WOMAN

Telah kesekian kali mendengar kisah-kisah pilu para istri yang teraniaya hanya karena pemahaman akan ilmu-ilmu agama yang melenceng.

***

Apa lagi yang harus kulakukan? Kulihat cermin. Sesosok perempuan dengan pipi tirus, gelayut mendung,  dan sendu muncul di bayangan cermin saat aku berdiri di depannya. Sangat berbeda dengan sosok yang muncul di cermin beberapa bulan lalu. Segar merona bahagia…

Semuanya seperti neraka. Bagaikan berada di sebuah lubang sempit yang menyiksa di tengah dunia yang maha luas. Aku tidak diperbolehkan keluar dari ruang sepetak yang biasa orang-orang sebut dengan kos ini. Tidak boleh bergaul dengan tetangga, tidak boleh bekerja, tidak boleh melakukan apapun di luar sana kecuali untuk membeli keperluan dengan uang yang… minim.

Memang, istri pertamanya tidak suka dan mengusirku dari rumahnya sehingga aku ‘ditaruh’ suamiku di sebuah kos. Suamiku tinggal bersama istri pertama dan anak-anaknya.

Masalah makan, suamiku membelikan rice cooker, dan sesekali datang memberikan beras alakadarnya. Dengan kecap dan garamnya. Juga uang yang tidak akan cukup untuk sekadar membeli tempe selama sebulan. Maka, kebanyakan tetangga yang iba memberikan sesuatu padaku di penjara ini. Juga teman-temanku. Itu pun mereka lakukan secara diam-diam. Jika suamiku sampai tahu, ia akan marah besar.

Baju yang kupakaipun dipermasalahkannya. Tidak boleh warna warni. Harus yang gelap. Dan ia akan marah bahkan ketika kupakai baju (yang menurutku akan menyenangkannya saja) di dalam kos. Ia mengharuskanku tinggal di dalam kos, mengharuskanku membaca buku-buku dan beribadah dengan tekun di sana. Ia benar-benar mengurungku…

Nafkah batin? Ia yang telah menjadi suamiku, tak pernah menyentuhku. Kalian akan tahu kondisiku. Lihatlah aku… pengantin baru yang justru tampak kuyu. Rona bahagia saat pernikahan itu memudar, menjadikanku seperti mayat berjalan. Kurus kering, pucat, dan kesepian…

Oh Allah, mengapa ia, suamiku, tega memperlakukanku seperti ini? Apakah dengan alasan karena aku istri keduanya, dan ia semena-mena memperlakukanku seperti ini?

Padahal…

Ia yang dijuluki ustadz oleh masyarakat. Ia yang menjadi harapanku untuk mengimamiku dunia akhirat dengan baik… Ia yang bersedia meminangku, menjadikanku istri keduanya, meski usiaku tak lagi muda… lelaki yang kulihat sholih itu…

Lalu, untuk apa ia menikahiku jika aku hanya diperlakukan seperti ini? Seperti barang yang tak perlu diperhatikan dan dibiarkan begitu saja? Hidup segan matipun tak mau…

***

Di dunia ini, tak sedikit para perempuan yang terdzalimi pasangan hidupnya… (meski bisa jadi, ada kejadian sebaliknya). Entah dengan cara seperti cerita diatas, entah itu disiksa dengan kekerasan fisik, diselingkuhi, bahkan ada yang dengan teganya dibunuh… Kesemuanya pasti berdampak buruk bagi perempuan itu sendiri, juga bagi anak-anaknya…

Aku benar-benar tidak suka penganiaya, tak habis pikir dengan cara pikirnya. Apalagi jika ia mengaku-ngaku Ustadz, kyai, atau apalah… memakai julukan, simbol,& atribut agama. Rasa-rasanya, aku tak bisa memaafkannya!!! Sungguh!

Tidak sadarkah kalian wahai kaum Adam, bahwa perempuan diciptakan untuk dilindungi??!! tidak untuk dianiaya, apalagi dijadikan sapi perah!!! Ingin dihormati, disegani, dilayani, berkuasa dalam rumah… tapi…

bukankah justru tugas pemimpin adalah untuk melayani rakyatnya?! mendahulukan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi?! Tidak mendahulukan egosentris?!

Ketahuilah, jika dipahami, perempuan mendapatkan tempat yang sangat khusus dan spesial dalam Islam. Bahkan, jika hitung-hitungan, dengan kondisi fisik dan emosinya, dan berdasarkan firman Allah dan ucapan utusan-Nya, tugas perempuan hanya satu :  ‘melayani’ (tanda petik) suami. Just that!

Urusan rumah tangga, anak, dkk? Semua adalah tanggungjawab kepala keluarga.

woman

Ia akan membuatmu nyaman, dengan membuatnya merasa aman…

😥 *really feeling not good…

RO 2014

Desember ini terasa bagai seabad. Waktu seperti berjalan merayap… what’s wrong?

Tapi satu tahun itu tidak terasa sudah terlewat… apa yang sudah tercapai? *jujurlah pada diri sendiri

Rencana Operasional 1 tahun ke depan:

1. menjaga tilawah minimal 1 juz per hari à ODOJ #78

2. menjaga hafalan à setorkan pada pembimbing

3. nambah hafalan min. 1 juz à setorkan pada pembimbing

4. hafal ulang 42 hadist Arba’in

5. les TOEFL mati-matian, target: min.500

6. olah raga renang  1x/minggu

7. baca buku di luar mata kuliah 1 buku/minggu

8. daftar b

9. …

10. …

11. ….

… . meninggalkan BMC dengan sistem kesehatan yang mapan

… . rencana yang tidak bisa disebutkan di atas

… . menyusun target selanjutnya 🙂

Sebagai manusia, Dia Allah membiarkanku berencana. Meski Dia memiliki rencana-Nya sendiri yang telah tertulis jauh sebelum rencanaku ini ditulis.

Untuk apa semua hal kita lakukan? Untuk apa?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Rabb… -,-

Lalu, mengapa kita masih mencari hal yang membuat-Nya memalingkan muka dari kita? Mengapa…???

Rabb… ampuni kami… kepada siapa lagi kami bisa memohon ampunan selain kepada-Mu?

What must we do now?

; berusaha kembali mencari muka di hadapan-Nya

Artinya…

AKU HARUS MENJADI HAMBA YANG ISTIMEWA!!!

Yang lebih benderang di antara yang lain

Caper! *pikirkan satu amalan istimewamu, sederhana, tapi kontinyu!

Satu tahun ke depan, tentulah sama tidak akan lama… tidak akan lama Ly… tidak akan lama…

Tetaplah berkarya dan memperbaiki hati dan diri!

Be stronger!

akhwat berkuda

Bangunan

Tukang-tukang di samping asrama itu tampak serius mengaduk semen dan mulai memakai adukannya untuk membangun sebuah bangunan. Bangunan itu hampir jadi sekarang.

Sering sudah aku memperhatikan banyak bangunan. Baik rumah, gedung, jalan, sampai jembatan layang. Walaupun tidak tahu banyak soal bangunan, yang jelas, menurutku, sebuah bangunan itu menampakkan kejeniusan pribadi dan sosial para pembuatnya. Bahan-bahan terbaik yang tepat yang dipilihnya sesuai kondisi.

Menjadi muslim yang baik ibarat sebuah bangunan yang baik.

Pondasi = aqidahnya
Tiang dan tembok = ibadah & muamalahnya
Atap = dakwah & jihadnya

Pondasilah yang menentukan kokoh tidaknya bangunan. Keyakinan akan pengawasan Allah, malaikat-malaikat-Nya, utusan-Nya, kiamat, balasan hari akhir, dan keyakinan akan takdir, akan menentukan segala tindak tanduk seseorang. Tutur katanya, gerak-geriknya, perilakunya…

Ibadah & muamalah sebagai tiang dan tembok adalah pembuktian kuatnya pondasi. Penghias sebuah bangunan. Khusyuknya ibadah… Indahnya akhlak…

Atap sebagai pelengkap, pelindung bangunan. Tanpa atap, tanpa dakwah, tanpa kesungguhan berjihad, bagaimana bisa bangunan bertahan?

Jika pondasinya saja tidak kuat, ketika diterpa badai ujian atau diguncang gempa cobaan, apakah sanggup bertahan?

home-value

Ya Rabb, izinkan kami menata diri, menjadi muslim yang baik.
Bersabar dalam menunaikan perintah-Mu.
Bertahan meniti jalan kebenaran.
Dan bersungguh-sungguh dalam bersabar dan bertahan dari berbagai cobaan yang terasa tidak menyenangkan maupun yang terasa menyenangkan…
Hindarkan kami dari kegilaan yang menjauhkan kami dari jalan-Mu dari diri-Mu…

Ya Rabb, izinkan kami…
Menata diri,
menjadi muslim yang baik…
Seperti bangunan,
yang baik…

Haruskah terhenti sampai di sini?

Haruskah aku kembali membuka lembaran kehidupan baru?
“Teh, Pak Mus tadi cuma menyampaikan. Nanti dihubungi lagi oleh bagian personalia dan pimpinan pondok…”

What must I do now?
***
Rasanya belum mendapatkan apa-apa di Jogja. Masih ingin menimba ilmu di kota pelajar yang penuh ilmu dan kemudahan akses mendapatkan ilmu. Dan tenagaku masih dibutuhkan di sini. Bahkan baru kumulai membuka lembaran baru tahun ajaran ini dengan ritmenya yang nyaris membuat badan porak poranda. Nyaris seharian , berangkat pukul 6 pagi, bekerja, sampai di pondok nyaris maghrib, dan langsung disambut dengan serbuan kabar “Ustadzah, ada yang sakit di asrama ini dan itu… Ustadzah, tenggorokanku sakit.. ustadzah, kulitku gatal… ustadzah, ana pilek dan batuk… ustadzah tadi ikhwan ada yang mencari, sepertinya ada yang sakit di asramanya…” dan semuanya baru diusaikan minimal pukul 11 malam. Jika tidak kuat, jam 9 atau 10 sudah pada posisi siap merebahkan diri. Tak kuat lagi sekedar menyalurkan hobi menulis pada malam hari. Nyaris setiap hari… Sungguh ritme baru yang membutuhkan kondisi prima setiap hari.
Bagaimanapun, aku harus kuat.
***
“Klinik di Husnul membutuhkan ijin apoteker untuk beroperasional mulus. Sebagai lulusan terbaik Husnul, kami sangat mengharapkan teh Yuli kembali. Masih ada satu tahun lagi kontrak ngabdi kan ya?”
….
“Kalau masalah tebusan karena sudah menandatangani kontrak itu bisa kami urus…”
….
“Kalau STIKES di Kuningan juga ada Teh…”
….
“S2-nya tahun depan kan Teh?”

Krik krik… aku tidak yakin semangatku menimba ilmu lagi tidak luntur, atau karena hal lainnya, jika telah berada di zona nyaman Husnul…
Sesungguhnya, tidak ada alasan sangat kuat untuk tidak kembali ke kampung halaman.

Apakah semuanya memang harus terhenti?
Mimpi-mimpi yang ingin kugapai, target-target yang harus kucapai, amanah-amanah yang belum tertunaikan… di Jogja…
Rabb…apa yang sebenarnya kuinginkan???

Apakah semuanya memang harus terhenti?
Demi menunaikan hutangku, mengabdi pada pondok yang telah membesarkanku, mengenalkanku pada Islam sesungguhnya…
Di mana balas jasamu?

Apakah semuanya memang harus terhenti?
Sampai di sini?

Sungguh… aku senang mendengarkan senandung Yogyakarta Katon Bagaskara. Tapi aku samasekali tak ingin sungguhan menyenandungkannya suatu saat 😥

SURVIVE!

“Kamu tidak tulus…”

Cukup. Cukup. Dan cukup.

Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Dari mana ia tahu urusan hati orang lain?

OK, well… jujur, saya sedang sangat sangat saaangatt sedih dan merasa … *tak terkatakan… karena kata-kata itu… Telah berhari-hari kesulitan mengendalikan kelenjar air mata untuk tidak mengeluarkan airnya. Tapi nihil. Tiap kali menengok ke suatu arah, berusaha mengalihkan perhatian, menghilangkannya, ia malah hadir menggenangi pelupuk mata. Hingga sembab. Hingga meler, sesak, flu, nyeri di perut, pusing. Jelek. Tidak bolehkah meruahkan semua?

Ya, TIDAK BOLEH!

Ternyata selama ini, mata air yang mengalir ‘terasa tulus’ terlimpah mencari muaranya melalui ucapan dan tindakan malah berarti lain baginya; mencekik, mengekang kebebasannya untuk bergerak, mengganggu hidup sang muara…

ingin kuminta satu hal lagi, untuk memperjelas semua.. tapi itu hanya akan merusak ritmik gelombang muara… sudahlah…

Ingin rasanya membenamkan diri, ditelan bumi, dan tak ada orang lagi yang mengingatku pernah ada di muka bumi ini. Fiuhhh, dasar sisi melankolis! Sudah kubayangkan dalam pikiranku menutup semua akses yang menghubungkanku dengan orang-orang; mengganti nomor telpon genggam, ganti alamat e-mail, tutup blog, tutup akun jejaring sosial. Dan… beres! Aku akan benar-benar menghilang!!!

Tapi buat apa hal tersebut kulakukan? Akankah mengorbankan banyak hal, banyak hubungan yang telah terjalin, hanya karena satu orang atau karena sesuatu yang terjadi?

TIDAK!

Biarlah saya tetap menjadi diri sendiri yang membuka diri dengan orang-orang seperti apa adanya mereka mengetahui seperti apa diri saya. Sama seperti yang kulakukan dulu-dulu. Posting blog seperti biasa; supaya anak cucuku bisa membaca&mengambil pengalaman-pengalaman berharga nenek moyangnya (walaupun ada yang konyol& melow-melow), dan menulis memang salah satu hobiku, caraku menumpahkan cipta-karya-rasa. Juga pasang status &ikut komen jejaring seperti biasa; menyambung silaturrahim&mencari info-info penting. Dan mencoba untuk bersikap biasa kepada siapa saja, semuanya, tidak terkecuali, demi silaturrahim. Yah, semoga semua bisa kulakukan seperti biasa.

Jujur, aku malu, tapi lihatlah, aku memang bebal. Naluri survival-ku muncul. Aku harus bertahan dan terus ‘hidup’. Aku tidak ingin air mata yang selalu berlomba-lomba keluar akhir-akhir ini menghambat hubungan sosialku dengan orang-orang di sekelilingku. Banyak aktivitas produktif yang harus dilakukan dengan S-E-N-Y-U-M-A-N 🙂 ketimbang dengan wajah buruk yang meringis sakit menahan tumpahnya air dari kelenjar air mata. Please, JANGAN JADI PEREMPUAN CENGENG! Syukurlah, lingkunganku tidak mengijinkanku ‘mati’ hanya karena sakit.

Biarkan. Biarkan hati sembuh sendiri tanpa air mata lagi. Setelah kumohon, biarkan Zat Yang Mahamenyembuhkan bekerja mereparasi hati yang terlanjur kroak. Atau seperti kata Tere Liye; tidak mereparasi, tapi…

menggantinya dengan hati yang baru :’)

TIDAK. ULANGI. Tanpa tanda kutip (‘)

Tapi…

menggantinya dengan hati yang baru 🙂

 

LIFE IS BEAUTIFUL

HIDUP TERLALU INDAH UNTUK SEKEDAR DITANGISI BUKAN?

=)