan UII. Dan ia memang betul-betul menjadi bintang dimanapun berada; di rumah, di sekolah, di keluarga besarnya…

Kulitnya putih bersih *mandi saja bisa tiga sampai lima kali sehari karena memang kulitnya sensitif debu dan keringat. Kedua pipinya gembul merona. Matanya bulat bersinar dengan sorot kecerdasan di atas rata-rata. Rambutnya hitam legam dan jigrak. Badannya tegap seperti ayahnya.

ayez
ayez

***

Melihat Ayez; teringat seseorang;

ibu…

Yang gurat-gurat di wajahnya mulai menjelas. Yang satu persatu timbul warna abu di antara helai rambutnya… sorot matanya begitu banyak menceritakan harapan-harapan penuh pada putri semata wayangnya. Tapi aku tahu, ibu selalu bisa bersabar… Sabar ya Bu… 🙂 *meniru gaya Ayez ^^

ayez.

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (30)

TIGA PULUH

Anak-anak sudah datang ke Pondok. Pondok kembali ramai setelah dua pekan hanya suara-suara jangkrik yang menyeruak di malam-malam libur lebaran.

Kembali beraktivitas sebagai santri, kembali meninabobokan mereka dengan kisah-kisah sahabat, nabi, dan kisah-kisah hikmah lainnya. Meski beranjak remaja, mereka tetap menyukai kisah yang dibacakan Delya menjelang tidur. Jangankan anak-anak atau remaja. Orang tua pun masih senang mendengarkan kisah-kisah; termasuk Delya.

Sudah berapa puluh kisah yang Delya bacakan pada anak-anak didiknya menjelang terlelap. Ini adalah momen yang penting. Karena tidak setiap saat Delya bisa membersamai mereka, apalagi saat ini. Meskipun badan lelah setelah seharian bekerja, Delya berkomitmen; harus menyempatkan diri minimal tiga kali per minggu membacakan sebuah kisah.

Konon, dongeng-dongeng/ kisah-kisah akan memberikan pengaruh pada tumbuh kembang mental & pribadi anak di masa mendatang.

***

Pengaruh Cerita Dongeng Anak terhadap Mental dan Prestasi Bangsa

David McClelland, seorang pakar psikologi sosial, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyimpulkan sebuah teori bahwa cerita dongeng untuk anak sebelum tidur sangat mempengaruhi prestasi suatu bangsa. McClelland memaparkan penelitiannya terhadap dua negara terkuat abad 16 yaitu Inggris dan Spanyol.

Cerita anak di negara Inggris kaya akan muatan spritualitas dan motivasi untuk maju. Sebaliknya, Cerita anak di Spanyol penuh dengan muatan yang membuat anak terlelap dan ternina-bobokan. Dari begitu banyak cerita dari berbagai negara yang dikumpulkan McClelland dan kemudian diteliti, menunjukkan bahwa negara yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi adalah negara yang memiliki cerita dongeng anak mengandung need for achievement (kebutuhan berprestasi) yang tinggi.

Cerita si Kancil dan Mental Bangsa Indonesia

Kemudian salah satu guru besar Fakultas Budaya Universitas Indonesia, Ismail Marahaimin, mengungkapkan hasil penelitian yang senada. Dongeng si Kancil Mencuri Mentimun yang sangat populer di Indonesia bisa jadi adalah salah satu penyebab bobroknya mental pemimpin bangsa. Kancil mencerminkan tokoh yang cerdas tapi licik. Secara tidak disadari cerita ini akan melekat dalam alam bawah sadar anak-anak bahwa mental tokoh seperti kancil patut ditiru.

Oleh karena itu, perlu digalakkan kembali dongeng anak-anak yang memotivasi untuk berprestasi, yang mendidik dan menumbuhkan keinginan untuk maju.

Tugas Para Penulis, Pendidik, dan Orang Tua

Sudah selayaknya menjadi tugas para penulis Indonesia, untuk menciptakan cerita-cerita anak yang bermutu. Jika mulai hari ini saja Indonesia mampu menerbitkan karya sastra anak seperti yang dimiliki Inggris, maka jika merujuk pada penelitian McClelland, 25 tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh pesat.

Tentu hal ini juga tidak terlepas peran dari para pendidik dan orang tua, untuk membiasakan siswa dan putra-putrinya membaca cerita dongeng anak yang bermutu, yang mengandung semangat berprestasi lebih banyak lagi. Karena disadari atau tidak, mental bangsa beberapa tahun ke depan, adalah sangat dipengaruhi oleh mental yang disiapkan untuk anak-anak sekarang.

Para pendidik dan orang tua hendaknya benar-benar memilihkan bacaan-bacaan yang bagus untuk anak dan bisa dibacakan sebagai pengantar tidur atau saat anak mengalami kejenuhan belajar.
(sumber : http://www.anneahira.com/cerita-dongeng.htm )

 

 

***

Delya, meluangkan sedikit waktu untuk mendongeng bukanlah hal yang sulit. Apalagi sekarang kamu tidak sering membersamai mereka. Lakukanlah untuk anak -anak, hanya beberapa menit untuk membantunya mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya, dan kamu akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan mereka 🙂

 

 

‘Ied Fitri 1434 H

Fiuhhh… karena mobil masih di dialernya ^^, di rumah hanya ada satu sepeda motor, maka berlelah-lelah-lah kami menggunakan jasa angkot dan ojek untuk bersilaturrahim ke keluarga Ama di kecamatan sebelah; Talaga, Majalengka. Melalui jalan turun naik dan berlubang-lubang masyaAllah bagusnya! Ditambah jembatan terputus dalam rangka perbaikan sehingga harus memutar dan melewati sasak (jembatan bambu) untuk menuju rumah terjauh. Tapi pemandangan indah bebukitan, sungai, pepohonan, dan air terjun menebus semua lelah.

Di Indonesia, momen ‘Idul Fitri memang menjadi ajang silaturrahim, sangat meriah. Berbeda dengan di Arab Saudi yang lebih meriah Idul Adhanya ketimbang Idul Fitrinya.

Tidak seperti di Jogja/ Jawa. Di keluarga, tidak ada tradisi kumpul Trah. Maka, jarang sekali bertemu keluarga besar kecuali saat Idul Fitri. Jadi tidak hafal siapa saja saudara-saudara sekeluarga seluruhnya.

CATAT…

 

Keluarga Ibu

(Eni Ule Julaeha& Aki Abdul Rosyid)

Tempat Tinggal

1 Endis Firdaus (Uwa Endis) & Uwa Ati

  1. Munira Firdaus (Kak Ira)
  2. Muhammad Thoyyar Firdaus (Abang -alm)
  3. Zanira Firdaus (Neng Kike)

 

Bandung, Jabar
2 Iyan Ruhdiyan (Uwa Yoyon) & Uwa Ati

  1. Fanny Dwiphoyanti (Teh Fun)
  2. Sena Avicena (Aa Sena)
  3. Nabila Emirotul Mufidah (Neneng)

 

Maja, Majalengka Jabar
3 Ene Junaeriyah (Ibu ^^) & Pak Pepen (Ama)

  1. Yuli Nurullaili Efendi (Teh/ Dek Leli)
  2. Ahmad Mudzakkir Effendi (Ahmad)
  3. Abdul Basith Effendi (Nde)

 

Maja, Majalengka Jabar
4 Edin Sofarudin (Mang Edin) & Bi Nur Hasanah

  1. Rain Dzikro Ghaitsa
  2. Hanum
  3. Hammas Rail Ghaza
  4. Raghiba

 

Sadawangi, Majalengka Jabar
5 Uun Unaenah (Bi Uun) & Abah

  1. Abdurrahman Faiz
  2. Ahnaf Alfath
  3. Thoriq Fasya
  4. Muhammad Rijal
  5. Muhammad Yusuf

 

Purwokerto
6 Elin Maslina (Mang Elin) & Bi Lilis

  1. Gilang Praha Zulfikar (Yayang)
  2. Safira

 

Kadipaten, Majalengka Jabar
7 Emak Maxtalina (Mang Emak) & Bi

  1. Muhammad Khaitam (Deden)
  2. Ihsan (Ican)
Garut, Jabar
8 Rosyida Nur Hamidah (Bi Ucu) & Mang Bakrie

  1. Nadila Salsabila
  2. Adin
  3. Azzam
Solo

 

Itulah, secara usia, saya cucu tertua di keluarga ibu. Kedua, Teh Fun (beda lahir sebulan tok). Saya pribadi lebih dekat dengan keluarga Ibu. Mungkin karena pola hidup yang lebih sama, lebih nyaman. Mungkin juga karena tempat tinggal kami yang sewilayah dengan keluarga Ibu.

 

Keluarga Ama

(Siti Rohmah-Eni Empo & Aki Qomaruddin)

Tempat Tinggal

1  Arnali (Uwa Nali) & Sarminah

  1. Ceu Dadah

(3 putra)

  1. Ceu Jojoh

(5 putra)

  1. Ceu Roroh

(….)

Cilengsar, Talaga, Majalengka
2 Inoh Aminah (Uwa Inoh) & Makdum (alm)

  1. Ceu Iing

(1. Yayah, 2. … , 3. …)

  1. Ceu Nunung

(1. Ima, 2. … , 3. …)

  1. Ceu Emem

(2 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
3 Uju Juwariyah (Uwa Uju) & Syahmudin

  1. Momon Suparman

(1. Asep Wildan, 2. Nurul, 3. Nisa)

  1. Mamah

(3 putra)

  1. Usep Syaifuddin & Imas

(1. Mia, 2. ….)

  1. Abdul Kholiq

(2 putra)

  1. Opik Taufiqurrohman

(2 putra, 2 kembar -alm)

  1. Mimih

(2 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
4 Emah (Uwa Emah) & Makbul

  1. Mujtahidah

(1. Inun, 2. …., 3. …., 4. ….)

  1. Abdul Harist (Endun) guru MAN Talaga

(2 putra)

  1. Iin

(3 putra)

  1. Aa Iyan Tentara Bandung

(2 putra)

  1. Ipah

(3 putra)

  1. Asep

(1 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
5 Eman Sulaiman ( Uwa Eman) & Aah

  1. Baban
  2. Dedeh

(1 putra)

  1. Awal
  2. Risna
  3. Aceng (Ceceng)

 

Campaga, Talaga, Majalengka
6 Cicih Sukaesih (Uwa Icih) & Pupung

  1. Nunung

(1. Syifa, 2. …)

  1. Dede

(3 putra)

  1. Ii

(2 putra)

  1. Iah

(3 putra)

  1. Asep

 

Sadahurip, Talaga, Majalengka
7 Aah Muawwanah (Uwa Aah) & Abdul Ajid

  1. Yoyoh

(2 putra)

  1. Dedi

(2 putra)

  1. Iman

 

Campaga, Talaga, Majalengka
8 Epen Supendi (Ama) & Ene (Ibu)

  1. Yuli Nurullaili Efendi (Teh/ Dek Leli)
  2. Ahmad Mudzakkir Effendi (Ahmad)
  3. Abdul Basith Effendi (Nde)

 

Maja, Majalengka

 

Baru itu yang saya tahu dari Ibu dan Ama. Nanti ditambahkan lagi. Oya, di keluarga Ama, rata-rata sudah berkeluarga. Bahkan saya punya panggilan Eni (Nenek) dari cucu (anaknya anak alo –sepupu- ^^’)

***

Hal paling menyebalkan ketika ditanya-tanya. Nyaris di  S-E-T-I-A-P  tempat dan waktu dan S-E-T-I-A-P saudara/tamu yang didatangi atau mendatangi;

“Teh/ Dek, kapan nikah?”

“Duh sudah perawan si Teteh teh, mana calonnya? Orang Jogja ya? Atau orang sini?”

“insyaAllah, nanti Uwa datang ke Maja-nya kalo nikahan si Neng ya…”

“Bu, kapan hajatannya?”

^^’ hanya bisa menyediakan sesungging senyum *apakah tidak ada topik lain? Misalnya; kerja di mana? Jadi lanjut S2? Apa saja aktivitas di Jogja?

;; Ibulah yang menyediakan tameng; “Belum dikeluarkan jodonya Wa…” juga dengan senyum termanis ibu.

Maka, setelah melewatkan satu tiga rumah Uwa-Uwa, di rumah Uwa selanjutnya,  bersiap menahan nafas dan menyunggingkan senyum termanis, lalu mengangguk-angguk saja saat ditanya; “Kapan nikah?” *Belajardaripengalaman

Begitu juga pertanyaan SETIAP teman-teman SD di Desa Sadasari yang kukunjungi. Rata-rata semua sudah menikah dan beranak pinak; “Kapan….??? Tahun depan kalo ke sini bawa gandengannya ya?!” *Hmmmm… tidak ada yang bisa memaksakan takdir.  “Iya Teh… temennya Ahmad (adek) juga walimahan bulan depan. Kalo di sini, sudah kerja ataupun belum, kalo siap nikah ya nikah saja.” Ujar Bi Erah. *Begitu sederhananya pikiran orang-orang di sini. Sementara orang-orang kota, orang-orang berpendidikan tinggi,  cenderung berbelit-belit, mempertimbangkan banyak hal dalam berpikir dan memutuskan banyak hal .

Jika tahun depan belum menyiapkan  j-a-w-a-b-a-n, jadi malas untuk kembali berkunjung ataupun dikunjungi…

Tambah lagi,

Teh Fun; “Dek, kalo nikah nanti cukup salaman mengundang kerabat saja atau mau walimah besar-besaran di gedung?”

Apaan sih Teh?! *Mumet

sudahlah, kukembalikan semua padanya dan pada-Nya yang menanggung hatiku, hidupku, rizkiku, dan matiku…

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (29)

DUA PULUH SEMBILAN

Tidak terasa, ini akhir tahun kedua Delya berada di Pondok kedamaian. Membersamai anak-anak dalam suka dukanya.

Pada acara tutup tahun kali ini, selain wisuda siswa tingkat Kelompok Bermain sampai siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama, anak-anak lainnya unjuk gigi menunjukkan kebolehannya dalam seni di sela-sela prosesi wisuda.

Satu yang menarik.

Pertunjukkan Piano&Biola salah seorang siswi SD. Ia anak yang istimewa; pengidap down syndrom. Dengan ciri khas wajah bulat mongol. Butuh waktu lama untuk memahami informasi yang ia dapatkan.

Tapi, ia cerdas musical…

Terharu…

Hanya sekolah Pondok Kedamaian ini satu-satunya sekolah di Prambanan yang mau menampung anak-anak yang kurang beruntung dalam akademik. Rata-rata mereka tidak diterima di sekolah-sekolah negeri atau swasta lainnya karena tidak ‘pintar’.

Biarlah, para guru Pondok Kedamaian justru bangga jika berhasil memintar-kan anak-anak yang secara basic tidak pintar. Mendidik dengan cara yang JUJUR da menanamkan kejujuran pada anak-anak didik. Dan para guru pun menyadari, bahwa setiap anak istimewa…

***

Ada saja tingkah anak-anak. Masing-masing anak memang istimewa. Mereka memiliki ciri khas masing-masing.

Meta yang… subhanallah…. jika kebetulan berpapasan dengan Delya, ia tidak akan berhenti bertanya penasaran, atau bercerita aaaaapapun hingga waktu saja yang memutuskan ucapan-ucapannya (kecerdasan lingual).

Imah, ada saja gerakan dan sikap tubuhnya yang aneh-aneh. Banyak juga kejadian-kejadian lucu yang terjadi akibat sikap tubuhnya yang aneh-aneh itu. Tipe anak dengan kecerdasan kinestetik, juga interpersonal. Keluwesannya dalam bergaul membuat ia memiliki banyak teman. Ia pun hormat pada gurunya. Tak jarang jika bertemu Delya, ia segera menyambut dan menanti untuk memegang tangan Delya, menciumnya, mengusap-ngusapnya, memeganya dan tak mau melepaskannya “Bu guruuu… tangannya lembut sekaliii….” Tuing @@’ selalu.  Imah penggemar tangan Delya  “Mah, bawa saja deh tangan Bu guru…”  ^^’

Khodijah, ia anak kelas sembilan. Namun kharismanya sudah terpancar sejak saat melihatnya pertama kali, hingga teman-temannya pun tak ada yang tak menuruti apa katanya (gurunya bisa kalah dalam soal ini). Ia dewasa menyikapi segala hal (kecerdasan interpersonal dan moral).

Salma B, anak seorang ustadz terkenal. Secara akademis, ia termasuk siswi yang biasa. Tapi, ia sangat pandai menggunakan mulutnya untuk meniru suara-suara alat musik. Acapella. Maka, julukan untuknya sekarang adalah; Salma Big Box (kecerdasan musikal).

🙂

kecerdasan

Mereka generasi-generasi penerus bangsa. Calon-calon ibu penegak agama dan negara.

Delya, perlakukanlah mereka sesuai kemampuan akalnya, kecerdasannya…

ada juga (yang tega) :(

Minggu-minggu  2 Juni: ada juga (yang tega) 😦

Sudah berkaca-kaca, ingin menangis rasanya (masih saja cengeng!)….

Ada juga ya yang tega macam mas ini. Di tempat yang sama dengan kejadian hampir setahun lalu (masih ada), terjadi lagi insiden motor mogok. Kali ini Si Pinka* yang tidak mau diajak jalan setelah berhenti di perempatan UPN (Univesitas Pembangunan Negri). Tapi cerita lain terjadi… 

Setelah mondar mandir, tanya sana sini… dengan peluh bercucuran dan tenaga yang mulai menipis setelah mengikuti tes, +perut keroncongan, +siang bolong jam 11an lebih, akhirnya kutemukan sebuah bengkel di perempatan sebelah utara sekitar 500 meter dari perempatan UPN. Fiuhhh akhirnyaa….

Tapi…

“Kalau hari minggu kami hanya menerima jasa cuci motor mbak.” Jawab si Mas dengan santainya.

“Mas betul nih tidak bisa service-kan motor saya?! Ini mogok entah kenapa.” Kupasang wajah melas.

“Iya mbak, tidak bisa.” Titik.

Hiks, tega betul ini si Mas…

Pontang panting mencari solusi. Astaghfirullah… ponsel pun ketinggalan!!! Cerobohnya kamu Ly!

Alhamdulillah entah kenapa kemarin iseng mengecharge&memasukkan ponsel lama. Tinggal beli pulsa minta tolong pada teman-teman yang tinggal sekitar sini. Yoshi.

Setelah mencoba lagi menghidupkan mesin sepeda motor (masih di depan bengkel si Mas), hidup. Tapi… pett! coba lagi, hidup, tapi… pett!

Akhirnya, si Mas tergelitik. Entah kasihan atau penasaran “Mbak, coba saya cek… paling busi-nya”

Kenapa tidak dari tadi Maaaaaass…. T.T  *Gemas!

Walaupun akhirnya, Pinka tetap harus direlakan ditinggal di bengkel si Mas.

 

Pelajaran moral : Satu; Anda harus terlihat sangat kesulitan (baca:melaaaas) kalau mau ditolong oleh orang dengan tipe seperti si Mas. Dua; makanya belajar mengenal onderdil&service motor sendiri kalau tiba-tiba terjadi apa-apa di tengah perjalanan, bayangpun kalu mogoknya di gunung yang sepi&tidak ada siapa-siapa, apa-apa, apalagi bengkel. SMANGAT BELAJAR!

 

*Pinka= Pink kekar, julukan dari sahabatku Ukht Gita untuk sepeda motor Karisma yang sudah menemani perjalananku berbulan-bulan lalu, ‘karena pemiliknya suka pink ’ katanya #padahaltidaklagi, norak!

 

DEWI PULE TURI

Kamis, 18 April 2013 (Wirakarya SMPIT BAITUSSALAM)

 

IMG0628A IMG0634A IMG0636A IMG0638A

 

 

 

 

Perjalanan…

IMG0654A IMG0655A IMG0656A

Disambut dengan hangat oleh penduduk yang ramah tamah… lalu, kami  diberi kesempatan belajar mengolah salak 🙂

IMG_3793

IMG_3799

Bahan: mentega, kacang tanah, tepung, salak, gula serbuk *tapi…lupa cara buatnya (piye to? **’)

IMG_3804

Sayangnya, karena terjadi masalah di perjalanan hingga tiba di desa telat, maka hanya bisa mengikuti satu pelajaran olah salak.

IMG_3807

Tadaa…. WINGKO SALAK,  enak d^,^

 

Selanjutnya, usai dzuhur berjamaah, yuk mulai outbond!

IMG_3813

IMG_3834

Ini baru pemanasan…

IMG_3841

Gurunya tidak mau ketinggalan dong…

mumpung-mumpung ^^

Setelah ini, yuk susur sungai, basah-basahan!

IMG_3848

IMG_3858

IMG_3861

IMG_3876

IMG_3884

IMG_3889

IMG_3890

Puasnya poll. Sampai capek. Nasib saya, karena nakal tidak bawa baju ganti… sepanjang perjalanan outbond sampai pulang ke asrama, harus rela menggigil kedinginan dan berusaha mencari yang hangat-hangat. Entah itu dekat-dekat api unggun yang disediakan panitia, pegang-pegang tangan yang hangat, sampai memeras ujung baju, kerudung, rok, dan kaos kaki… dan untungnya, ada minuman penghangat badan resep asli penduduk desa ini. Asli, mak nyusss… namanya JESER (Jahe SEReh), saya sampai menghabiskan 5 gelas sepanjang berada di desa ini. Pertama, karena badan dan cuaca dingin. Kedua, karena enak. Ketiga, karena enak ^^

JESER

JESER

Dan terakhir, ada jalan-jalan, ada oleh-oleh. Ini dia oleh-oleh dari Desa Wisata Pulesari Turi

IMG_3903

Pangsit salak, wajik salak, wingko salak, bakpia salak

Semua yang ada di sini serba salak!

Dan yang lebih penting adalah oleh-oleh; pengalaman dan obat stress. Dan anak-anak, juga ustadz dan ustadzahnya, riang bergembira 🙂

*Baru ingat, ternyata saya pernah menjamah tempat ini empat atau lima tahun lalu saat masih menjadi mahasiswa. Dulu, belum ada pemandu wisata&kegiatan terorganisir serapi ini.

Acung jempol untuk desa wisata Pulesari ini d^^b http://desawisatapulesari.wordpress.com

Friends, it’s just a ring…

Masyaallah, astaghfirullah….

Entah bagaimana menyikapi semua ini. Kalau dipikirkan, dirasakan, pasti sakit, tidak karuan, sakit kepala dibuatnya. Sungguh lelah. Tapi, santaaiiiii…. cobalah tenang. Calm down plisss…

***

BAHAGIA sekali bisa dibonceng dari Prambanan menuju Jogja Kota. Oleh seorang sahabat. Ya, dobel bahagia. Pertama; karena dibonceng *BOSAN rasanya ke mana-mana sendirian mengendarai sepeda motor, malas, bahkan kecepatan tinggi pun tak lagi terasa ngebut. Jika kondisi di Jogja mendukung, lebih baik NGANGKOT ke mana-mana. Kedua; bahagia karena bisa menemani sahabatku ini mempersiapkan banyak hal menuju hari bahagianya bulan Juni nanti*tapi sedih rasanya, seperti akan ditinggalkan… lonely again…. 😥

Apa yang ingin kuocehkan kali ini?

Lagi-lagi gara-gara sebuah fase hidup…

Saat orang-orang di sekitarku mulai ribut-ribut berisik mengganggu ketenangan.

Entah itu Teh Fun (lagi) dengan SMS-nya :  “Dek, Bi Un tanya kpn nikah?”

Entah itu rekan-rekan kerja yang sering meributkan cincin yang kupakai, nyaris setiap saat : “Kapan Us?” @.@’

Entah itu anak-anak di asrama : “Ustadzah, katanya ustadzah mau nikah ya? Kapan Us? Nanti kita ditinggal dong….?!!!” *Hmmmmph… itu isu dari mana to? “Kata Ustadzah yang lain. Itu cincinnya juga, cincin tunangan ya Us….” No comment.

Entah itu janur kuning-janur kuning yang tak terhitung lagi jumlahnya terpasang di sepanjang jalan dalam perjalanan beberapa hari ini…. *maklum, bulan Rajab. Tunggu saja bulan-bulan selanjutnya; Sya’ban & Syawwal. HARUS bagiku, menyisihkan sebagian uang bulanan untuk walimah teman-teman.

Dan…

Ibu.

Di rumah Maja, saat terdiam usai shalat berjamaah di mushalla kecil rumah kami yang gelap… ibu, selalu mengusap pipiku. Saya tahu maksud ibu. Tidak ibu, Teteh tidak akan menangis hanya karena masa depan yang belum tersibak. Tidak…

“Sudah berapa umur Teteh? Sudah ada calon belum? Ayo dikenalkan…” ucap ibu sore tadi melalui telepon genggam. Hehe… masih rahasia ilahi Bu 🙂

“Suhunkeun ka gusti Allah atuh Teh….”

🙂 Belum berani Bu, khawatir tidak sesuai harapan Biarkan ia datang sendiri… *Nakal!!!

***

Sudahlah, calm down…

IMG_4569OK My friends, my sisters, look… it’s just a ring. There’s no meaning in it. I bought it by myself, just for amusing myself . I feel that i’m a true woman cause wearing it. So my friends, my sisters, calm down please… don’t disturb my equanimit, okey??? Really, i’ll not leave all of you soon ^^

*cincin ini menimbulkan fitnah. Well, i’ll put it until someone give me a lovely ring ^^

 

 

 

Antara Merapi-Lara Jonggrang: Pondok Kedamaian (27)

DUA PULUH TUJUH

Kabut-kabut putih dingin yang kerap menyelimuti desa tempat pondok kedamaian berada, pagi ini lenyap. Memberikan ruang bagi mentari untuk kembali menyapa bumi, pepohon, sungai, orang-orang, dan segala apa yang ada di atasnya.

Sosok perempuan di pinggiran bendungan yang tak lain adalah Delya tercenung mengingat hal-hal yang banyak terjadi di sini. Pagi ini, sambil menemani anak-anak didik mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya, Delya merenung. Betapa ia belum bisa menjadi ibu bagi anak-anak didiknya. Dan memang tak kan pernah bisa menggantikan sosok ibu mereka sedikitpun.

“Kami mengerti kok, Bu Guru sibuk….”

Perkataan mereka membuat mata Delya berkaca-kaca menahan haru, sesal, dan sedih. Betapa benar bahwa kehadiran menjadi salah satu kado terindah bagi orang-orang yang disayangi…

So how?

RATU BOKO

The true unforgettable moment, unforgettable place!!

RB gerbang3RB 2010

Akhirnya, setelah dua tahun berlalu, dengan memaksakan diri, kaki ini menginjak juga di bukit ini. Ratu Boko. Setelah setiap bangun tidur hingga akan tidur kembali, memandanginya saja dari jendela kamar, atau dari jendela kelas lantai tiga, menjadikanku kenal betul setiap lekukan- lekukan bebukit itu. Malam hari, ada satu dua titik cahaya lampu memancar dari resor-resor di bebukit itu. Dengan indahnya…

Waktu benar-benar berlalu. Menyisakan kenangan yang mengendap kronis. Sunset… Agustus 2010…

Pakaian Muslimah

Sebenarnya tidak banyak bangunan-bangunan/ benda-benda seperti biasanya di komplek candi-candi lain yang terlihat. Bangunan paling mencolok di komplek candi Ratu Boko ini hanyalah pintu gerbang dan tempat pemandiannya. Selebihnya, terhampar luas tanah lapang berumput hijau, Pendopo, Keputren, Kiara Pandang, dan Candi Pembakaran.

RB Taman

Rusa RB air mancur RB Amel 2

Meski demikian, komplek candi ini tak jarang dipakai untuk membuat film kolosal dan menjadi pilihan menarik untuk pasangan yang ingin berfoto pre wedding.

Menariknya lagi, jika biasanya kita mencari panorama sunset di pantai, di atas bukit inilah kita juga bisa menikmati pesona panorama jingganya sunset itu =), bulatan mentarinya, garis horisonnya, lalu kelap kelip lampu-lampu rumah di wilayah Prambanan dan sekitarnya saat mentari benar-benar telah tenggelam ke peraduan. Dari gemerlap kota hingga ujung kaki gunung atau bahkan ujung pantai. Romantic, indah, mempesona …

Kupikir, Ratu Boko cerdas, memiliki selera tinggi dalam memilih tempat yang nyaman.

Di atas bukit ini…

  RB gerbang2 RB Amel RB niceRB gerbang RB AMEL 3 RB IMG_2538 IMG_2536

Dan kunjungan kali ini benar-benar tidak akan terlupakan! Bersama Amel, setelah terburu waktu mengejar sunset yang ternyata bersembunyi saja di balik gumpalan awan… *memang sedang musim penghujan. Tiba-tiba saat mentari tepat tenggelam, angin kencang menggoyang-goyangkan pepohonan hingga menggulung-gulungkan awan di atas langit Ratu Boko, gelap, mencekam. Ayo, kembali ke tempat parkir!

IMG_2553 IMG_2552  IMG_2545IMG_2547

Adzan berkumandang. Berdua saling bergandeng tangan erat, sangat erat, mengusir takut yang menjadi. Apalagi setelah: pet… seluruh lampu mati sebelum sempat menginjakkan kaki di Musholla bagian dalam komplek gerbang Ratu Boko!!! Oh God… apa salah kami?! *belum pernah setakut ini menghadapi pekatnya dan ganasnya alam. Dalam gelap, dalam gerimis yang membesar menjadi hujaman hujan, dalam angin yang mengencang garang, kami terus bergerak. Mencari musholla lain di luar komplek gerbang, mencari sesuatu untuk berbuka&mengganjal perut yang keroncongan. Terus bergerak. Dalam keterjebakan. Hingga akhirnya…

Menikmati malam yang indah. Hanya berdua (*turis lain benar-benar sudah pulang!^^’). Dalam dingin dan gerimis. Romantis. Masih sama, seperti dulu… :’)

IMG_2587RB malem IMG_2575

Bokoharjo, 10 Desember 2012

Thank’s to Pak Satpam yang bersedia menemani turis salah waktu ini ^^’
Mel, it’s unforgettable moment. Really.
Ketika orang-orang hanya menceritakan kejadian dan pemandangan indah mempesona di tempat wisata, suatu saat, pada anak cucu, kita bisa menceritakan pemandangan indah mempesona Ratu Boko + kejadian mencekamnya. & Ternyata, di luar sekitar Ratu Boko telah terjadi angin puting beliung Mel !!!


Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (23)

DUA PULUH TIGA

“Nasi goreng! Nasi goreng!” pekik anak-anak.

🙂

Menu sarapan anak-anak pagi ini memang nasi goreng. Di satu sisi, senang rasanya Delya melihat anak-anak bersemangat untuk sarapan, sampai-sampai mereka berlarian segera mengambil piring di asrama masing-masing dan mulai mengantri mengambil jatah sarapan. Itu artinya asupan kalori dan gizi mereka tercukupi.

Di satu sisi, Delya jadi teringat akan masa-masa remajanya di asrama putri tempatnya menimba ilmu dulu. Teman-teman sekamarnya selalu heboh siap berebutan lauk saat menunya menggugah selera. Seru abis!!! Dan Delya terbengong sendiri saat temen-temannya mulai berkerubung memperebutkan jatah lauknya (padahal nanti juga kebagian satu-satu kok, mengapa harus berebut?! Pikir Delya ^^’). Jadilah Delya ‘alien’ yang menunggu bubarnya kerubungan makhluk-makhluk bumi itu.

Tahu apalagi yang Delya remaja pikirkan? She always think seriously; “Tidakkah mereka bisa berempati, saling berbagi dan mendahulukan saudara dalam masalah duniawi? Tapi tidak dalam hal ibadah (harus saling mendahului, berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah)?”

Agaknya, anak-anak juga perlu belajar EMPATI dan saling mendahulukan dalam masalah duniawi dari kisah yang kita kenal tentang tiga sahabat usai peperangan yang dahsyat ini. Tiga sahabat Rasul yang saling mendahulukan memberikan air minum pelepas dahaga, penentu hidup matinya raga. Saat sahabat pertama sejengkal lagi meminum air yang disodorkan, saat ia merintih sangat kehausan, dehidrasi,  sekarat, nyaris mati, terdengar rintihan haus sahabat lain “Berikan ia minum lebih dulu,” sahabat yang memegang air menuju sahabat kedua, dengan kondisi tak kalah mengenaskan, tapi terdengar lagi rintihan kehausan “Berikan ia minum lebih dulu,” ujar sahabat kedua. Sahabat pembawa air berlari menuju sahabat ketiga, namun terlambat. Sahabat ketiga tak lagi bisa bertahan. Ia menghembuskan nafas terakhir. Maka, sahabat pembawa air menuju sahabat pertama dan kedua. Tapi juga terlambat. Apa mau dikata, jika takdir sudah berkata…

“Berikan ia minum lebih dulu…”

RUMAH POHON

Blunyahrejo TR II/808 Yogyakarta

www.sirihmerahrumahpohon.com

Sebuah tempat makan lesehan unik. Untuk ukuran mahasiswa pas-pasan di Jogja, harga makanan di rumah pohon ini cukup mencekik.

Nasi putih                            3.500

Sambal-sambalan            ± 7.500

Jus-jusan/ es-esan          ± 6.000 s/d belasan ribu

Ikan-ikanan                        >20.000

Ayam-ayaman                   ± 10.000

*bahasa aneh ^^’

Sebenarnya, bukan harga bahan makanan yang membuat harga-harga tiap hidangan melambung tinggi. Tapi harga tempat dan suasananya-lah yang kita beli. Tempat yang unik, terbuat dari susunan bambu-bambu dan kayu, menembus dan terselip di antara ruangan-ruangannya beberapa pohon yang tumbuh meninggi mulai dari tanah hingga lantai dua bahkan tiga. + prestasi pemilik rumah pohon dalam mengembangkan tanaman sirih merah sebagai obat tradisional yang berkhasiat sehingga layak diapresiasi oleh Pak Presiden SBY.

Pengunjung dibatasi memakai tempat sampai lantai dua. Selebihnya, lantai lebih atas untuk para pemesan khusus dan membayarnya lagi lebih mahal. Mengapa? Karena dari lantai lebih tinggi inilah kita bisa melihat pemandangan kota Jogjakarta, sejauh mata memandang. Utara; Merapi. Selatan: pantai-pantai. Dikelilingi bebukit. Indah mempesona. Jogja… siapapun yang merindukan kedamaian, keindahan, budi pekerti, dan kesederhanaan sebuah kota, ia akan jatuh cinta padanya.

20 Oktober 2012

Perpisahan adalah keniscayaan setelah pertemuan, don’t cry honey… someday, we’ll meet again in a better condition insyaAllah 🙂

 

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (22)

DUA PULUH DUA

“Bu Guru beda. Bu Guru tidak seperti dulu lagi.” Ujar Ismi, salah satu anak didik Delya saat bertemu.

Kening Delya berkerut. Oya kah? Akhir-akhir ini memang lebih cerewet, melarang ini itu. Memerintah ini itu. Menjadi lebih garang. Mungkin hal ini asing bagi mereka, Bu Guru mereka berbeda. Kemudian Delya tertawa. “Kalian tahu? Bu Guru hanya ingin belajar galak (baca: tegas) pada kalian.” Demi kebaikan kalian.

“Mendidik  anak-anak seusia mereka itu memang harus juweh (cerewet), mengingatkan terus menerus, & tidak semua keinginan mereka harus dipenuhi.”

Ujar Pak Hakim, pemimpin Pondok Kedamaian. Coba.

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (21)

DUA PULUH SATU

Delya mendongkol di rapat guru kali ini. Setelah pemaparan study banding para Kepala Sekolah se-Sleman ke SMP 19 Jakarta, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), sekolah para anak-anak pintar dan bintang film, akhirnya tibalah saatnya membahas masalah anak-anak didik per wali kelas. Adakah yang bermasalah?

Lagi-lagi masalahnya ada di kelas 7B.

“Masih dengan masalah yang sama Pak. Saya mendapat laporan bahwa salah satu anak didik kita ini (sebut saja AM), sulit sekali untuk sholat, terutama shubuh.”

???

Delya menahan nafas. Ini yang paling tidak Delya sukai. Tahukah kalian? AM ini sangat jago melagukan al-Qur’an. Bahkan telah berhasil mengharumkan nama berbagai pihak, daerah, dan sekolah tempat dia menimba ilmu, termasuk nama baik Pondok Kedamaian. Dengan mengikuti berbagai lomba MTQ. Tapi secara akademis, ibadah, dan akhlak… jaaaaauhhh di bawah.

Semua guru sepakat untuk memanggil orang tua AM supaya bisa saling bekerjasama dalam mendidik AM. Karena apa yang terjadi pada AM ini adalah hasil didikan orangtua juga sebelumnya. semua hal pada anak adalah hasil pembiasaan dalam keluarga. Jika anak cenderung dibiarkan berbuat sekehendaknya tanpa pengawasan orangtua, begitulah hasilnya.

TIDAK BISA kita mendidik anak SETENGAH-SETENGAH/ PARSIAL. Meningkatkan satu sisi namun sisi  lain diabaikan. Apalagi jika yang diabaikan harusnya adalah yang diprioritaskan. Misalnya lebih mengutamakan mendidik anak agar bacaan qur’annya bagus ketimbang membiasakan sholat.

Pintar melagukan al-qur’an, tapi nol dalam ibadah? Nilainya turun drastis di mata Delya. Apalagi di mata Allah. Untuk apa pintar melagukan qur’an? Mengejar ketenaran? Mengejar dunia? PIKIRKAN BAIK-BAIK bu/ pak. Lebih baik anak dididik supaya mengerti isi qur’an dan bisa mengamalkannya dibanding mendidik anak melagukan qur’an tapi nol pengaruhnya bagi tingkah laku keseharian anak! (Maap, Delya sungguh sangat emosional)

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (20)

DUA PULUH

Wow, luar biasa!

Luar biasa perjuangannya!!!

Delya penasaran. Ia sangat ingin mengetahui cara mengajar yang efektif dengan observasi langsung. Maka dipilihlah mata pelajaran yang sama dengan yang Delya ampu (B. Inggris, syukurlah tidak jadi mapel IPS yang menjadi momok menakutkan bagi Delya ^^’)  dengan melihat langsung cara mengajar Bu Guru di kelas 2 SD.

Sebenarnya, Delya sudah menduga. Anak seusia SD pasti ribut saat pelajaran sekolah dimulai. Namun, dugaan Delya sedikit meleset. Di luar dugaan, karena anak-anak kelas dua SD ini tidak ribut, melainkan saaaangat ribut! @@’

Tidak seperti anak-anak didik Delya usia SMP yang suka mengantuk saat pelajaran berlangsung, anak-anak usia SD ini tidak ada satupun yang mengantuk. Semuanya aktif, bahkan ada yang hiperaktif hingga Bu Guru harus melakukan berbagai cara untuk membuat mereka fokus pada pelajaran (Delya malah bingung bagaimana cara menyadarkan anak didiknya dari kantuk, tidur, dan mimpi mereka di kelas @@). Luar biasa lelahnya pasti.

Dari hasil observasi ini, Delya mendapat pelajaran :

1. Faktor usia memengaruhi cara bagaimana pengajar harus mengajar

2. Kreatifitas mengajar diperlukan untuk menarik perhatian anak didik agar pelajaran mudah ditangkap.

3. Sistem punishment & reward terkadang diperlukan untuk menstabilkan kondisi/ suasana kelas (misalnya punishment bagi anak didik yang mengantuk 🙂

(bersambung)

 

PARANGTRITIS

Beberapa kali mengunjungi pantai selatan Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, yang terkenal dengan legenda Nyi Roro Kidul dan mitos-mitosnya, tak ada yang berubah.

Pantai berpasir coklat, ubur-ubur yang banyak terdampar di pinggiran pantai, ombak bergulung-gulung besar, batu karang di sebelah timur pantai (jika tidak salah ^^’), dan larangan berenang/ main terlalu jauh dari bibir pantai (HATI-HATI! Pantai Selatan memiliki banyak palung-palung yang dalam. Jika terseret arus dan terjebak dalam palung…. jangan berharap… bisa kembali… -.-)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keterangan:

ü      Masuk                   Rp. 5000,-/ orang

ü      Sewa kuda          Rp.20.000,-/ putaran (±10 menit) atau Rp. 50.000,-/30 menit

ü      Andong                Rp. (?)

ü      Seperti tempat wisata lainnya, banyak pedagang yang menawarkan berbagai macam kebutuhan rekreasi. Mulai dari pakaian, kacamata, topi, mainan, aksesoris, makanan dan minuman, hingga kolam renang air tawar ^^ (Pandai-pandailah menawar. Bahkan sampai setengah harga yang ditawarkan pedagang pun boleh jadi!)

 

Momen-momen indah bersama keluarga FATHIYA SEJAHTERA… menikmati angin pantai yang meluruhkan penat dan teriknya raja siang (+gosong ki!=)

29 September 2012

Curug Muara Jaya

@Argalingga, Argapura, Majalengka, Jawa Barat

Jangan coba-coba datang ke Curug ini jika tidak terbiasa dengan trek jalan yang menantang. Dan jangan sekali-kali membawa mobil/ kendaraan bagus menuju Curug (lebih baik menyewa angkot/ mobil kol bak yang sudah terbiasa melalui jalan ini). Tak jarang kami menemukan motor/ mobil yang mogok di jalan, atau penumpang-penumpang yang turun dari kendaraan karena rumitnya trek ini. Bayangkan, kemiringan jalan mulai dari 50° sampai 70° + tikungan-tikungan tajam harus dilalui sebelum sampai ke Curug yang satu ini. Satu lagi, tidak ada pagar pengaman. Jika jatuh, paling enteng  jatuhlah ke sawah. Paling buruk, jatuhlah ke jurang di kaki pegunungan Ciremai Jawa Barat ini. So scary right?! *Maap bukan bermaksud  menakut-nakuti. Tapi memeberitahu supaya waspada dan bersiap-siap dengan persiapan yang lebih baik.

Tapi semua ‘kengerian’ itu akan terbayar dengan pemandangan menakjubkan dan udara gunung yang sejuk. Lihatlah… sejauh mata memandang… hamparan hijau dan punuk-punuk gunung… Subhanallah… (walaupun naik mobil kol bak sewaan seperti ini, justru inilah pilihan kendaraan paling tepat untuk menikmati pemandangan 🙂

Nah, sebelum menuju curug, persiapkan diri; pernafasan, pemanasan kaki, mental, dan… lembar uang Rp. 10ribu/kepala.

Untuk sampai dan menyentuh air terjun… Bersiaplah… menuruni 377 buah anak tangga.

Berhentilah sejenak dan bidikkan kamera di tengah perjalanan menuruni tangga karena dari sudut inilah air terjun terlihat jelas dan indah. Ketinggiannya sekitar 20-30 meter. Terjun di antara rimbunnya dedaunan pohon yang hijau. Terjun bebas. Melayang. Melupakan sejenak kepenatan. Tidak ada yang menghambatnya meluncur. Menyejukkan. Subhanallah…



Jika sedang flu, turunlah sampai menyentuh air sungai yang tidak begitu jernih ini dan berendam saja sekalian. Dijamin akan semakin berat flu-nya (saking dinginnya air; seperti air es).

Jika ingin melihat air terjun lebih dekat dari arah atasnya, rogoh lagi koceknya untuk kemudian membayar lagi dan naik tangga lagi. *Jangan lupa persiapkan energi lagi sebelum pulang –menaiki anak tangga- Hosh… hosh… 😀

selamat menikmati 🙂

Oya, jika lapar tersedia berbagai macam makanan mulai dari bakso sampai nasi + berbagai macam minuman mulai dari air mineral sampai es kelapa muda. Juga tersedia macam-macam souvenir 🙂

 

NB: waktu liburan adalah waktu di mana obyek wisata ini paling padat dipenuhi pengunjung, terutama saat libur lebaran. Jika ingin lebih sepi, membuat suasana romantis, datanglah di luar waktu liburan + di luar jadwal perkemahan di sekitar curug ^^.

 

Bis II- (Dari ketinggian jalan tol paling murah sedunia… )

Di bawah bulan sabit dan pekatnya langit, tampak berjuta kelap kelip lampu rumah-rumah di kota Semarang  yg saaaangat indah… membahagiakan. Kali ini perjalan balik ke Jogja, (akhirnya) menggunakan bis setelah kehabisan berbagai tiket. Yah, bagaimana lagi. Meski was-was… Mau tidak mau, tgl 23 besok harus sampai di Jogja. What a short holiday! (masih mending bos berbaik hati memberikan libur lebih awal sehingga bisa pulang kampung. *here it’s the miracle, i did’t become Malin Kundang! Thanks for your kindness my boss   o(>,<)o …)

“Lebih indah lagi kalo pemandangan malam seperti ini dilihat dari ketinggian Candi Sembilan mbak. Dulu waktu masih ABG, saya sering ke sana,” ujar Pak Ali.

Perkenalkan, beliau teman seperjalanan kali ini. Usianya sekitar 40 tahun ke atas. Warna kulitnya cerah tanda jarang terkena terik matahari. Rambut dan kumisnya sudah memutih. Sorot matanya bijak kebapakan.

Dari awal perjalanan di Cirebon siang hari, banyaaak sekali ilmu yang didapatkan dari beliau. Ngalor ngidul membicarakan masalah politik, Jokowi, dokter herbal, habbatussauda, kampung penghafal qur’an, pondok Futuhiyah, perjalanannya ke berbagai pulau, transmigrasi, kelapa sawit, saaaampai membicarakan jalan tol, juga gerbong bawah tanah di luar negri. *Pak Ali ini apa-apa tahu ya? Ilmunya luas. Pesannya Jika tidak berhasil di kampung sendiri, berkelanalah!”

Beliau adalah seorang wirausahawan yang gigih dalam dunia bengkel motor. “Di Jakarta penghasilannya lumayan dari usaha bengkel ini, banyak kendaraan, banyak customer.” Ujarnya. “Tapi tidak enaknya, agak susah mendidik anak di Jakarta. Anak saya Defiana Wulandari sekarang kelas 3 SMP, biasa dipanggil Wulan di rumah. Terkadang suka nakal. Akhirnya… bla bla bla…”

Cerita mengalir panjang mengenai keluarga beliau. Mendidik dengan tegas tapi tidak mengekang. Bijak. Cara mendidik anak dan keluarga dari sudut pandang seorang bapak. Harus ada komunikasi juga dengan istri soal mendidik anak supaya anak tidak kolokan & manja. Apalagi anak tunggal/bungsu. “Saya jarang di rumah. Istri saya suka memanjakan Wulan. Bahkan mencuci baju sendiripun Wulan belum bisa. MasyaAllaaaah…anak bungsu saya kolokannya g ketulungan jadinya!”

Hehe iya to Pak? Sepertinya adik saya yang terakhir tidak begitu.

Senang sekali memiliki teman seperjalanan seperti pak Ali, beliau yang menghibur saat mata ini sudah berkaca-kaca karena baru tersadar setelah naik bis; bahwa saya ditipu agen bis yang bilang bis akan langsung ke Jogja ternyata diturunkan di Kartasura! Kesal rasanya! Tega sekali menipu di saat-saat seperti ini! “Tenang mbak, sabar ya. Sabar aja, terima aja. Perempuan itu banyak yang nolong kalo kesasar di jalan. Beda dengan laki-laki…”

:’)

Sepanjang perjalanan, banyaaak juga kebaikan yang beliau lakukan. Sangat paham bagaimana memperlakukan seorang perempuan, pastinya sudah berpengalaman. Beliau menyodorkan tissu saat saya terlihat membutuhkan *Ly, g bawa tissu? Kamu perempuan bukan to? hehe. Beliau juga berusaha mencarikan nomor telpon dan langsung menelponkan agen travel Kartasura-Jogja meskipun akhirnya tidak dapat kursi. Full. Beliau juga menawarkan tahu cireng yang baru dibelinya. Beliau juga sengaja membelikan saya sebotol air minum isotonik. Beliau juga menjadi teman berbagi cerita yang menyenangkan. Baiiiiiik lah pokoknya. Bahkan sampai menanyakan lagi melalui SMS setelah satu jam beliau turun lebih dulu; “Mbak, sudah sampai di Jogja?”

Ya Rabb, mudahkanlah segala urusannya di dunia dan akhirat karena beliau suka memudahkan urusan orang-orang di sekitarnya…

Tapi tidak enaknya…ujung-ujungnya, berkali-kali di sela-sela pembicaraan, Pak Ali berkata; “Mbak, mau g Bapak kenalkan dengan saudara Bapak? Anaknya tinggi kurus. Dia kerja di pelayaran lho. Sepertinya cocok dengan mbak. Tapi siap-siap kalo ditinggal-tinggal pergi nantinya…” *terdengar sama dengan ucapan ibu-ibu di Trans Jogja yang saya naiki barusan “Anak saya dulu kuliah di Teknik lho. Teknik Sipil. Baru lulus 2011 kemarin. Sekarang kerja di Batam.”

Tuing… @@ So?* Maklum lah, umur segini.

Dan saya hanya tersenyum; “Saya punya prinsip Pak; dia serius. Berkenalan, tidak untuk main-main. Apalagi main-mainnya lama. Lebih baik berkenalan secukupnya, jika cocok lanjut. Jika tidak, ya sudah.”

*Perempuan selalu menjadi korban, minimal korban perasaan. Seperti teman SD saya kemarin; (sebut saja ia) Beti. Setelah 5 tahun menjalin hubungan, laki-lakinya tidak jelas. Siapa yang tidak sakit hati? Apalagi seluruh keluarga, bahkan tetangga yang tahu hubungan mereka, sudah sering menanyakan. Wahai muslimah, jangan pernah percayakan hatimu dan menyerahkan dirimu pada laki-laki sebelum dia datang pada orang tua untuk mengambilmu dari ayahmu dengan cara yang sah!!!

***

Inilah menyenangkannya sebuah perjalanan. Banyak pelajaran dan rizki yang bisa kita ambil dari tersambungnya sebuah silaturrahim. Seperti dulu-dulu. Ciremai, Kereta, bis, pencuri. See? 😀

Lebaran 1433 H; Sendiri ?

Jarang sekali saya bercerita tentang sebuah episode ini; episode bersama keluarga. Ya, hidup merantau berbilang belasan tahun sejak kecil, sejak lulus SD. Jauh dari keluarga. Terbiasa hidup mandiri. Memang sangat jarang mereka, orang-orang yang kucintai, mengisi hari-hari dalam sebagian besar hidupku.

Mereka, ada di sini; dalam hati.

Episodeku bersama keluarga, memang sangat jarang kudapati dalam keseharian. Meskipun demikian, merekalah yang paling berperan besar dalam hidupku. Selama ini, episodeku bersama keluarga terputar saat liburan yang hanya berbilang hari tak lebih banyak dari 40 hari. Seringkali hanya 7-14 hari. Atau saat kontak dengan telpon minimal sebulan sekali.

Episode lebaran, episode bersih-bersih rumah, episode menguras kolam, episode aksi protes menutup hidung& batuk-batuk saat Ama mulai ngudud, episode belajar masak bersama adik terkecil atau nenek, episode bercerita yang ujung-ujungnya…”Semua terserah Teteh, yang akan menjalani Teteh, keputusan ada di tangan Teteh sendiri…” ucap ibu/ama, selalu. episode mengantar ibu ke sekolahan, episode rekreasi bersama yang sangat jarang, episode wisuda dan sumpahan. Episode-episode langka itu…

Dan kini…

Sepetinya tidak akan ada episode lebaran bersama mereka tahun ini…

Dek Leli, jangan sekali-kali menyepelekan keluarga!” pesan sepupu, teh Fun saat tahu kabar ini.

Maafkan Teteh Ibu, Ama, dan seluruh keluarga besar. Pasti berita ketidakhadiran Teteh saat Idul Fitri sangat mengecewakan Ibu, Ama, Nde, dan semuanya. Semua ini karena sebuah tuntutan lain di sini, di Jogja. Bahkan Teteh harus ada di Jogja tepat setelah Idul Fitri selesai. Teteh sungguh tidak ingin menjadi Malin Kundang, tapi Teteh benar-benar belum berani jika harus naik bis sendiri sejauh Jogja-Jabar untuk pulang karena kendaraan lain tidak ada yang bisa mengantarkan Teteh pulang tepat sebelum Idul Fitri *kecuali ada keajaiban lain. Maafkan Teteh…

Entah bagaimana ekspresi wajah Ibu dan Ama saat kukabari kemarin. Tapi, dari nada bertanya mereka; ‘Kenapa Teh?’ semua menggambarkan kekecewaan. Sekali lagi, maafkan Teteh… cukup sekali ini saja. Tahun depan tidak akan seperti ini lagi… karna Teteh akan tinggal lebih dekat dengan Ibu&Ama InsyaAllah…

Jika benar-benar tidak ada keajaiban, tinggal saya yang kebingungan; Idul Fitri di Jogja, tanpa keluarga, seorang diri? Bagaimanalah? Di maskam UGM, sowan tetangga kos lama, lalu mendekam di kos sendirian? Hiks… (Eit, don’t worry, don’t be sad! there are many family here, your family too: in Blimbingsari, Mulungan, Karangbendo, Karangwuni, Gunung Kidul, or in Solo! =)

Ah, colek juga my twin; Puch”. Ting ting … kalo keajaiban itu belum datang juga, mmm boleh ikut juga… nimbrung ‘Id di Kulon Progo g Puch? :0

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (18)

DELAPAN BELAS

Lucu sekali jundi kecil ini, mengingatkan Delya pada seseorang yang mungkin seperti inilah masa kecilnya. (sayangnya kamera HP error jadi tidak bisa menyimpan gambarnya); usianya sekitar 3 tahun. Pipinya (benar-benar) tembem seperti bakpau, badannya montok, kulitnya lembut kemerahan, matanya lucu membulat besar, dan rambutnya jigrak (berdiri kaku). Membulat. Ia jadi benar-benar terlihat bulat. Ia menggunakan baju pink dan celana biru. Benar-benar menggemaskan! Apalagi saat Delya usil dengan memegang-megang pipi tembemnya. Dia langsung berteriak-teriak tak mau dan melarikan diri. Hihi… Delya jadi semakin ingin mengusilinya. He, tapi waktunya mengajari baca iqro anak-anak lainnya di TPA daerah binaannya ini! *mencuri-curi waktu kegiatan asramanya yang padat saat Ramadhan.

Ramadhan kali ini hampir sama dengan Ramadhan tahun lalu. Rugilah Delya. Benar-benar rugi. 1 hari hanya mengkhatamkan 1 juz? Apa bedanya dengan bulan-bulan yang lain? Lihatlah anak-anak didiknya. Bahkan mereka mengkhatamkan 3 kali nyaris 4 kali khatam Qur’an Ramadhan ini. Delya sungguh sangat iri dan tersentil. Tapi, kesibukan Delya Ramadhan ini sama saja dengan bulan-bulan biasanya. Bahkan mungkin bertambah sibuk mengurusi kegiatan Ramadhan anak-anak dan mengurusi anak-anak yang sakit juga satu alasan lainnya dan satu alasan lainnya lagi. Ah, banyak alasan!!!

Tahun depan, sesibuk apapun, Ramadhan Delya harus lebih baik!

Antara Merapi-Lara Jonggrang (17)

TUJUH BELAS

Setelah melalui  berbagai pilihan-pilihan sulit… negosiasi… akhirnya, di sinilah Delya menetap; Pondok Kedamaian yang damai… Siap kembali mengabdikan diri, berusaha memberi kemanfaatan bagi banyak  orang di sekitarnya…  juga pada almamaternya; Pondok Akhir yang Baik. Secara tidak langsung…

Meskipun di luar sana, teman-teman Delya mulai melejitkan karir sesuai keprofesiannya di bidang industri kefarmasian dan departemen-departemen kesehatan dengan penghasilan yang cukup tinggi. Tapi dunia industri itu tidak sesuai dengan kecenderungan nurani dan jiwa Delya.

Pada akhirnya… hidup memang memilih dan dipilih. Hidup memang pilihan bukan?

***

Waw… Delya terhenyak *sama terhenyaknya ketika Delya diminta mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  I P S  SMP di tahun ajaran baru ini (???? mimpi apa Delya semalam?! Delya seorang tenaga kesehatan, backgroundnya adalah I P A. Ketika SMA, bahkan tidak pernah Delya mendapat nilai sempurna di mapel IPS! Sekarang diminta mengajar IPS?!…. hiks hiks, belajar lagi mulai dari nol…). Banyak sekali anak-anaknya yang bergelimpangan. Sakit. Sebagai penanggung jawab klinik yang belum punya fasilitas apapun selain obat-obatan, setelah akhir-akhir ini sering bolak balik puskesmas, rumah sakit, memeriksakan anak-anak yang jatuh sakit (bahkan ada yang kesurupan), merawat mereka, hingga ada yang diopname di rumah sakit… inilah puncaknya. Pagi ini 13 anak sakit bersamaan, ditambah lagi 2 orang malamnya.

Hfff…

Sama halnya juga dengan anak-anak yang baru masuk tahun ajaran baru ini, berpisah dengan orang-orang tercintanya… badan Delya tidak pernah kalah oleh banyaknya pekerjaan yang bertumpuk ataupun oleh segudang aktivitas lain yang melelahkan, tapi kalah oleh keributan pikiran dan ketidaktenangan hati, kalah oleh kerapuhan hubungan dengan Kekasih sejatinya, ditambah lagi oleh cuaca yang tidak bersahabat.

Tenanglah anak-anak…calm down… jagalah dirimu sendiri;badan memiliki hak untuk makan makanan bergizi, pikiran memiliki hak untuk mencerap ilmu, jiwa memiliki hak untuk mendapatkan ketenangan. Berdzikir mengingat Allah, membaca kalam-Nya, dan berharaplah pada-Nya…

 Allah-lah yang akan menjaga orang-orang yang kita cintai…don’t worry

Ya kan?

Sekarang, Delya hanya perlu melakukan pengobatan. Ala timur atau Barat? Satu hal menarik yang berbeda antara pengobatan ketimuran dan pengobatan barat.

Pengobatan barat karena semua hal dilandasi dan bergerak berdasarkan paham materialis, maka obat untuk segala penyakit adalah berupa obat bersifat materi (bukan immateri); nyata secara fisik. Jika kita mengalami alergi, maka obatnya adalah CTM. Jika kita diserang flu, maka obatnya adalah campuran PPA, efedrin HCl, kadang parasetamol. Jika kita sakit maag, maka diberi obat antasida. Jika kita sakit bla bla bla, maka obatnya adalah bla bla bla.

Begitulah… praktis.

Uniknya pengobatan timur, ketika seseorang jatuh sakit, maka yang menjadi perhatian adalah keseluruhan unsur manusia; akal, ruh, dan jasad.  Akal dan ruh diobati dengan sesuatu yang menenangkannya, membuat gelombang pikiran dan hatinya yang tak teratur untuk kembali stabil. India dan China mengenal kata meditasi, juga Yoga. Sedangkan Islam yang identik dengan ketimuran (walaupun sebenarnya universal), mengenal kata shalat, dzikir, dan do’a. *Akhir-akhir ini orang barat menyadari bahwa jiwa pun perlu obat, maka salah satu pengobatan yang mereka lakukan adalah dengan memakai musik sebagai terapi penenang. Kadang juga menggunakan jasa psikolog. Jasad yang sakit pun diperhatikan dengan banyak cara dalam pengobatan timur. Baik dengan cara terapi fisik (bekam, akupuntur, pijat refleksi, dll), maupun dengan terapi herbal menggunakan tumbuhan (Jamu, Ayurveda, Yin Yang, ramuan Korea, dll).

Delya sangat tertarik dengan pengobatan ketimuran yang bersifat holistik (menyeluruh) tersebut. Masalahnya bagi Delya, belum ada fasilitas untuk merealisasikan impian-impiannya. Juga pengobatan timur seringkali tidak praktis. Banyak macam obatnya dan lama durasi pengobatannya. So, what should you do Delya?!

Tugas:

1. Pelajari dunia klinik

2. Persiapkan rancangan anggaran, SDM, dan sarana prasarana klinik

3. Mulai buat protap P3K dan penanganan serangan akut penyakit

4. +pelajari Home Industry

5. Trial produk! Segera!

Eit jangan lupa; + pelajari Mapel  I P S! (>.<)

Baiklah, tunda dulu mimpi terbang mencari ilmu ke luar. Sekarang, berjuanglah! Mulai dari yang kau bisa. Mulai dari yang kecil. Jangan sia-siakan kesempatan satu tahun ke depan yang sempit ini. Mulai dari sekarang!!!