Kisah Remaja Belasan Tahun yang Membunuh Abu Jahal di Perang Badar

VOA-ISLAM.COM – Sungguh berbeda kondisi para remaja di zaman ini dengan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Remaja masa kini tenggelam dengan tsunami pergaulan bebas dan weternisasi. Perilaku mereka tak lagi meneladani sang Rasulullah namun Boys Band dan artis-artis semisal Justin Biber. Tak sampai disitu, wabah “alay” pun menjangkiti, lebih parah lagi diantara mereka ada yang bangga bertingkah seperti banci.

Sungguh tak akan selesai mengungkap kebobrokan remaja di zaman ini, maka sudah saatnya para remaja mulai memperbaiki diri. Lihatlah apa yang dilakukan dua remaja ketika perang Badar di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dr. Raghib As Sirjani dalam kitabnya “Risalatun ila Syababil Ummah” yang diterjemahkan berjudul  “Menjadi Pemuda Peka Zaman”, dengan bahasa yang komunikatif beliau menjadikan kisah tersebut sebagai motivasi bagi para remaja. Berikut ini petikan kisah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ tersebut.

Kedua pemuda yang masih belia ini mempunyai kisah hidup yang tidak pernah terpikir atau terbesit di dalam benak siapapun. Pertama adalah Muadz bin Amr bin Jamuh, usianya baru empat belas tahun. Sementara yang kedua adalah Muawwidz bin Afra’, usianya baru tiga belas tahun.

Kedua pemuda yang masih belia ini mempunyai kisah hidup yang tidak pernah terpikir atau terbesit di dalam benak siapapun. Pertama adalah Muadz bin Amr bin Jamuh, usianya baru empat belas tahun. Sementara yang kedua adalah Muawwidz bin Afra’, usianya baru tiga belas tahun. Akan tetapi, dengan penuh antusias keduanya bergegas ikut serta bergabung bersama pasukan kaum muslimin yang akan berangkat menuju lembah Badar.

Kedua pemuda belia ini memiliki nasib baik karena tubuh keduanya terlihat kuat dan usianya terlihat relatif lebih dewasa. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menerima keduanya masuk dalam skuad pasukan kaum muslimin yang akan berperang melawan kaum musyrikin pada perang Badar. Meskipun usia mereka masih sangat muda belia, tetapi ambisi mereka jauh lebih hebat dan lebih besar daripada ambisi para orang tua atau kaum lelaki yang lain.

Di sini mari kita dengarkan bersama penuturan dari seorang sahabat yang mulia Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu. seperti yang terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari. Abdurrahman Radhiyallahu ‘anhu menggambarkan sikap dan tindakan yang sangat ajaib dari kedua pemuda pemberani ini! Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu menuturkan :

“Pada perang Badar, saya berada di tengah-tengah barisan para Mujahidin. Ketika saya menoleh, ternyata di sebelah kiri dan kanan saya ada dua orang anak muda belia. Seolah-olah saya tidak bisa menjamin mereka akan selamat dalam posisi itu.”

Kedua pemuda belia itu adalah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhuma. Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu sangat heran melihat keberadaan kedua anak muda belia ini di dalam sebuah peperangan yang sangat berbahaya seperti perang Badar. Abdurrahman merasa khawatir mereka tak akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari orang-orang di sekitar mereka berdua, disebabkan usia keduanya yang masih muda.

Lalu Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya dengan penuh takjub :

“Tiba-tiba salah seorang dari kedua pemuda ini berbisik kepada saya, ‘Wahai Paman, manakah yang bernama Abu Jahal?” Pemuda yang mengatakan hal ini adalah Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu Ia berasal dari kalangan Anshar dan dirinya belum pernah melihat Abu Jahal sebelumnya. Pertanyaan mengenai komandan pasukan kaum musyrikin, sang lalim penuh durjana di Kota Mekkah dan “Fir’aun umat ini”, menarik perhatian Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu. Lantas ia pun bertanya kepada anak muda belia tadi, “Wahai anak saudaraku, apa yang hendak kamu lakukan terhadapnya?”

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu tewas (gugur).”

Sang pemuda belia itu menjawab dengan jawaban yang membuat Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu tak habis pikir! Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu tewas (gugur).”

Ya Allah, betapa kokoh dan kuatnya sikap anak muda belia ini! Seorang anak muda belia yang tinggal di Madinah Al-Munawwarah. Ketika ia mendengar bahwa ada orang yang mencaci maki baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekkah yang jaraknya hampir 500 km dari tempat tinggalnya, bara api kemarahan berkobar di dalam hatinya dan semangat ingin membela baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membara di dalam jiwanya.

Ia pun berikrar untuk melakukan sesuatu yang bisa membela keyakinan, harga diri dan tempat-tempat suci agamanya. Dan kesempatan itu datang kala perang berkecamuk, yakni ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa Abu Jahal menuju lembah Badar. Maka ia pun berikrar bahwa ia sendiri yang akan membunuhnya.

Sungguh, pemuda belia ini benar-benar bersumpah bahwa jika ia melihat Abu Jahal, maka ia tidak akan membiarkannya begitu saja hingga salah seorang dari mereka meninggal dunia. Ia tidak merasa cukup hanya dengan tercapainya cita-cita ikut serta dalam perang Badar dan melakukan tugas mulia yang dibebankan kepadanya.

Tidak merasa cukup hanya dengan memenuhi mimpinya dengan membunuh seseorang dari pasukan kaum musyrikin saja. Akan tetapi, yang menjadi ambisi utamanya, impian masa depannya, target dan tujuan hidupnya; adalah ia harus membunuh si durjana dan si lalim ini (Abu Jahal). Meskipun tebusannya, ia akan mati syahid di jalan Allah.

Subhanallah! Sebenarnya, ia boleh saja – tidak ada orang yang akan mencelanya – berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan membunuh salah seorang dari kalangan kaum musyrikin dan menyerahkan urusan membunuh komandan pasukan kaum musyrikin yang lalim ini kepada salah seorang pahlawan Islam terkemuka, atau salah seorang ahli perang yang sudah diketahui kemampuan dan kemahirannya dalam bertempur. Akan tetapi, ambisi dan obsesi utamanya laksana ingin sampai ke puncak bangunan yang tinggi menjulang.

Tentunya, hal ini bukan satu sikap yang biasa. Ini adalah satu sikap yang benar-benar menakjubkan. Bahkan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu sendiri menuturkan, “Saya pun merasa takjub akan hal itu.” Namun rasa takjub dan keheranan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu belum berhenti sampai di situ. Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu bukan satu-satunya anak muda belia yang jarang ditemukan di tengah-tengah barisan pasukan kaum muslimin. Ia punya teman sejawat yang saleh dan seusia atau sedikit lebih muda darinya. Anak muda ini juga bersaing dengannya dalam hal yang sama.

Melihat Abu Jahal, darah amarah kedua pahlawan belia ini pun membara. Tekad bulat mereka semakin mantap untuk merealisasikan tugas yang sangat mulia, yang senantiasa bergeliat dalam mimpi dan benak pikiran meraka.

Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Seorang pemuda belia yang lain (Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu) menghentak saya dan mengatakan hal yang serupa.” Lalu Abdrurahman melanjutkan kisahnya, “Tiba-tiba saja saya melihat Abu Jahal berjalan di tengah-tengah kerumunan orang ramai. Saya berkata, “Tidakkah kalian melihat orang itu ia adalah orang yang baru saja kalian tanyakan kepadaku!”

Melihat Abu Jahal, darah amarah kedua pahlawan belia ini pun membara. Tekad bulat mereka semakin mantap untuk merealisasikan tugas yang sangat mulia, yang senantiasa bergeliat dalam mimpi dan benak pikiran meraka.

Sekarang, mari kita simak bersama penuturan Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu ketika ia menggambarkan situasi yang sangat menakjubkan tersebut, seperti yang terdapat dalam riwayat Ibnu Ishaq dan di dalam kitab Ath-Thabaqat karya Ibnu Sa’ad.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saya mendengar kaum musyrikin mengatakan, ‘tidak seorang pun dari pasukan kaum muslimin yang dapat menyentuh Al-Hakam (Abu Jahal)’.” Saat itu , Abu Jahal berada di tengah-tengah kawalan ketat laksana pohon yang rindang.

Abu Jahal, sang komandan terkemuka dari bangsa Quraisy datang dalam iring-iringan para algojo dan orang-orang kuat laksana hutan lebat. Mereka melindungi dan membelanya. Ia adalah simbol kekufuran dan komandan pasukan perang, sehingga sudah pasti jika pasukan batalyon terkuat di kota Mekkah dikerahkan untuk melindungi dan membelanya.

Di samping itu, kaum musyrikin juga saling menyerukan, “Waspadalah, jangan sampai pemimpin dan komandan kita (Abu Jahal) terbunuh!” Mereka mengatakan, “Tidak seorang pun musuh yang dapat menyentuh Abul-Hakam (Abu Jahal)!”

Wahai generasi muda Islam! Pemuda belia ini baru berusia empat belas tahun. Dirinya mampu memotong betis Abu Jahal hanya dengan satu pukulan saja. Padahal Abu Jahal berada dalam perlindungan dan pengawalan yang sangat ketat dari pasukan kaum musyrikin.

Meskipun Abu Jahal dilindungi sedemikian rupa dan pengawalannya begitu ketat, namun hal itu tak menghalangi Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu untuk tetap membulatkan tekadnya, melaksanakan tugasnya, serta merealisasikan cita-cita suci di dalam hidupnya.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Ketika saya mendengarkan perkataan itu, saya pun semakin membulatkan tekad. Saya memfokuskan diri untuk mendekatinya. Ketika tiba waktunya, saya langsung menghampirinya dan memukulkan pedang kepadanya hingga setengah kakinya (betis) terputus.”

Subhanallah! Hanya satu sabetan pedang dari tangan anak muda belia ini, betis seorang lelaki (Abu Jahal) putus dalam sekejap.

Tanyakanlah kepada para dokter atau tim medis yang pernah melakukan operasi pemotongan, betapa sulitnya melakukan hal tersebut! Coba pula tanyakan kepada para pahlawan dan ahli perang yang bergelut di medan pertempuran yang dahsyat, betapa sangat sulitnya hal itu dilakukan!

Wahai generasi muda Islam! Apa sebenarnya yang kita bahas sekarang? Apakah kita berbicara mengenai tingkatan kepahlawanan dalam perang yang ideal? Ataukah gambaran keberanian yang sangat fantastis? Ataukah seni keahlian perang yang paling indah? Ataukah kekuatan tenaga? Ataukah ketajaman daya pikir dan insting? Ataukah kejujuran dalam berjihad, niat yang ikhlas, dan keinginan yang kuat? Ataukah sebelum semua itu, dan yang paling penting kita bicarakan adalah tentang taufik (pertolongan) Allah ‘azza wa jalla kepada para mujahidin di jalan-Nya. Allah azza wa jalla berfirman :

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut : 69)

Wahai generasi muda Islam! Pemuda belia ini baru berusia empat belas tahun. Dirinya mampu memotong betis Abu Jahal hanya dengan satu pukulan saja. Padahal Abu Jahal berada dalam perlindungan dan pengawalan yang sangat ketat dari pasukan kaum musyrikin.

Ia benar-benar telah merealisasikan mimpinya selama ini. Hati sanubarinya terasa damai, dan ia telah berhasil membalas dendam kesumatnya demi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, apakah semua itu dilakukan begitu saja tanpa pengorbanan?!

Hal itu sangat mustahil! Tentunya taruhannya harus ditebus dengan darah. Sebab, pohon kejayaan dan kemuliaan tidak akan tumbuh berkembang selain dengan darah-darah para Mujahidin dan Syuhada.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Pada perang itu (Badar), anaknya (Abu Jahal), Ikrimah -pada waktu itu ia masih musyrik – menebas lengan saya dengan pedangnya hingga hampir terputus dan hanya bergantung pada kulitnya saja.”

Tangan pemuda belia itu hampir terpisah dari tubuhnya, hanya bergantung pada kulitnya saja. Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu kehilangan lengan tangannya di jalan Allah!

Namun di atas semua itu, berputus asakah ia? Menyesalkah ia? Apakah ia merasa bahwa ia telah melakukan tindakan yang salah? Apakah ia berharap, seandainya ia tidak ikut dalam medan perang serta hidup dengan selamat dan damai di Madinah, sehingga dirinya terhindar dari luka penderitaan, dan cacat?

Wahai generasi muda Islam! Semua itu sedikit pun tak pernah terbesit dalam benaknya. Justru yang menjadi ambisinya pada saat-saat seperti ini adalah ia harus meneruskan perjalanan jihadnya di jalan Allah Ta’ala. Sebab, masih banyak musuh yang memerangi umat islam dan orang-oarng ikhlas harus segera membela dan berjuang meskipun hanya dengan satu tangan.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya,

“Pada hari itu, saya benar-benar berperang seharian penuh. Tangan saya yang hampir putus itu hanya bergelantungan di belakang. Dan ketika ia menyulitkan saya, saya pun menginjaknya dengan kaki, lalu saya menariknya hingga tangan saya terputus.”

Ia justru memisahkan tangan dari jasadnya agar bisa mengobarkan jihad dengan bebas dan leluasa! Subhanallah! Lantas, di mana teman pesaingnya untuk membunuh si durjana dan si lalim kelas kakap itu? Di mana Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu?

Lalu Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu melintas di hadapan Abu Jahal yang sedang terluka parah, kemudian ia pun menebasnya dengan pedang. Kemudian membiarkannya dalam keadaan tersengal-sengal dengan nafas terakhirnya.

Mari kita simak bersama penuturan Muadz bin Amr bin Jamuh ra. tentang teman pesaingnya ini :

“Lalu Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu melintas di hadapan Abu Jahal yang sedang terluka parah, kemudian ia pun menebasnya dengan pedang. Kemudian membiarkannya dalam keadaan tersengal-sengal dengan nafas terakhirnya.”

Maksudnya, Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu juga berhasil merealisasikan tujuan dan cita-citanya. Ia menebas Abu Jahal dengan pedang di kala ia berada di tengah-tengah kerumunan para pengawal dan pelindungnya. Namun, ia berhasil memukul Abu Jahal hingga membuatnya terjungkal ke tanah seperti orang yang tak berdaya, tetapi ia masih mempunyai sisa-sisa nafas terakhir. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu datang untuk menghabisi nyawa Abu Jahal.

Demikianlah keadaaannya. Kedua pahlawan cilik ini berlomba-lomba dan bersaing untuk menghabisi si durjana, yang pada akhirnya mereka mendapat nilai seri!

Coba perhatikan! Dalam rangka apa mereka bersaing?

Lantas keduanya datang menjumpai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing mengatakan, “Saya telah membunuh Abu Jahal, wahai Rasulullah!”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka berdua sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Apakah kalian telah menghapus (bercak darah yang menempel pada) pedang kalian?“ mereka berdua menjawab, “Belum.” Maka beliau melihat kedua pedang pahlawan cilik tersebut. Lantas beliau bersabda, “Kalian berdua telah membunuhnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menyimpulkan bahwa kedua pahlawan- belia itu memperoleh nilai yang sama dan seri.

Subhanallah! Apakah sampai di sini saja kisah kepahlawanan kedua pemuda belia ini? Belum, wahai generasi muda Islam! Namun, kisah mereka masih terus berlanjut pada babak berikutnya.

Kita telah menyaksikan bahwa Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu harus rela kehilangan tangannya sebagai harga mati dari perjuangan, kejujuran, dan kebulatan tekadnya. Lantas apa yang telah dipersembahkan oleh Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu? Muawwidz Radhiyallahu ‘anhu telah mempersembahkan seluruh jiwanya. Sehingga ia memperoleh mati syahid di jalan Allah!

Pahlawan tangguh yang masih muda belia ini – usianya baru tiga belas tahun – terus melanjutkan petualangan jihad dan perjuangannya setelah ia mempersembahkan perjuangan yang sangat berharga hingga terbunuhnya Abu Jahal. Akan tetapi, ia tidak merasa puas hanya dengan perjuangan sebatas itu. Meskipun hasilnya bisa dibanggakan, namun ia terus berjuang dan maju menerjang musuh hingga memperoleh mati syahid di jalan Allah, yang padahal usianya masih sangat muda belia.

Wahai generasi muda, biginilah simbol kejayaan dan kemuliaan! Dan beginilah persaingan yang hakiki. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَفِيْ ذلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthaffifin : 26). Sampai disini kisah tersebut.

Sungguh saat ini, umat begitu merindukan sosok remaja seperti Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ yang siap membinasakan Abu Jahal abad ini

Ketahuilah wahai para pemuda, betapa leluasa Abu Jahal abad ini mencaci hingga memerangi umat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Jahal abad ini telah menghina syari’at i’dad dan jihad yang Allah Ta’ala perintahkan dengan sebutan keji; “tindak pidana terorisme.” Mereka tuding semangat menegakkan daulah islamiyah dan khilafah sebagai paham radikal. Mereka hinakan para ulama muwahhid dengan menghakiminya lewat hukum thaghut. Mereka menawan para mujahidin dan membantainya sesuka hati. Bahkan yang lebih “gila” lagi, mereka fitnah gerakan jihad dibiayai lewat bisnis narkoba (narcoterrorism).

Masih adakah remaja yang mendidih darahnya menyaksikan kezhaliman tersebut? Sungguh saat ini, umat begitu merindukan sosok remaja seperti Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ yang siap membinasakan Abu Jahal abad ini.  Wallahu a’lam bis Shawab [Ahmed Widad]

Family Time!

Dengan alasan tidak bisanya saya pulkam ke Majalengka karena kampus tidak meliburkan karyawan macam saya, juga adik pertama tidak pulang… maka datanglah keluarga kecil ini; Ibu, Ama (bapak), Nde(adik bungsu, kembaran saya) dengan travel langganan…

Senangnyaaa…

Tempat-tempat ini yang kami sekeluarga jelajahi dalam waktu dua hari (saja)

IMG_20131229_111000

IMG_20131229_111011 IMG_20131229_111134 IMG_20131229_111151 IMG_20131229_145538

  1. Alun-alun Kidul

Hihi… di sini, ibu sangat penasaran mencoba melewati antara dua pohon beringin sampai tiga kali mencoba sodara-sodara! Dan belum berhasil 😀 selalu melenceng ke kanan atau ke kiri pohon. Tanya kenapa? Sementara saya sport jantung, berusaha percaya pada pengendali sepeda tiga jok

IMG_20131228_195419

IMG_20131228_195429

*saat ini, lewat pohon gratis –kecuali sewa penutup mata,

sepeda tiga jok Rp.30.000

  1. Sunday Morning UGM

Tempat cocok bagi yang ingin berburu barang-barang unik atau kebutuhan anak kos atau sekedar cuci mata dan sarapan. Terjadi pembicaraan serius antara anak dan ibunya saat sarapan di sini, hasilnya? sebuah keputusan…

*gratis kecuali parkir kendaraan –Rp.2000 (motor) dan

mengambil barang dagangan orang; bayar 😀

  1. Gembira Loka

Ini karena Ama ingin bertemu sodaranya di bonbin -,- Apa enaknya coba, melihat hewan-hewan dikerangkeng dalam ‘penjara’?
But, keep smile coz i’m with my family now :p *sayang terburu-buru cabut karena Ama sendiri sudah kelelahan mengelilingi rute bonbin…

IMG_20131229_113703

IMG_20131229_122026

IMG_20131229_122903

IMG_20131229_123040

IMG_20131229_123944

IMG_20131229_124442

IMG_20131229_130214

IMG_20131229_130307

IMG_20131229_135121

*Tiket masuk dewasa : Rp.20.000,-

  1. Pantai Parangtritis

Pantai? sudah biasa. Yang istimewa, kembali bertemu dengan kuda-kuda yang gagah. Dan dengan baik hati, pemilik kuda membiarkan kami menunggangi kuda-kuda sendiri, mengajari kami cara mengendalikan tali kekangnya… Love it!

IMG_20131229_155029

IMG_20131229_155204

IMG_20131229_155240

IMG_20131229_161813

IMG_20131229_162806

IMG_20131229_162903

IMG_20131229_163013

*Tiket masuk: Rp.4.750,-/orang

Main2 di pantai; gratis

Naik kuda Rp.30.000,-/1 putaran

Pertemuan keuarga yang singkat. Sabtu pagi sampai di Jogja, ditinggal kerja sampai jam tiga, sore jalan, terjebak macet… Ahad pagi-sore jalan… dan Ahad malam pulang karena Ibu harus memasukkan data hari Seninnya. Belum lagi Aki (kakek) dan Eni (nenek) yang butuh kehadiran ibu untuk membantu segala kebutuhannya. *Pelajaran : jika ingin menyewa mobil di Jogja saat musim liburan, harus pesan jauh-jauh hari. Jika tidak, sangat sulit menemukannya & biasanya dipatok lebih mahal dari harga normal (Jazz 12 jam Rp.350.000,-)!

What a beautiful & unforgetable moment with my family 🙂

 ***

Ibu, raut wajah yang lelah… mulai berkeriput dan beruban di sana sini… 52 tahun… dan kali ini berkata, yang selama ini tidak pernah beiau ungkapkan dengan terang-terangan…; “Ingin segera menggendong cucu.” What?!

Penghujung 2013

22 Desember; Hari ibu…

Hari ibu… apa yang dirimu lakukan untuk ibumu?

Terpana…

Beberapa orang &beberapa peristiwa telah membuatku menangis… untuk ibu…

Tidak akan cukup semua yang kuberikan untuk ibu ini membalas semua yang diberikan ibu untukku. Tidak akan.

Apapun, seberapa pun banyaknya, tidak akan…

Ibu, kata-kata manis memang tidak mampu kuucapkan dari mulut ini.

Setidaknya, suara, sapa, tanya, dan dengarku menandakan bahwa aku ada untuk ibu.

Aku memang pengecut, lari dari lingkaran hitam…

Tapi bukan berarti lari dari ibu

Tidak mungkin lepas dari kerinduan akan peluk hangat dan suara lembut ibu

Tidak mungkin lupa akan besarnya pengorbanan ibu

Tidak mungkin

Lingkaran hitam yang ingin kuhindari jauh-jauh…

Maafkan aku ibu,

 

Aku sayang ibu… :’)

Tunggulah suatu masa… ibu….

Ayez & Aktur :)

Lama  tidak menuliskan sesuatu. Mandek oleh otak yang full dan aktivitas fisik yang melelahkan.

Posting tulisan yang dulu pernah kutulis ini saja Ok?!

***

Lucunyaaaaa anak-anak ini….

Tidak ada anak kecil yang tidak lucu. Setuju???

Termasuk yang dua ini :

Antares Al-Farisi Zaman & Arcturus Al-Farabi Zaman

Keduanya adalah anak dari Bu Dwi, Kepala Prodi di tempat saya bekerja. Beberapa kali mengunjungi rumah beliau dalam rangka membicarakan persiapan-persiapan sebelum perkuliahan dimulai, beberapa kali itu pula bertemu dengan Ayez ddan Aktur.

Antares = Bintang paling terang

Arcturus = Bintang paling besar

“Ayah keduanya memang pecinta astronomi,” ujar Bu Dwi.  “Kami pun tidak ingin membeda-bedakan anak-anak termasuk nama. Karena suatu saat salah satu atau mungkin keduanya akan menanyakan apapun yang telah kita perbuat pada mereka. Mengapa kakak diperlakukan begini, tapi adik diperlakukan begitu?”

Aktur masih bayi, baru terlahir sekitar sebulan yang lalu. Sering menangis akibat dijahili kakaknya; Ayez. Barangkali pelampiasan rasa cemburu karena perhatian Bundanya tersedot pada Aktur.

aktur
aktur 🙂

Meski usianya baru 3 tahun, Ayez tampak sangat cerdas. Tutur katanya jelas, perilakunya saja sudah seperti orang dewasa; terkadang sok menasihati “Yang sabar ya…”  ^.^

*belakangan, baru kuketahui bahwa ternyata Ayez sering dijadikan model anak cerdas tapi cerewet oleh para mahasiswa psikologi UGM dan UII. Dan ia memang betul-betul menjadi bintang dimanapun berada; di rumah, di sekolah, di keluarga besarnya…

Kulitnya putih bersih *mandi saja bisa tiga sampai lima kali sehari karena memang kulitnya sensitif debu dan keringat. Kedua pipinya gembul merona. Matanya bulat bersinar dengan sorot kecerdasan di atas rata-rata. Rambutnya hitam legam dan jigrak. Badannya tegap seperti ayahnya.

ayez
ayez

***

Melihat Ayez; teringat seseorang;

ibu…

Yang gurat-gurat di wajahnya mulai menjelas. Yang satu persatu timbul warna abu di antara helai rambutnya… sorot matanya begitu banyak menceritakan harapan-harapan penuh pada putri semata wayangnya. Tapi aku tahu, ibu selalu bisa bersabar… Sabar ya Bu… 🙂 *meniru gaya Ayez ^^

ayez.

netease_moonanya1024

Apakah kau melihatnya? Cahayanya? Kesempurnaannya?

***

Sebuah pelajaran :’) ;

“Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat. Pasti akan kembali.”

–novel “Eliana”, tere liye

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (30)

TIGA PULUH

Anak-anak sudah datang ke Pondok. Pondok kembali ramai setelah dua pekan hanya suara-suara jangkrik yang menyeruak di malam-malam libur lebaran.

Kembali beraktivitas sebagai santri, kembali meninabobokan mereka dengan kisah-kisah sahabat, nabi, dan kisah-kisah hikmah lainnya. Meski beranjak remaja, mereka tetap menyukai kisah yang dibacakan Delya menjelang tidur. Jangankan anak-anak atau remaja. Orang tua pun masih senang mendengarkan kisah-kisah; termasuk Delya.

Sudah berapa puluh kisah yang Delya bacakan pada anak-anak didiknya menjelang terlelap. Ini adalah momen yang penting. Karena tidak setiap saat Delya bisa membersamai mereka, apalagi saat ini. Meskipun badan lelah setelah seharian bekerja, Delya berkomitmen; harus menyempatkan diri minimal tiga kali per minggu membacakan sebuah kisah.

Konon, dongeng-dongeng/ kisah-kisah akan memberikan pengaruh pada tumbuh kembang mental & pribadi anak di masa mendatang.

***

Pengaruh Cerita Dongeng Anak terhadap Mental dan Prestasi Bangsa

David McClelland, seorang pakar psikologi sosial, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyimpulkan sebuah teori bahwa cerita dongeng untuk anak sebelum tidur sangat mempengaruhi prestasi suatu bangsa. McClelland memaparkan penelitiannya terhadap dua negara terkuat abad 16 yaitu Inggris dan Spanyol.

Cerita anak di negara Inggris kaya akan muatan spritualitas dan motivasi untuk maju. Sebaliknya, Cerita anak di Spanyol penuh dengan muatan yang membuat anak terlelap dan ternina-bobokan. Dari begitu banyak cerita dari berbagai negara yang dikumpulkan McClelland dan kemudian diteliti, menunjukkan bahwa negara yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi adalah negara yang memiliki cerita dongeng anak mengandung need for achievement (kebutuhan berprestasi) yang tinggi.

Cerita si Kancil dan Mental Bangsa Indonesia

Kemudian salah satu guru besar Fakultas Budaya Universitas Indonesia, Ismail Marahaimin, mengungkapkan hasil penelitian yang senada. Dongeng si Kancil Mencuri Mentimun yang sangat populer di Indonesia bisa jadi adalah salah satu penyebab bobroknya mental pemimpin bangsa. Kancil mencerminkan tokoh yang cerdas tapi licik. Secara tidak disadari cerita ini akan melekat dalam alam bawah sadar anak-anak bahwa mental tokoh seperti kancil patut ditiru.

Oleh karena itu, perlu digalakkan kembali dongeng anak-anak yang memotivasi untuk berprestasi, yang mendidik dan menumbuhkan keinginan untuk maju.

Tugas Para Penulis, Pendidik, dan Orang Tua

Sudah selayaknya menjadi tugas para penulis Indonesia, untuk menciptakan cerita-cerita anak yang bermutu. Jika mulai hari ini saja Indonesia mampu menerbitkan karya sastra anak seperti yang dimiliki Inggris, maka jika merujuk pada penelitian McClelland, 25 tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh pesat.

Tentu hal ini juga tidak terlepas peran dari para pendidik dan orang tua, untuk membiasakan siswa dan putra-putrinya membaca cerita dongeng anak yang bermutu, yang mengandung semangat berprestasi lebih banyak lagi. Karena disadari atau tidak, mental bangsa beberapa tahun ke depan, adalah sangat dipengaruhi oleh mental yang disiapkan untuk anak-anak sekarang.

Para pendidik dan orang tua hendaknya benar-benar memilihkan bacaan-bacaan yang bagus untuk anak dan bisa dibacakan sebagai pengantar tidur atau saat anak mengalami kejenuhan belajar.
(sumber : http://www.anneahira.com/cerita-dongeng.htm )

 

 

***

Delya, meluangkan sedikit waktu untuk mendongeng bukanlah hal yang sulit. Apalagi sekarang kamu tidak sering membersamai mereka. Lakukanlah untuk anak -anak, hanya beberapa menit untuk membantunya mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya, dan kamu akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan mereka 🙂

 

 

‘Ied Fitri 1434 H

Fiuhhh… karena mobil masih di dialernya ^^, di rumah hanya ada satu sepeda motor, maka berlelah-lelah-lah kami menggunakan jasa angkot dan ojek untuk bersilaturrahim ke keluarga Ama di kecamatan sebelah; Talaga, Majalengka. Melalui jalan turun naik dan berlubang-lubang masyaAllah bagusnya! Ditambah jembatan terputus dalam rangka perbaikan sehingga harus memutar dan melewati sasak (jembatan bambu) untuk menuju rumah terjauh. Tapi pemandangan indah bebukitan, sungai, pepohonan, dan air terjun menebus semua lelah.

Di Indonesia, momen ‘Idul Fitri memang menjadi ajang silaturrahim, sangat meriah. Berbeda dengan di Arab Saudi yang lebih meriah Idul Adhanya ketimbang Idul Fitrinya.

Tidak seperti di Jogja/ Jawa. Di keluarga, tidak ada tradisi kumpul Trah. Maka, jarang sekali bertemu keluarga besar kecuali saat Idul Fitri. Jadi tidak hafal siapa saja saudara-saudara sekeluarga seluruhnya.

CATAT…

 

Keluarga Ibu

(Eni Ule Julaeha& Aki Abdul Rosyid)

Tempat Tinggal

1 Endis Firdaus (Uwa Endis) & Uwa Ati

  1. Munira Firdaus (Kak Ira)
  2. Muhammad Thoyyar Firdaus (Abang -alm)
  3. Zanira Firdaus (Neng Kike)

 

Bandung, Jabar
2 Iyan Ruhdiyan (Uwa Yoyon) & Uwa Ati

  1. Fanny Dwiphoyanti (Teh Fun)
  2. Sena Avicena (Aa Sena)
  3. Nabila Emirotul Mufidah (Neneng)

 

Maja, Majalengka Jabar
3 Ene Junaeriyah (Ibu ^^) & Pak Pepen (Ama)

  1. Yuli Nurullaili Efendi (Teh/ Dek Leli)
  2. Ahmad Mudzakkir Effendi (Ahmad)
  3. Abdul Basith Effendi (Nde)

 

Maja, Majalengka Jabar
4 Edin Sofarudin (Mang Edin) & Bi Nur Hasanah

  1. Rain Dzikro Ghaitsa
  2. Hanum
  3. Hammas Rail Ghaza
  4. Raghiba

 

Sadawangi, Majalengka Jabar
5 Uun Unaenah (Bi Uun) & Abah

  1. Abdurrahman Faiz
  2. Ahnaf Alfath
  3. Thoriq Fasya
  4. Muhammad Rijal
  5. Muhammad Yusuf

 

Purwokerto
6 Elin Maslina (Mang Elin) & Bi Lilis

  1. Gilang Praha Zulfikar (Yayang)
  2. Safira

 

Kadipaten, Majalengka Jabar
7 Emak Maxtalina (Mang Emak) & Bi

  1. Muhammad Khaitam (Deden)
  2. Ihsan (Ican)
Garut, Jabar
8 Rosyida Nur Hamidah (Bi Ucu) & Mang Bakrie

  1. Nadila Salsabila
  2. Adin
  3. Azzam
Solo

 

Itulah, secara usia, saya cucu tertua di keluarga ibu. Kedua, Teh Fun (beda lahir sebulan tok). Saya pribadi lebih dekat dengan keluarga Ibu. Mungkin karena pola hidup yang lebih sama, lebih nyaman. Mungkin juga karena tempat tinggal kami yang sewilayah dengan keluarga Ibu.

 

Keluarga Ama

(Siti Rohmah-Eni Empo & Aki Qomaruddin)

Tempat Tinggal

1  Arnali (Uwa Nali) & Sarminah

  1. Ceu Dadah

(3 putra)

  1. Ceu Jojoh

(5 putra)

  1. Ceu Roroh

(….)

Cilengsar, Talaga, Majalengka
2 Inoh Aminah (Uwa Inoh) & Makdum (alm)

  1. Ceu Iing

(1. Yayah, 2. … , 3. …)

  1. Ceu Nunung

(1. Ima, 2. … , 3. …)

  1. Ceu Emem

(2 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
3 Uju Juwariyah (Uwa Uju) & Syahmudin

  1. Momon Suparman

(1. Asep Wildan, 2. Nurul, 3. Nisa)

  1. Mamah

(3 putra)

  1. Usep Syaifuddin & Imas

(1. Mia, 2. ….)

  1. Abdul Kholiq

(2 putra)

  1. Opik Taufiqurrohman

(2 putra, 2 kembar -alm)

  1. Mimih

(2 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
4 Emah (Uwa Emah) & Makbul

  1. Mujtahidah

(1. Inun, 2. …., 3. …., 4. ….)

  1. Abdul Harist (Endun) guru MAN Talaga

(2 putra)

  1. Iin

(3 putra)

  1. Aa Iyan Tentara Bandung

(2 putra)

  1. Ipah

(3 putra)

  1. Asep

(1 putra)

 

Cilengsar, Talaga, Majalengka
5 Eman Sulaiman ( Uwa Eman) & Aah

  1. Baban
  2. Dedeh

(1 putra)

  1. Awal
  2. Risna
  3. Aceng (Ceceng)

 

Campaga, Talaga, Majalengka
6 Cicih Sukaesih (Uwa Icih) & Pupung

  1. Nunung

(1. Syifa, 2. …)

  1. Dede

(3 putra)

  1. Ii

(2 putra)

  1. Iah

(3 putra)

  1. Asep

 

Sadahurip, Talaga, Majalengka
7 Aah Muawwanah (Uwa Aah) & Abdul Ajid

  1. Yoyoh

(2 putra)

  1. Dedi

(2 putra)

  1. Iman

 

Campaga, Talaga, Majalengka
8 Epen Supendi (Ama) & Ene (Ibu)

  1. Yuli Nurullaili Efendi (Teh/ Dek Leli)
  2. Ahmad Mudzakkir Effendi (Ahmad)
  3. Abdul Basith Effendi (Nde)

 

Maja, Majalengka

 

Baru itu yang saya tahu dari Ibu dan Ama. Nanti ditambahkan lagi. Oya, di keluarga Ama, rata-rata sudah berkeluarga. Bahkan saya punya panggilan Eni (Nenek) dari cucu (anaknya anak alo –sepupu- ^^’)

***

Hal paling menyebalkan ketika ditanya-tanya. Nyaris di  S-E-T-I-A-P  tempat dan waktu dan S-E-T-I-A-P saudara/tamu yang didatangi atau mendatangi;

“Teh/ Dek, kapan nikah?”

“Duh sudah perawan si Teteh teh, mana calonnya? Orang Jogja ya? Atau orang sini?”

“insyaAllah, nanti Uwa datang ke Maja-nya kalo nikahan si Neng ya…”

“Bu, kapan hajatannya?”

^^’ hanya bisa menyediakan sesungging senyum *apakah tidak ada topik lain? Misalnya; kerja di mana? Jadi lanjut S2? Apa saja aktivitas di Jogja?

;; Ibulah yang menyediakan tameng; “Belum dikeluarkan jodonya Wa…” juga dengan senyum termanis ibu.

Maka, setelah melewatkan satu tiga rumah Uwa-Uwa, di rumah Uwa selanjutnya,  bersiap menahan nafas dan menyunggingkan senyum termanis, lalu mengangguk-angguk saja saat ditanya; “Kapan nikah?” *Belajardaripengalaman

Begitu juga pertanyaan SETIAP teman-teman SD di Desa Sadasari yang kukunjungi. Rata-rata semua sudah menikah dan beranak pinak; “Kapan….??? Tahun depan kalo ke sini bawa gandengannya ya?!” *Hmmmm… tidak ada yang bisa memaksakan takdir.  “Iya Teh… temennya Ahmad (adek) juga walimahan bulan depan. Kalo di sini, sudah kerja ataupun belum, kalo siap nikah ya nikah saja.” Ujar Bi Erah. *Begitu sederhananya pikiran orang-orang di sini. Sementara orang-orang kota, orang-orang berpendidikan tinggi,  cenderung berbelit-belit, mempertimbangkan banyak hal dalam berpikir dan memutuskan banyak hal .

Jika tahun depan belum menyiapkan  j-a-w-a-b-a-n, jadi malas untuk kembali berkunjung ataupun dikunjungi…

Tambah lagi,

Teh Fun; “Dek, kalo nikah nanti cukup salaman mengundang kerabat saja atau mau walimah besar-besaran di gedung?”

Apaan sih Teh?! *Mumet

sudahlah, kukembalikan semua padanya dan pada-Nya yang menanggung hatiku, hidupku, rizkiku, dan matiku…

TRY TO IKHLAS :’)

🙂 Be ikhlas

Ok, I would like to try :’)

Memang, jika dalam hidup ini kita mengekang diri dalam suatu lingkaran yang kita buat sendiri, akan sulit menemukan kebahagiaan. Kebebasan yang membahagiakan.

Ikhlas-lah… Lepaskan semua kekangan. Bebaskan hatimu. Bebaskan dirimu. Tidak ada sesuatu pun yang boleh mengekangmu, atau kau mengekang sesuatu atau seseorang, mengekang hatimu atau hati seseorang selain dengan kekangan/ikatan aqidah, persaudaraan, dan kekeluargaan.

Tidak ada sesuatupun yang boleh membuatmu menangis akibat kekangan kecuali atas dasar aqidah, persaudaraan, dan keluarga.

 

Radhiitu billahi rabba

Wa bil islaami diina

Wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rasuula

 

 

Aku ikhlas ALLAH menjadi Rabb-ku

Dan aku ikhlas ISLAM menjadi agamaku

Dan aku ikhlas MUHAMMAD menjadi Nabi dan Rasulku

 

 

Be ikhlas 🙂

Allah telah mengatur segalanya yang terbaik untuk menjadi manusia yang lebih baik 🙂

OK!

I   C A N   D O   I T !!! Aku pasti bisa (^^)9

*bi  idznillah…insyaAllah...

Fenomena membludaknya jamaah

12 Juli 2013

Bahagia sekali melihat masjid ini makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

Usai silaturrahim ke Bu Dukuh sampai lewat waktu berbuka, kuputuskan untuk menunaikan shalat maghrib di masjid Baiturrahman Mulungan Wetan. Tempat saya dan adik-adik SD hingga SMP biasa berkumpul malam mingguan dulu kala. Sekarang sekali waktu.

Bahagia sekali melihat masjid ini makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

Mataku membulat tak percaya. Melihat kembali adik-adik yang dulu sempat kubina. Mereka datang lagi ke masjid berombongan. Mata kami saling bertemu, saling melepas rindu.

“Nduk, Le… ke mana saja kalian….???”

“Mbak Yuliii….”

:’)

Usia mereka yang semakin dewasa, menyulitkan kami untuk bertemu kembali. Berkumpul bersama tiap malam mingguan bagi mereka sudah seperti ‘amalan anak kecil, anak TPA’. Mindset itu yang harus diubah! Dengan kondisi seperti sekarang ini, pertanyaannya adalah; How?!

Bahagia sekali melihat masjid ini makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

Ramadhan menyatukan kita semua… menyatukan kaum muslimin dalam shaf-shaf yang rapat dan padat di masjid-masjid… ramai-ramai melantunkan asma-Nya…

Tapi, setelah Ramadhan berlalu?

😥

Bahagia sekali melihat masjid-masjid makmur…

apalagi jika sepanjang waktu shalat seperti ini…

 

 

 

 

 

Kudeta Mesir: Kejahatan Kemanusiaan dan Pengkhianatan Demokrasi Terbesar Abad Ini

Redaksi – Minggu, 7 Juli 2013 12:46 WIB

 Maneger Nasution – Komnas HAM RI

Komnas HAM RI mengecam keras kudeta militer di Mesir yang menggulingkan Presiden Mohamed Morsi yang terpilih secara sah melalui mekanisme demokrasi.

Saya mengecam sikap Barat dan Parlemen Eropa karena tidak “tulus“ menyebut penggulingan itu sebagai kudeta. Mereka mengabaikan nilai-nilainya sendiri dengan tidak menyebut intervensi militer di Mesir sebagai kudeta. Ini adalah tes ketulusan Barat dan Eropa telah gagal. Hemat saya kudeta itu adalah kejahatan kemanusiaan, pengkhiatan demokrasi, serta mengorbankan rakyat dan masa depan Mesir.

“Ini adalah kejahatan kemanusiaan dan sebagai pengkhianatan demokrasi terbesar abad ini“.

Kudeta militer ini akan menjadi bencana bagi masa depan Mesir. Militer yang tampaknya “mundur” dari politik setelah lengsernya Hosni Mubarak (Februari 2011) telah kembali melangkah ke arena kekuasaan. Kudeta militer ini telah menjadi intervensi penghancuran politik negara Mesir yang baru saja menghirup udara demokrasi untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Komnas HAM RI juga menyampaikan ucapan duka kemanusiaan atas jatuhnya korban 17 orang tewas dan lebih dari 460 cedera akibat dalam bentrokan pada Jumat, seperti yang dilaporkan Kementerian Kesehatan Mesir (Metrotvnews.com, 5/7)

Komnas HAM RI mengimbau kepada masyarakat dunia untuk mengutuk keras kudeta militer terhadap pemerintahan yang sah dan berdaulat di Mesir. Tindakan ini adalah pengkhianatan terhadap nilai demokrasi yang telah menjadi norma secara universal.

Saya menyayangkan standard ganda PBB melalui sekjend-nya soal kudeta di Mesir. Ban Ki Mon “membiarkan” kudeta di Mesir dan melihatnya sebagai bentuk pengungkapan kebebasan bersuara. Berbeda sekali saat kudeta militer di Niger (2010) Uni Eropa,  AS, dan Prancis menghimbau Niger dengan selekasnya memulihkan tata tertib UUD. Pada 2012 mereka juga mengecam kudeta militer di Afrika Barat, Mali. Gedung Putih juga mengecam keras kudeta militer di Guinea mereka mengecam militer Bissau yang merebut kekuasaan dari kepemimpinan negara sipil. Negara-negara barat juga setali tiga uang, pada satu sisi mengagungkan demokrasi, namun pada kasus Mesir hanya diam seribu bahasa. ”Lantas kenapa pada saat terjadi kudeta di Mesir  semua pada diam? Ada apa ini sebenarnya?”

Saya berharap Presiden RI memberikan (lagi) sikap lebih lugas lagi soal krisis Mesir ini, karena fatsun politik Indonesia adalah bebas aktif. Indonesia  harus berperan aktif dalam menciptakan ketertiban dunia sesuai amanah UUD 1945. [ ]

sumber: http://www.eramuslim.com

baca juga :

pidato-yusuf-qardhawy-di-aljazeera

ini-pernyataan-para-pendukung-mursi

allahu-akbar-30-juta-rakyat-mesir-turun ke jalan Dukung Mursi

MARI ATUR POLA MAKAN

MasyaAllah… nduuuk…

 

*saat menginap di Fathiya yang isinya anak-anak mahasiswa.

 

Berapa kali kamu makan dari tadi sore hingga malam ini? Sore makan nasi. Bakda maghrib makan nasi lagi. Bakda isya…. makan bubur oatmeal.

 

Kan mau belajar Teh…, persiapan energi!”
ckckck… itu namanya r-a-k-u-s. atau kamu sedang stress po? Belum juga belajar dan belum hilang laparnya makan yang pertama, sudah makan lagi. Lagi dan lagi.

nafsu makan

Tahukah engkau saudaraku?

“Seburuk-buruk tempat yang kita isi adalah P-E-R-U-T.” Kata Nabi.

Maka, tahanlah! Karena ia juga melatih kita mengendalikan hawa nafsu.

Jujur, kalau saya stress, atau akan datang bulan, porsi makan jadi lebih banyak dan lebih sering ingin ngemil. Jadi gendut, tak usah dipikirkan. Atau dipikirkan nanti sajalah. Tapi sebaliknya, jika stress-nya berat, sangat banyak pekerjaan, atau merasakan kesedihan yang mendalam, sulit rasanya untuk makan. Jadi lebih kurus? Ya, itulah yang dikatakan orang-orang. Senang dibilang kurus? Tidak. *Apalagi jika terlalu kurus. Senangnya dibilang “ideal” ^^’

Ternyata, memang ada FAKTA ILMIAH PASANG SURUT NAFSU MAKAN…. kaitannya dengan stress dan emosi… baca artikel ini http://www.gosipartisindonesian.com/2013/06/stress-meningkatkan-nafsu-makan.html

Ternyata saudaraku, pola makan yang tidak teratur juga dapat menyebabkan dampak-dampak tidak positif. Berpengaruh pada lambung, tubuh yang menjadi lebih kurus atau menjadi lebih gemuk, paling parah, bisa menyebabkan kanker hati/ usus!!!

Ingat sebuah nasyid yang didasarkan sabda Nabi?

“Sepertiga dari perutmu isilah dengan …

Sepertiga dari perutmu isilah dengan …

Sepertiga dari perutmu isilah dengan…

“Tidaklah anak Adam memenuhi kantung yang lebih buruk dari perut.

Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya.

Namun jika ia harus (melebihinya),

hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan,

sepertiga untuk minuman,

dan sepertiga lagi untuk bernafas

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah. Dan At-Tirmidzi
berkata, “Hadits Hasan”

 

Mari, kita atur pola makan kita agar tidak ada sesal di kemudian hari. Yuk marii… ^^

SEBAIK LELAKI & SEBAIK WANITA #3

#3 SEBAIK LELAKI 

 

Lelaki TERAGUNG di jiwa wanita,

 

bukan cuma yang rajin shalatnya, melainkan yang ketekunan ibadahnya membuahkan akhlak mulia.

 

 

Lelaki TERSHALIH bagi wanita,

 

bukan sekedar yang banyak ilmu agama dan hafalan al-Qurannya, melainkan yang kedua hal itu teterjemah di kepribadiannya.

 

 

Lelaki TERSHALIH bagi wanita,

bukan yang sekadar banyak ilmu agama dan rajin ibadahnya; tapi juga yang paling mulia akhlaknya.

(Salim A. Fillah)

SEBAIK WANITA 3# 

Wanita yang ditakjubi malaikat itu berilmu dan berkeadaban;

dibaringkannya sang suami di pangkuan, disimak dan dibetulkannya hafalan al-Quran.

 

 Wanita yang dirindu surga,

 

tuan putri para bidadari; ditunaikannya amanah Allah lahir dan batin; sebagi anak, saudari, istri, ibu, dan nenek.

 

 Wanita yang tak disudi neraka;

 

syaitan gigit jari oleh syukurnya, putus asa oleh istighfarnya, tepok jidat oleh ridha suaminya.

 

 

(Salim A. Fillah)

 

PANTAI GLAGAH INDAH

Kali kedua menginjakkan kaki di tempat ini. *Entah mengapa tempat dengan latar beton-beton yang disusun untuk menahan gelombang laut yang ganas ini menjadi salah satu tempat yang terasa istimewa. Membawa memori.

Pertama kali bersama teman-teman (lebih tepatnya; adik-adik) Kelompok Studi Profetik Farmasi tahun 2010an *kalau tidak salah.

And here it’s… the best shoot I like! ^^

DSC01850

it’s so funny… isn’t it? ^^

Kedua kali… ya kali ini. Bersama keluarga besar PPM Baitussalam (benar-benar besar; karena masing-masing karyawan boleh mengikutkan istri/suami &semua anak-anaknya).

IMG_0422

Jika mencapai target, 230 orang ikut serta. Tapi sayang hanya separuh yang turut dalam acara *padahal isinya seneng-seneng…

IMG_0500

kemah kita 🙂

IMG_0425

IMG_0519 IMG_0550IMG_0513

Nasib jadi bujangwan dan bujangwati (baca; gadis/perawan/jomblo/single/… jelas? -red); kita benar-benar dicuekin di acara ini. Full lomba, full untuk keluarga; Lomba pasang tenda keluarga, smart family, kreasi jilbab ibu dan anak, futsal sarungan bapak-bapak, lomba kelereng anak-anak, lomba masak kelurga, pentas seni anak-anak, bakar jagung *kalau yang ini bujangwan bujangwati boleh ikut ^^’, dan terakhir… susur pantai Glagah indah bersama…. keluarga. Mari keluargaku, bujangwati… kita GJ bersama  :’D

IMG_0333

smart family

IMG_0347

Bu Bekti’s Family ^^

IMG_0364

Bu Baety’s Family 🙂

IMG_0365

Ust. Ali’s family 🙂

IMG_0366

Usth. Qibty’s Family 🙂

IMG_0380

ayoo… injak balonnya !!!

IMG_0391

Be careful dek kelerengnya….

IMG_0399

futsal sarungan ^^

IMG_0441

senangnya masa bersama keluarga :’)

IMG_0450

masakan ngasal bujangwaties; “maklum akhwat” ^^’

IMG_0480

ini baru masakan betulan… (keluarga siapa ya?)

Jadilah bujangwan bujangwati memisahkan diri masing-masing, luntang luntung, GJ bersama, juga tak ketinggalan… disuruh ini disuruh itu oleh panitia *alhamdulillah, ada kerjaan.

IMG_0534

Satu peristiwa yang tidak akan terlupakan; ketika hujan malam-malam sehingga tenda kebanjiran dan esoknya, terjadi suatu peristiwa!

;ombak yang tinggi menyeret saya dan teman-teman ketika berfoto, saat ingin mengambil gambar orang dengan latar ombak tinggi. Dan tahukah? Saat terseret sampai jauh…sampai basah kuyup… tepat di depan kami, siapa yang datang…? tebak?! Ustadz-ustadz! Dengan wajah menahan tawa dan ada yang terang-terangan menertawakan *Ustadz Aqil ki…  o>.<o

Wah! Benar-benar… pengalaman mengasyikan sekaligus memalukan yang tidak akan terlupakan! *kalau tidak mau dianggap anak kecil, saya mau lagi dibawa ombak bermain-main ^^’ Ustazdah Ana sudah siap-siap membuka mulut mengomentariku “Bu Doseen…. Bu Dosen. Ckckck…” #sambilgeleng-geleng. Memangnya tidak boleh po? #wajahtanpadosa…

Info

Tiket masuk  Rp.3000,-

Cooking Academy Series #1

3 Juli 2013

GORENG TEMPE DAN TUMIS SAWI

Eni (panggilan untuk Nenek) memiliki tangan dingin dalam soal masak memasak, bahkan pernah suatu masa, Rumah Makannya laris manis dan terkenal akan sambel dipadu lalapannya yang nikmat. Begitu pula adiknya Eni, jago membuat segala macam kue sehingga orderan tak pernah berhenti berdatangan menjelang lebaran. Ibu saya sendiri, pernah mencoba berbagai macam usaha makanan mulai dari menyetok telur asin, kacang manis asam, hingga dodol dari buah-buahan yang rasanya tak kalah enak dengan dodol  di pasaran. Barangkali saya juga punya keturunan tangan dingin macam ini. Hanya saja belum terasah *berharap^^’

Salah satu dari list rencana liburan sekolah yang super singkat ini adalah rencana; BELAJAR MEMASAK di kontakan lama; Fathiya. Serius.

Tadaa… inilah hasil percobaan pertama.

DSC_0000006

tempe goreng amburadul

DSC_0000005

tumis sawi manis 🙂

*Plis jangan ditertawakan, saya memang harus mulai dari level paling bawah soal memasak…

Butuh waktu 1 jam mulai dari menanak nasi sampai jadi *memang payah, it’s too long. Padahal lebih tepatnya saya membantu Ina memasak. Tapi, anggap saja saya yang masak ^^’

Tulis supaya tidak lupa.

DSC_0000004

bahan-bahan

RESEP GORENG TEMPE

Bahan : Tempe, garam, bawang putih, ketumbar, air hangat, minyak goreng

Cara :

  1. iris tempe menjadi potongan persegi panjang/ sesuai selera
  2. masukkan ke dalam air hangat yang telah dicampur tumbukan ketumbar, bawang, dan garam
  3. goreng dalam minyak goreng yang telah dipanaskan
  4. sajikan hangat 🙂

 RESEP TUMIS SAWI

Bahan : Daun Sawi segar, wortel,  bawang putih, bawang merah, cabe, garam

Cara :

  1. Potong-potong seluruh bahan
  2. Panaskan minyak sedikit saja
  3. Masukkan bawang putih, bawang merah, dan cabe terlebih dahulu
  4. Setelah tercium aromanya, masukkan wortel, goreng hingga empuk
  5. Masukkan daun sawi hingga layu, tambahkan air secukupnya
  6. Sajikan dengan senyuman 🙂

 

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (29)

DUA PULUH SEMBILAN

Tidak terasa, ini akhir tahun kedua Delya berada di Pondok kedamaian. Membersamai anak-anak dalam suka dukanya.

Pada acara tutup tahun kali ini, selain wisuda siswa tingkat Kelompok Bermain sampai siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama, anak-anak lainnya unjuk gigi menunjukkan kebolehannya dalam seni di sela-sela prosesi wisuda.

Satu yang menarik.

Pertunjukkan Piano&Biola salah seorang siswi SD. Ia anak yang istimewa; pengidap down syndrom. Dengan ciri khas wajah bulat mongol. Butuh waktu lama untuk memahami informasi yang ia dapatkan.

Tapi, ia cerdas musical…

Terharu…

Hanya sekolah Pondok Kedamaian ini satu-satunya sekolah di Prambanan yang mau menampung anak-anak yang kurang beruntung dalam akademik. Rata-rata mereka tidak diterima di sekolah-sekolah negeri atau swasta lainnya karena tidak ‘pintar’.

Biarlah, para guru Pondok Kedamaian justru bangga jika berhasil memintar-kan anak-anak yang secara basic tidak pintar. Mendidik dengan cara yang JUJUR da menanamkan kejujuran pada anak-anak didik. Dan para guru pun menyadari, bahwa setiap anak istimewa…

***

Ada saja tingkah anak-anak. Masing-masing anak memang istimewa. Mereka memiliki ciri khas masing-masing.

Meta yang… subhanallah…. jika kebetulan berpapasan dengan Delya, ia tidak akan berhenti bertanya penasaran, atau bercerita aaaaapapun hingga waktu saja yang memutuskan ucapan-ucapannya (kecerdasan lingual).

Imah, ada saja gerakan dan sikap tubuhnya yang aneh-aneh. Banyak juga kejadian-kejadian lucu yang terjadi akibat sikap tubuhnya yang aneh-aneh itu. Tipe anak dengan kecerdasan kinestetik, juga interpersonal. Keluwesannya dalam bergaul membuat ia memiliki banyak teman. Ia pun hormat pada gurunya. Tak jarang jika bertemu Delya, ia segera menyambut dan menanti untuk memegang tangan Delya, menciumnya, mengusap-ngusapnya, memeganya dan tak mau melepaskannya “Bu guruuu… tangannya lembut sekaliii….” Tuing @@’ selalu.  Imah penggemar tangan Delya  “Mah, bawa saja deh tangan Bu guru…”  ^^’

Khodijah, ia anak kelas sembilan. Namun kharismanya sudah terpancar sejak saat melihatnya pertama kali, hingga teman-temannya pun tak ada yang tak menuruti apa katanya (gurunya bisa kalah dalam soal ini). Ia dewasa menyikapi segala hal (kecerdasan interpersonal dan moral).

Salma B, anak seorang ustadz terkenal. Secara akademis, ia termasuk siswi yang biasa. Tapi, ia sangat pandai menggunakan mulutnya untuk meniru suara-suara alat musik. Acapella. Maka, julukan untuknya sekarang adalah; Salma Big Box (kecerdasan musikal).

🙂

kecerdasan

Mereka generasi-generasi penerus bangsa. Calon-calon ibu penegak agama dan negara.

Delya, perlakukanlah mereka sesuai kemampuan akalnya, kecerdasannya…