WOMAN

Telah kesekian kali mendengar kisah-kisah pilu para istri yang teraniaya hanya karena pemahaman akan ilmu-ilmu agama yang melenceng.

***

Apa lagi yang harus kulakukan? Kulihat cermin. Sesosok perempuan dengan pipi tirus, gelayut mendung,  dan sendu muncul di bayangan cermin saat aku berdiri di depannya. Sangat berbeda dengan sosok yang muncul di cermin beberapa bulan lalu. Segar merona bahagia…

Semuanya seperti neraka. Bagaikan berada di sebuah lubang sempit yang menyiksa di tengah dunia yang maha luas. Aku tidak diperbolehkan keluar dari ruang sepetak yang biasa orang-orang sebut dengan kos ini. Tidak boleh bergaul dengan tetangga, tidak boleh bekerja, tidak boleh melakukan apapun di luar sana kecuali untuk membeli keperluan dengan uang yang… minim.

Memang, istri pertamanya tidak suka dan mengusirku dari rumahnya sehingga aku ‘ditaruh’ suamiku di sebuah kos. Suamiku tinggal bersama istri pertama dan anak-anaknya.

Masalah makan, suamiku membelikan rice cooker, dan sesekali datang memberikan beras alakadarnya. Dengan kecap dan garamnya. Juga uang yang tidak akan cukup untuk sekadar membeli tempe selama sebulan. Maka, kebanyakan tetangga yang iba memberikan sesuatu padaku di penjara ini. Juga teman-temanku. Itu pun mereka lakukan secara diam-diam. Jika suamiku sampai tahu, ia akan marah besar.

Baju yang kupakaipun dipermasalahkannya. Tidak boleh warna warni. Harus yang gelap. Dan ia akan marah bahkan ketika kupakai baju (yang menurutku akan menyenangkannya saja) di dalam kos. Ia mengharuskanku tinggal di dalam kos, mengharuskanku membaca buku-buku dan beribadah dengan tekun di sana. Ia benar-benar mengurungku…

Nafkah batin? Ia yang telah menjadi suamiku, tak pernah menyentuhku. Kalian akan tahu kondisiku. Lihatlah aku… pengantin baru yang justru tampak kuyu. Rona bahagia saat pernikahan itu memudar, menjadikanku seperti mayat berjalan. Kurus kering, pucat, dan kesepian…

Oh Allah, mengapa ia, suamiku, tega memperlakukanku seperti ini? Apakah dengan alasan karena aku istri keduanya, dan ia semena-mena memperlakukanku seperti ini?

Padahal…

Ia yang dijuluki ustadz oleh masyarakat. Ia yang menjadi harapanku untuk mengimamiku dunia akhirat dengan baik… Ia yang bersedia meminangku, menjadikanku istri keduanya, meski usiaku tak lagi muda… lelaki yang kulihat sholih itu…

Lalu, untuk apa ia menikahiku jika aku hanya diperlakukan seperti ini? Seperti barang yang tak perlu diperhatikan dan dibiarkan begitu saja? Hidup segan matipun tak mau…

***

Di dunia ini, tak sedikit para perempuan yang terdzalimi pasangan hidupnya… (meski bisa jadi, ada kejadian sebaliknya). Entah dengan cara seperti cerita diatas, entah itu disiksa dengan kekerasan fisik, diselingkuhi, bahkan ada yang dengan teganya dibunuh… Kesemuanya pasti berdampak buruk bagi perempuan itu sendiri, juga bagi anak-anaknya…

Aku benar-benar tidak suka penganiaya, tak habis pikir dengan cara pikirnya. Apalagi jika ia mengaku-ngaku Ustadz, kyai, atau apalah… memakai julukan, simbol,& atribut agama. Rasa-rasanya, aku tak bisa memaafkannya!!! Sungguh!

Tidak sadarkah kalian wahai kaum Adam, bahwa perempuan diciptakan untuk dilindungi??!! tidak untuk dianiaya, apalagi dijadikan sapi perah!!! Ingin dihormati, disegani, dilayani, berkuasa dalam rumah… tapi…

bukankah justru tugas pemimpin adalah untuk melayani rakyatnya?! mendahulukan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi?! Tidak mendahulukan egosentris?!

Ketahuilah, jika dipahami, perempuan mendapatkan tempat yang sangat khusus dan spesial dalam Islam. Bahkan, jika hitung-hitungan, dengan kondisi fisik dan emosinya, dan berdasarkan firman Allah dan ucapan utusan-Nya, tugas perempuan hanya satu :  ‘melayani’ (tanda petik) suami. Just that!

Urusan rumah tangga, anak, dkk? Semua adalah tanggungjawab kepala keluarga.

woman

Ia akan membuatmu nyaman, dengan membuatnya merasa aman…

😥 *really feeling not good…

Iklan

Kisah Remaja Belasan Tahun yang Membunuh Abu Jahal di Perang Badar

VOA-ISLAM.COM – Sungguh berbeda kondisi para remaja di zaman ini dengan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Remaja masa kini tenggelam dengan tsunami pergaulan bebas dan weternisasi. Perilaku mereka tak lagi meneladani sang Rasulullah namun Boys Band dan artis-artis semisal Justin Biber. Tak sampai disitu, wabah “alay” pun menjangkiti, lebih parah lagi diantara mereka ada yang bangga bertingkah seperti banci.

Sungguh tak akan selesai mengungkap kebobrokan remaja di zaman ini, maka sudah saatnya para remaja mulai memperbaiki diri. Lihatlah apa yang dilakukan dua remaja ketika perang Badar di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dr. Raghib As Sirjani dalam kitabnya “Risalatun ila Syababil Ummah” yang diterjemahkan berjudul  “Menjadi Pemuda Peka Zaman”, dengan bahasa yang komunikatif beliau menjadikan kisah tersebut sebagai motivasi bagi para remaja. Berikut ini petikan kisah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ tersebut.

Kedua pemuda yang masih belia ini mempunyai kisah hidup yang tidak pernah terpikir atau terbesit di dalam benak siapapun. Pertama adalah Muadz bin Amr bin Jamuh, usianya baru empat belas tahun. Sementara yang kedua adalah Muawwidz bin Afra’, usianya baru tiga belas tahun.

Kedua pemuda yang masih belia ini mempunyai kisah hidup yang tidak pernah terpikir atau terbesit di dalam benak siapapun. Pertama adalah Muadz bin Amr bin Jamuh, usianya baru empat belas tahun. Sementara yang kedua adalah Muawwidz bin Afra’, usianya baru tiga belas tahun. Akan tetapi, dengan penuh antusias keduanya bergegas ikut serta bergabung bersama pasukan kaum muslimin yang akan berangkat menuju lembah Badar.

Kedua pemuda belia ini memiliki nasib baik karena tubuh keduanya terlihat kuat dan usianya terlihat relatif lebih dewasa. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menerima keduanya masuk dalam skuad pasukan kaum muslimin yang akan berperang melawan kaum musyrikin pada perang Badar. Meskipun usia mereka masih sangat muda belia, tetapi ambisi mereka jauh lebih hebat dan lebih besar daripada ambisi para orang tua atau kaum lelaki yang lain.

Di sini mari kita dengarkan bersama penuturan dari seorang sahabat yang mulia Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu. seperti yang terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari. Abdurrahman Radhiyallahu ‘anhu menggambarkan sikap dan tindakan yang sangat ajaib dari kedua pemuda pemberani ini! Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu menuturkan :

“Pada perang Badar, saya berada di tengah-tengah barisan para Mujahidin. Ketika saya menoleh, ternyata di sebelah kiri dan kanan saya ada dua orang anak muda belia. Seolah-olah saya tidak bisa menjamin mereka akan selamat dalam posisi itu.”

Kedua pemuda belia itu adalah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhuma. Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu sangat heran melihat keberadaan kedua anak muda belia ini di dalam sebuah peperangan yang sangat berbahaya seperti perang Badar. Abdurrahman merasa khawatir mereka tak akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari orang-orang di sekitar mereka berdua, disebabkan usia keduanya yang masih muda.

Lalu Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya dengan penuh takjub :

“Tiba-tiba salah seorang dari kedua pemuda ini berbisik kepada saya, ‘Wahai Paman, manakah yang bernama Abu Jahal?” Pemuda yang mengatakan hal ini adalah Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu Ia berasal dari kalangan Anshar dan dirinya belum pernah melihat Abu Jahal sebelumnya. Pertanyaan mengenai komandan pasukan kaum musyrikin, sang lalim penuh durjana di Kota Mekkah dan “Fir’aun umat ini”, menarik perhatian Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu. Lantas ia pun bertanya kepada anak muda belia tadi, “Wahai anak saudaraku, apa yang hendak kamu lakukan terhadapnya?”

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu tewas (gugur).”

Sang pemuda belia itu menjawab dengan jawaban yang membuat Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu tak habis pikir! Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu tewas (gugur).”

Ya Allah, betapa kokoh dan kuatnya sikap anak muda belia ini! Seorang anak muda belia yang tinggal di Madinah Al-Munawwarah. Ketika ia mendengar bahwa ada orang yang mencaci maki baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekkah yang jaraknya hampir 500 km dari tempat tinggalnya, bara api kemarahan berkobar di dalam hatinya dan semangat ingin membela baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membara di dalam jiwanya.

Ia pun berikrar untuk melakukan sesuatu yang bisa membela keyakinan, harga diri dan tempat-tempat suci agamanya. Dan kesempatan itu datang kala perang berkecamuk, yakni ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa Abu Jahal menuju lembah Badar. Maka ia pun berikrar bahwa ia sendiri yang akan membunuhnya.

Sungguh, pemuda belia ini benar-benar bersumpah bahwa jika ia melihat Abu Jahal, maka ia tidak akan membiarkannya begitu saja hingga salah seorang dari mereka meninggal dunia. Ia tidak merasa cukup hanya dengan tercapainya cita-cita ikut serta dalam perang Badar dan melakukan tugas mulia yang dibebankan kepadanya.

Tidak merasa cukup hanya dengan memenuhi mimpinya dengan membunuh seseorang dari pasukan kaum musyrikin saja. Akan tetapi, yang menjadi ambisi utamanya, impian masa depannya, target dan tujuan hidupnya; adalah ia harus membunuh si durjana dan si lalim ini (Abu Jahal). Meskipun tebusannya, ia akan mati syahid di jalan Allah.

Subhanallah! Sebenarnya, ia boleh saja – tidak ada orang yang akan mencelanya – berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan membunuh salah seorang dari kalangan kaum musyrikin dan menyerahkan urusan membunuh komandan pasukan kaum musyrikin yang lalim ini kepada salah seorang pahlawan Islam terkemuka, atau salah seorang ahli perang yang sudah diketahui kemampuan dan kemahirannya dalam bertempur. Akan tetapi, ambisi dan obsesi utamanya laksana ingin sampai ke puncak bangunan yang tinggi menjulang.

Tentunya, hal ini bukan satu sikap yang biasa. Ini adalah satu sikap yang benar-benar menakjubkan. Bahkan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu sendiri menuturkan, “Saya pun merasa takjub akan hal itu.” Namun rasa takjub dan keheranan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu belum berhenti sampai di situ. Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu bukan satu-satunya anak muda belia yang jarang ditemukan di tengah-tengah barisan pasukan kaum muslimin. Ia punya teman sejawat yang saleh dan seusia atau sedikit lebih muda darinya. Anak muda ini juga bersaing dengannya dalam hal yang sama.

Melihat Abu Jahal, darah amarah kedua pahlawan belia ini pun membara. Tekad bulat mereka semakin mantap untuk merealisasikan tugas yang sangat mulia, yang senantiasa bergeliat dalam mimpi dan benak pikiran meraka.

Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Seorang pemuda belia yang lain (Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu) menghentak saya dan mengatakan hal yang serupa.” Lalu Abdrurahman melanjutkan kisahnya, “Tiba-tiba saja saya melihat Abu Jahal berjalan di tengah-tengah kerumunan orang ramai. Saya berkata, “Tidakkah kalian melihat orang itu ia adalah orang yang baru saja kalian tanyakan kepadaku!”

Melihat Abu Jahal, darah amarah kedua pahlawan belia ini pun membara. Tekad bulat mereka semakin mantap untuk merealisasikan tugas yang sangat mulia, yang senantiasa bergeliat dalam mimpi dan benak pikiran meraka.

Sekarang, mari kita simak bersama penuturan Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu ketika ia menggambarkan situasi yang sangat menakjubkan tersebut, seperti yang terdapat dalam riwayat Ibnu Ishaq dan di dalam kitab Ath-Thabaqat karya Ibnu Sa’ad.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saya mendengar kaum musyrikin mengatakan, ‘tidak seorang pun dari pasukan kaum muslimin yang dapat menyentuh Al-Hakam (Abu Jahal)’.” Saat itu , Abu Jahal berada di tengah-tengah kawalan ketat laksana pohon yang rindang.

Abu Jahal, sang komandan terkemuka dari bangsa Quraisy datang dalam iring-iringan para algojo dan orang-orang kuat laksana hutan lebat. Mereka melindungi dan membelanya. Ia adalah simbol kekufuran dan komandan pasukan perang, sehingga sudah pasti jika pasukan batalyon terkuat di kota Mekkah dikerahkan untuk melindungi dan membelanya.

Di samping itu, kaum musyrikin juga saling menyerukan, “Waspadalah, jangan sampai pemimpin dan komandan kita (Abu Jahal) terbunuh!” Mereka mengatakan, “Tidak seorang pun musuh yang dapat menyentuh Abul-Hakam (Abu Jahal)!”

Wahai generasi muda Islam! Pemuda belia ini baru berusia empat belas tahun. Dirinya mampu memotong betis Abu Jahal hanya dengan satu pukulan saja. Padahal Abu Jahal berada dalam perlindungan dan pengawalan yang sangat ketat dari pasukan kaum musyrikin.

Meskipun Abu Jahal dilindungi sedemikian rupa dan pengawalannya begitu ketat, namun hal itu tak menghalangi Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu untuk tetap membulatkan tekadnya, melaksanakan tugasnya, serta merealisasikan cita-cita suci di dalam hidupnya.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Ketika saya mendengarkan perkataan itu, saya pun semakin membulatkan tekad. Saya memfokuskan diri untuk mendekatinya. Ketika tiba waktunya, saya langsung menghampirinya dan memukulkan pedang kepadanya hingga setengah kakinya (betis) terputus.”

Subhanallah! Hanya satu sabetan pedang dari tangan anak muda belia ini, betis seorang lelaki (Abu Jahal) putus dalam sekejap.

Tanyakanlah kepada para dokter atau tim medis yang pernah melakukan operasi pemotongan, betapa sulitnya melakukan hal tersebut! Coba pula tanyakan kepada para pahlawan dan ahli perang yang bergelut di medan pertempuran yang dahsyat, betapa sangat sulitnya hal itu dilakukan!

Wahai generasi muda Islam! Apa sebenarnya yang kita bahas sekarang? Apakah kita berbicara mengenai tingkatan kepahlawanan dalam perang yang ideal? Ataukah gambaran keberanian yang sangat fantastis? Ataukah seni keahlian perang yang paling indah? Ataukah kekuatan tenaga? Ataukah ketajaman daya pikir dan insting? Ataukah kejujuran dalam berjihad, niat yang ikhlas, dan keinginan yang kuat? Ataukah sebelum semua itu, dan yang paling penting kita bicarakan adalah tentang taufik (pertolongan) Allah ‘azza wa jalla kepada para mujahidin di jalan-Nya. Allah azza wa jalla berfirman :

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut : 69)

Wahai generasi muda Islam! Pemuda belia ini baru berusia empat belas tahun. Dirinya mampu memotong betis Abu Jahal hanya dengan satu pukulan saja. Padahal Abu Jahal berada dalam perlindungan dan pengawalan yang sangat ketat dari pasukan kaum musyrikin.

Ia benar-benar telah merealisasikan mimpinya selama ini. Hati sanubarinya terasa damai, dan ia telah berhasil membalas dendam kesumatnya demi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, apakah semua itu dilakukan begitu saja tanpa pengorbanan?!

Hal itu sangat mustahil! Tentunya taruhannya harus ditebus dengan darah. Sebab, pohon kejayaan dan kemuliaan tidak akan tumbuh berkembang selain dengan darah-darah para Mujahidin dan Syuhada.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Pada perang itu (Badar), anaknya (Abu Jahal), Ikrimah -pada waktu itu ia masih musyrik – menebas lengan saya dengan pedangnya hingga hampir terputus dan hanya bergantung pada kulitnya saja.”

Tangan pemuda belia itu hampir terpisah dari tubuhnya, hanya bergantung pada kulitnya saja. Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu kehilangan lengan tangannya di jalan Allah!

Namun di atas semua itu, berputus asakah ia? Menyesalkah ia? Apakah ia merasa bahwa ia telah melakukan tindakan yang salah? Apakah ia berharap, seandainya ia tidak ikut dalam medan perang serta hidup dengan selamat dan damai di Madinah, sehingga dirinya terhindar dari luka penderitaan, dan cacat?

Wahai generasi muda Islam! Semua itu sedikit pun tak pernah terbesit dalam benaknya. Justru yang menjadi ambisinya pada saat-saat seperti ini adalah ia harus meneruskan perjalanan jihadnya di jalan Allah Ta’ala. Sebab, masih banyak musuh yang memerangi umat islam dan orang-oarng ikhlas harus segera membela dan berjuang meskipun hanya dengan satu tangan.

Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya,

“Pada hari itu, saya benar-benar berperang seharian penuh. Tangan saya yang hampir putus itu hanya bergelantungan di belakang. Dan ketika ia menyulitkan saya, saya pun menginjaknya dengan kaki, lalu saya menariknya hingga tangan saya terputus.”

Ia justru memisahkan tangan dari jasadnya agar bisa mengobarkan jihad dengan bebas dan leluasa! Subhanallah! Lantas, di mana teman pesaingnya untuk membunuh si durjana dan si lalim kelas kakap itu? Di mana Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu?

Lalu Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu melintas di hadapan Abu Jahal yang sedang terluka parah, kemudian ia pun menebasnya dengan pedang. Kemudian membiarkannya dalam keadaan tersengal-sengal dengan nafas terakhirnya.

Mari kita simak bersama penuturan Muadz bin Amr bin Jamuh ra. tentang teman pesaingnya ini :

“Lalu Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu melintas di hadapan Abu Jahal yang sedang terluka parah, kemudian ia pun menebasnya dengan pedang. Kemudian membiarkannya dalam keadaan tersengal-sengal dengan nafas terakhirnya.”

Maksudnya, Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu juga berhasil merealisasikan tujuan dan cita-citanya. Ia menebas Abu Jahal dengan pedang di kala ia berada di tengah-tengah kerumunan para pengawal dan pelindungnya. Namun, ia berhasil memukul Abu Jahal hingga membuatnya terjungkal ke tanah seperti orang yang tak berdaya, tetapi ia masih mempunyai sisa-sisa nafas terakhir. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu datang untuk menghabisi nyawa Abu Jahal.

Demikianlah keadaaannya. Kedua pahlawan cilik ini berlomba-lomba dan bersaing untuk menghabisi si durjana, yang pada akhirnya mereka mendapat nilai seri!

Coba perhatikan! Dalam rangka apa mereka bersaing?

Lantas keduanya datang menjumpai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing mengatakan, “Saya telah membunuh Abu Jahal, wahai Rasulullah!”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka berdua sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Apakah kalian telah menghapus (bercak darah yang menempel pada) pedang kalian?“ mereka berdua menjawab, “Belum.” Maka beliau melihat kedua pedang pahlawan cilik tersebut. Lantas beliau bersabda, “Kalian berdua telah membunuhnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menyimpulkan bahwa kedua pahlawan- belia itu memperoleh nilai yang sama dan seri.

Subhanallah! Apakah sampai di sini saja kisah kepahlawanan kedua pemuda belia ini? Belum, wahai generasi muda Islam! Namun, kisah mereka masih terus berlanjut pada babak berikutnya.

Kita telah menyaksikan bahwa Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu harus rela kehilangan tangannya sebagai harga mati dari perjuangan, kejujuran, dan kebulatan tekadnya. Lantas apa yang telah dipersembahkan oleh Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu? Muawwidz Radhiyallahu ‘anhu telah mempersembahkan seluruh jiwanya. Sehingga ia memperoleh mati syahid di jalan Allah!

Pahlawan tangguh yang masih muda belia ini – usianya baru tiga belas tahun – terus melanjutkan petualangan jihad dan perjuangannya setelah ia mempersembahkan perjuangan yang sangat berharga hingga terbunuhnya Abu Jahal. Akan tetapi, ia tidak merasa puas hanya dengan perjuangan sebatas itu. Meskipun hasilnya bisa dibanggakan, namun ia terus berjuang dan maju menerjang musuh hingga memperoleh mati syahid di jalan Allah, yang padahal usianya masih sangat muda belia.

Wahai generasi muda, biginilah simbol kejayaan dan kemuliaan! Dan beginilah persaingan yang hakiki. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَفِيْ ذلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthaffifin : 26). Sampai disini kisah tersebut.

Sungguh saat ini, umat begitu merindukan sosok remaja seperti Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ yang siap membinasakan Abu Jahal abad ini

Ketahuilah wahai para pemuda, betapa leluasa Abu Jahal abad ini mencaci hingga memerangi umat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Jahal abad ini telah menghina syari’at i’dad dan jihad yang Allah Ta’ala perintahkan dengan sebutan keji; “tindak pidana terorisme.” Mereka tuding semangat menegakkan daulah islamiyah dan khilafah sebagai paham radikal. Mereka hinakan para ulama muwahhid dengan menghakiminya lewat hukum thaghut. Mereka menawan para mujahidin dan membantainya sesuka hati. Bahkan yang lebih “gila” lagi, mereka fitnah gerakan jihad dibiayai lewat bisnis narkoba (narcoterrorism).

Masih adakah remaja yang mendidih darahnya menyaksikan kezhaliman tersebut? Sungguh saat ini, umat begitu merindukan sosok remaja seperti Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ yang siap membinasakan Abu Jahal abad ini.  Wallahu a’lam bis Shawab [Ahmed Widad]

Family Time!

Dengan alasan tidak bisanya saya pulkam ke Majalengka karena kampus tidak meliburkan karyawan macam saya, juga adik pertama tidak pulang… maka datanglah keluarga kecil ini; Ibu, Ama (bapak), Nde(adik bungsu, kembaran saya) dengan travel langganan…

Senangnyaaa…

Tempat-tempat ini yang kami sekeluarga jelajahi dalam waktu dua hari (saja)

IMG_20131229_111000

IMG_20131229_111011 IMG_20131229_111134 IMG_20131229_111151 IMG_20131229_145538

  1. Alun-alun Kidul

Hihi… di sini, ibu sangat penasaran mencoba melewati antara dua pohon beringin sampai tiga kali mencoba sodara-sodara! Dan belum berhasil 😀 selalu melenceng ke kanan atau ke kiri pohon. Tanya kenapa? Sementara saya sport jantung, berusaha percaya pada pengendali sepeda tiga jok

IMG_20131228_195419

IMG_20131228_195429

*saat ini, lewat pohon gratis –kecuali sewa penutup mata,

sepeda tiga jok Rp.30.000

  1. Sunday Morning UGM

Tempat cocok bagi yang ingin berburu barang-barang unik atau kebutuhan anak kos atau sekedar cuci mata dan sarapan. Terjadi pembicaraan serius antara anak dan ibunya saat sarapan di sini, hasilnya? sebuah keputusan…

*gratis kecuali parkir kendaraan –Rp.2000 (motor) dan

mengambil barang dagangan orang; bayar 😀

  1. Gembira Loka

Ini karena Ama ingin bertemu sodaranya di bonbin -,- Apa enaknya coba, melihat hewan-hewan dikerangkeng dalam ‘penjara’?
But, keep smile coz i’m with my family now :p *sayang terburu-buru cabut karena Ama sendiri sudah kelelahan mengelilingi rute bonbin…

IMG_20131229_113703

IMG_20131229_122026

IMG_20131229_122903

IMG_20131229_123040

IMG_20131229_123944

IMG_20131229_124442

IMG_20131229_130214

IMG_20131229_130307

IMG_20131229_135121

*Tiket masuk dewasa : Rp.20.000,-

  1. Pantai Parangtritis

Pantai? sudah biasa. Yang istimewa, kembali bertemu dengan kuda-kuda yang gagah. Dan dengan baik hati, pemilik kuda membiarkan kami menunggangi kuda-kuda sendiri, mengajari kami cara mengendalikan tali kekangnya… Love it!

IMG_20131229_155029

IMG_20131229_155204

IMG_20131229_155240

IMG_20131229_161813

IMG_20131229_162806

IMG_20131229_162903

IMG_20131229_163013

*Tiket masuk: Rp.4.750,-/orang

Main2 di pantai; gratis

Naik kuda Rp.30.000,-/1 putaran

Pertemuan keuarga yang singkat. Sabtu pagi sampai di Jogja, ditinggal kerja sampai jam tiga, sore jalan, terjebak macet… Ahad pagi-sore jalan… dan Ahad malam pulang karena Ibu harus memasukkan data hari Seninnya. Belum lagi Aki (kakek) dan Eni (nenek) yang butuh kehadiran ibu untuk membantu segala kebutuhannya. *Pelajaran : jika ingin menyewa mobil di Jogja saat musim liburan, harus pesan jauh-jauh hari. Jika tidak, sangat sulit menemukannya & biasanya dipatok lebih mahal dari harga normal (Jazz 12 jam Rp.350.000,-)!

What a beautiful & unforgetable moment with my family 🙂

 ***

Ibu, raut wajah yang lelah… mulai berkeriput dan beruban di sana sini… 52 tahun… dan kali ini berkata, yang selama ini tidak pernah beiau ungkapkan dengan terang-terangan…; “Ingin segera menggendong cucu.” What?!

Penghujung 2013

RO 2014

Desember ini terasa bagai seabad. Waktu seperti berjalan merayap… what’s wrong?

Tapi satu tahun itu tidak terasa sudah terlewat… apa yang sudah tercapai? *jujurlah pada diri sendiri

Rencana Operasional 1 tahun ke depan:

1. menjaga tilawah minimal 1 juz per hari à ODOJ #78

2. menjaga hafalan à setorkan pada pembimbing

3. nambah hafalan min. 1 juz à setorkan pada pembimbing

4. hafal ulang 42 hadist Arba’in

5. les TOEFL mati-matian, target: min.500

6. olah raga renang  1x/minggu

7. baca buku di luar mata kuliah 1 buku/minggu

8. daftar b

9. …

10. …

11. ….

… . meninggalkan BMC dengan sistem kesehatan yang mapan

… . rencana yang tidak bisa disebutkan di atas

… . menyusun target selanjutnya 🙂

Sebagai manusia, Dia Allah membiarkanku berencana. Meski Dia memiliki rencana-Nya sendiri yang telah tertulis jauh sebelum rencanaku ini ditulis.

Untuk apa semua hal kita lakukan? Untuk apa?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Bukankah kita ingin mendapatkan wajah-Nya?

Rabb… -,-

Lalu, mengapa kita masih mencari hal yang membuat-Nya memalingkan muka dari kita? Mengapa…???

Rabb… ampuni kami… kepada siapa lagi kami bisa memohon ampunan selain kepada-Mu?

What must we do now?

; berusaha kembali mencari muka di hadapan-Nya

Artinya…

AKU HARUS MENJADI HAMBA YANG ISTIMEWA!!!

Yang lebih benderang di antara yang lain

Caper! *pikirkan satu amalan istimewamu, sederhana, tapi kontinyu!

Satu tahun ke depan, tentulah sama tidak akan lama… tidak akan lama Ly… tidak akan lama…

Tetaplah berkarya dan memperbaiki hati dan diri!

Be stronger!

akhwat berkuda

22 Desember; Hari ibu…

Hari ibu… apa yang dirimu lakukan untuk ibumu?

Terpana…

Beberapa orang &beberapa peristiwa telah membuatku menangis… untuk ibu…

Tidak akan cukup semua yang kuberikan untuk ibu ini membalas semua yang diberikan ibu untukku. Tidak akan.

Apapun, seberapa pun banyaknya, tidak akan…

Ibu, kata-kata manis memang tidak mampu kuucapkan dari mulut ini.

Setidaknya, suara, sapa, tanya, dan dengarku menandakan bahwa aku ada untuk ibu.

Aku memang pengecut, lari dari lingkaran hitam…

Tapi bukan berarti lari dari ibu

Tidak mungkin lepas dari kerinduan akan peluk hangat dan suara lembut ibu

Tidak mungkin lupa akan besarnya pengorbanan ibu

Tidak mungkin

Lingkaran hitam yang ingin kuhindari jauh-jauh…

Maafkan aku ibu,

 

Aku sayang ibu… :’)

Tunggulah suatu masa… ibu….

Leave it?!

Pernahkah kau merasakan dunia… tampak lain dari biasanya…

Aku yakin, dunia tempat kaki ini berpijak tetaplah dunia yang sama.

 

Mengapa terlihat ada dunia baru?

Dunia lain yang baru

Bukan duniaku

HS007_350AAAA

 

 

Oh God… why it’s have to happen?!

 

Memiliki dua dunia tidaklah menyenangkan

Membelah dua hati terasa menyakitkan

Kadang tampak baik di dunia nyataku

dan baik juga di dunia baru, namun dengan parameter yang berbeda

 

Sungguh…

Aku ingin tetap menjadi diriku yang tanpa cela

Tanpa noda

Dalam satu dunia

Dalam satu jiwa

Yang bening

 

Melakukan apapun…

Mengalir…

Bagai air sungai yang jernih, tanpa membawa tanah yang membuat keruh…

 

What

must

I

Do

?!

 

*Leave the new world???

Ayez & Aktur :)

Lama  tidak menuliskan sesuatu. Mandek oleh otak yang full dan aktivitas fisik yang melelahkan.

Posting tulisan yang dulu pernah kutulis ini saja Ok?!

***

Lucunyaaaaa anak-anak ini….

Tidak ada anak kecil yang tidak lucu. Setuju???

Termasuk yang dua ini :

Antares Al-Farisi Zaman & Arcturus Al-Farabi Zaman

Keduanya adalah anak dari Bu Dwi, Kepala Prodi di tempat saya bekerja. Beberapa kali mengunjungi rumah beliau dalam rangka membicarakan persiapan-persiapan sebelum perkuliahan dimulai, beberapa kali itu pula bertemu dengan Ayez ddan Aktur.

Antares = Bintang paling terang

Arcturus = Bintang paling besar

“Ayah keduanya memang pecinta astronomi,” ujar Bu Dwi.  “Kami pun tidak ingin membeda-bedakan anak-anak termasuk nama. Karena suatu saat salah satu atau mungkin keduanya akan menanyakan apapun yang telah kita perbuat pada mereka. Mengapa kakak diperlakukan begini, tapi adik diperlakukan begitu?”

Aktur masih bayi, baru terlahir sekitar sebulan yang lalu. Sering menangis akibat dijahili kakaknya; Ayez. Barangkali pelampiasan rasa cemburu karena perhatian Bundanya tersedot pada Aktur.

aktur
aktur 🙂

Meski usianya baru 3 tahun, Ayez tampak sangat cerdas. Tutur katanya jelas, perilakunya saja sudah seperti orang dewasa; terkadang sok menasihati “Yang sabar ya…”  ^.^

*belakangan, baru kuketahui bahwa ternyata Ayez sering dijadikan model anak cerdas tapi cerewet oleh para mahasiswa psikologi UGM dan UII. Dan ia memang betul-betul menjadi bintang dimanapun berada; di rumah, di sekolah, di keluarga besarnya…

Kulitnya putih bersih *mandi saja bisa tiga sampai lima kali sehari karena memang kulitnya sensitif debu dan keringat. Kedua pipinya gembul merona. Matanya bulat bersinar dengan sorot kecerdasan di atas rata-rata. Rambutnya hitam legam dan jigrak. Badannya tegap seperti ayahnya.

ayez
ayez

***

Melihat Ayez; teringat seseorang;

ibu…

Yang gurat-gurat di wajahnya mulai menjelas. Yang satu persatu timbul warna abu di antara helai rambutnya… sorot matanya begitu banyak menceritakan harapan-harapan penuh pada putri semata wayangnya. Tapi aku tahu, ibu selalu bisa bersabar… Sabar ya Bu… 🙂 *meniru gaya Ayez ^^

ayez.

Kisah Ksatria Thariq bin Ziyad Saat Menaklukkan Andalusia

VOA-ISLAM.COM – Andalusia adalah negeri kaum Muslimin yang pernah ditaklukan oleh panglima perang Thariq bin Ziyad. Thariq berasal dari suku Barbar, Afrika yang kemudian memeluk Islam. Entah mungkin untuk mendiskreditkan perjuangan Thariq bin Ziyad, kata-kata Barbar kemudian jika disematkan kemudian berkonotasi negatif, yang berarti tidak beradab, kejam atau kasar.

Andalusia

Negeri Andalusia yang pernah dikuasai kaum Muslimin dan sempat mencapai kegemilangan di bidang ilmu pengetahuan di bawah pemerintahan Islam kini telah dikuasai Nasrani. Oleh sebab itu, Syaikh Abdullah Azzam -rahimahullah- menyinggungnya dalam kitab “An-Nihayah wal Khulashah”:

“Bahkan jihad itu telah menjadi fardlu ‘ain bukan saja sejak Rusia memasuki Afghanistan, akan tetapi jihad telah menjadi fardlu ‘ain semenjak jatuhnya Andalusia ke tangan orang-orang Nasrani, dan hukumnya belum berubah sampai hari ini.

Dengan demikian jihad telah menjadi fardlu ‘ain sejak tahun (1492 M), tatkala Ghornathoh (Granada) jatuh ke tangan orang-orang kafir — ke tangan orang-orang Nasrani — sampai hari ini. Dan jihad akan tetap fardlu ‘ain sampai kita mengembalikan seluruh wilayah yang dahulu merupakan wilayah Islam, ke tangan kaum muslimin.”

Semoga kisah kegemilangan Thariq bin Ziyad yang dikutip dari kitab “Shuwarun min Hayatil Fatihin” bukan sekedar nostalgia semata, namun bisa menginspirasi dan memotivasi kaum Muslimin untuk berjihad meraih kembali kejayaan Islam.

Thariq bin Ziyad

Sang Penakluk Andalusia

Tariq_ibn_Ziyad

Thariq dilahirkan pada tahun 50 H (670 M), di tengah suku keluarga Berber (Barbar, red.) dari kabilah Nafazah, di Afrika Utara.

Thariq berperawakan tinggi, berkening lebar, dan berkulit putih kemerahan. Dia masuk Islam di tangan seorang komandan muslim bernama Musa bin Nusair, orang yang dikagumi karena kegagahan, kebijaksanaan dan keberanianya.[1]

Jalan Ke Andalusia

Misi ekspansi pasukan Islam ke luar Jazirah Arab bermula di masa Khulafaur Rasyidin, dengan tujuan menyebarluaskan Islam ke seluruh wilayah yang memungkinkan untuk di jangkau pasukan Islam. Maka tercapailah penaklukan atas Syam (Syiria, Palestina, dan sekitarnya), Irak dan Iran (Persia).

Pasukan muslimin juga berangkat menaklukan Mesir di bawah pimpinan panglima ‘Amru ibnul-‘Ash. Mesir saat itu berada di bawah kekuasaan penjajah Romawi (Bizantium). Setelah masuk ke Mesir, mereka menuju ke arah Burqah, lalu sampailah pasukan Islam ke Tripoli (sekarang ibu kota negara Libya-red.) untuk mengepungnya dan mendudukinya.

Pada masa kekhilafahan Usman bin Afaan, pasukan Islam mulai membuka ekspansi ke kawasan Maghribi (Maroko dan sekitarnya), di bawah komandan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Di dalam pasukan terdapat putra-putra sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.[2]

Tekad dan semangat mereka semakin kuat setelah berperang melawan pasukan Romawi yang dipimpin Jurjir. Ekspansi itu berlanjut cepat hingga memasuki kota Carthago di pantai Utara Afrika, sebelah utara kota Tunis sekarang. Pasukan Islam di wilayah Ifriqiya ini di pimpin oleh komandan Uqbah bin Nafi’. Ia memiliki wawasan yang luas tentang situasi daerah itu. Selanjutnya ia membangun kota Qairawan (Kairaouan) di Tunisia, untuk mengukuhkan keberadaan Islam di bumi Afrika.

Selanjutnya Uqbah bin Nafi’ dan pasukannya bergerak kearah barat dan selatan dan sampai ke Tangier (Arab: Tanja), sekarang Maroko. Dalam perjalanan pulang ke Qairawan ia dihadang gerombolan suku Berber. Uqbah bin Nafi’ terbunuh bersama tiga ratus tentaranya. Ia dimakamkan di suatu tempat yang sekarang dinamai Sidi Uqbah (Tahuda) di Aljazair sekarang.

Kaum muslim menuntut balas atas kematian Uqbah, dan mereka berhasil membunuh Kasilah, komandan perang Berber. Namun, tindakan balas-membalas itu tidak berkepanjangan, sebab orang Berber sudah merasa puas dengan terbunuhnya Zuhair bin Qais yang membunuh Kasilah. Zuhair gugur di Qadisiyyah (Irak).

Dan pada akhirnya pasukan muslimin berhasil menaklukkan wilayah Ifriqiya di bawah komando Hasan bin an-Nu’man al-Ghassani yang berhasil menceraiberaikan pasukan Berber. Ia juga memorakporandakan pasukan Romawi, dan menang dalam perang melawan pasukan Al-Kahin (Sang Dukun) sesudah menaklukkan Bazrat.

Setelah itu datanglah Musa bin Nushair sebagai pemegang komando utama pasukan muslimin di Afrika. Ia meraih berbagai kemenangan sampai jauh ke barat di tepi samudera, dan kembali ke Qairawan sesudah terbina keamanan dan ketertiban.

Saat itulah seorang komandan Berber bersama pasukannya masuk Islam. Ia sebelumnya dikenal sebagai komandan penjaga di Tangier. Ia adalah Thariq bin Ziyad.

Jalan ke daratan Spanyol terbuka luas setelah Julian, pangeran Spanyol di Ceuta (Sabatah) meminta bantuan Musa bin Nusair untuk menyerang dan menjatuhkan Raja Roderick dari bangsa Visigoth yang berkuasa di Spanyol dari ibu kotanya di Toledo. Julian marah karena Raja Kristen Roderick memperkosa adik perempuannya yang ia titipkan ke Raja untuk bisa memperoleh pendidikan tinggi. Thariq dan Julian pun berkawan dekat.

Menaklukkan Andalusia (Spanyol)

Musa bin Nushair merasa perlu menguji Count (Pangeran) Julian dengan mengirim 500 tentara di bawah komando Tharif ke wilayah yang sampai kini dinamai Tarifa, di ujung paling selatan Spanyol. Orang Arab menamakannya Jazira Tharif (Terifa). Itu terjadi pada tahun91 H.[3]   Tharif membawa misi utama pengintaian kekuatan Kerajaan Bangsa Visigoth, serta penjajakan bagi sebuah operasi militer besar.

Gubernur Musa semakin yakin akan kejujuran Pangeran Julian, setelah Pangeran Ceuta itu juga menyiapkan kapal-kapal yang akan digunakan untuk menyerang Spanyol. Dan setetlah mendapat izin dari Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus, Musa pun memutuskan menyerang Spanyol. Apalagi saat itu Raja Roderick di Toledo sedang menghadapi pemberontakan di bagian utara kerajaannya. Untuk melaksanakan misi besarkannya itu, Musa memilih seorang Berber, Thariq bin Ziyad, sebagai Komandan.

Panglima perang Thariq bin Ziyad bersama 7000 tentara, yang mayoritas berasal dari suku Berber, menyeberang ke Spanyol di tahun 711 M. ia mendarat dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal (gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.

Setelah berhasil menyeberang ke daratan Spanyol, tiba-tiba Thariq mengambil langkah yang hingga sampai kini membuat tercengang para ahli sejarah. Ia membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangut pasukannya itu. Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan lantang berwibawa, dan tegas.

Dalam pidatonya yang penuh semangat, panglima Thariq berkata;

“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku…”

Selanjutnya ia berteriak kencang: “Perang atau mati!” Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh anggota pasukannya.

Dan pada 19 Juli 711 M, pasukan Thariq yang saat itu berjumlah 12000 personil setelah ada tambahan pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai (Rio) Barbate. Peperangan di bulan Ramadhan itu berlangsung sengit selama delapan hari. Pasukan Roderick pada awalnya sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan kanan pasukan mereka berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Dan pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya dipukul mundur. Pasukan Islam berhasil meraih kemenangan gemilang. Roderick sendiri menghilang, dan di duga ia tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan di tepi sungai.

Gubernur Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada Khalifah Al-Walid, melukiskan jalannya peperangan Rio Barbate. “Penaklukan ini berbeda dari penklukan-penaklukan lain. Peristiwa seperti kiamat,” tulisnya.

Kemenangan telak dalam pertempuran di Sungai Barbate itu membentang jalan bagi masuknya Thariq bin Ziyad menuju kota Sevilla yang dijaga oleh benteng-benteng kuat. Tapi sebelum merebut Sevilla, Thariq lebih dulu menaklukkan daerah-daerah lain yang lebih lemah. Sebagian ditaklukkan dengan cara damai, tapi sebagian terpaksa dengan kekerasan karena warga setempat melawan. Mereka bersikap ramah terhadap penduduk yang tidak melawan.

Pasukan Thariq yang sudah lebih besar karena ada tambahan pasukan baru, kini mengarah ke Toledo, ibukota Visigoth (Gotik Barat). Di jalan ke Toledo itu mereka menyapu kota Ecija dimana sempat terjadi perdamaian dan menerima kekuasaan Muslim atas wilayah itu.

Dengan cepat Thariq berusaha menaklukkan sebagian besar tanah Spanyol, yang oleh orang Arab dinamakan Al-Andalus (Andalusia) itu. Ia lalu membagi-bagi pasukannya ke dalam beberapa kelompok. Satu pasukan berhasil merebut Arkidona tanpa perlawanan, dan pasukan lainnya juga dengan mudah merebut kota Elvira dekat Granada. Ia lalu menaklukkan Cordoba dan sebagian wilayah Malaga. Kemudian diteruskan dengan mengepung Granada yang berhasil ditaklukkan dengan jalan kekerasan.

Thariq lalu menuju ibukota Toledo. Di dalam perjalanan dia menyerang kota Murcia dan menghancurkan kerajaannya sampai lumat. Ketika pasukan Islam di Toledo ternyata para pemimpin Gotik telah meninggalkan wilayah itu. Thariq memasukinya dengan mudah. Ketika itu pasukannya didukung pula oleh ksatria-ksatria Kristen lokal yang tak suka kekuasaan Bangsa Gotik Barat di negaranya.

Thariq terus mengejar para pejabat Gotik ke gunung, hingga mendapatkan harta rampasan yang sangat banyak. Harta dan para tawanan dibawa ke Toledo. Di sana para tawanan dipekerjakan untuk membangun kembali kota itu, antara lain dengan membangun 365 tiang terbuat dari batu Zabarjud.

Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada Thariq bin Ziyad, dan memerintahkannya untuk menghentikan gerakan, dan tetap berada di tempat surat itu tiba. Tapi, Thariq malah mengumpulkan para pejabatnya, merundingkan strategi perang.  Semuanya berpendapat melaksanakan perintah Musa akan mempersulit strategi perang mereka. Sebab, sudah terbuka untuk merekrut pasukan asal Toledo dan meraih momentum untuk menyerang lawan yang belum menyadari situasi.

Karena itu Thariq melanjutkan penaklukan seraya merekrut milisi dari warga Toledo yang sudah kalah. Thariq mengabarkan keputusannya ini kepada Musa bin Nushair disertai alasan-lasannya.

Ketika pesan Thariq sampai, Musa langsung berangkat ke Spanyol  pada bulan Juni 712 M dengan membawa 18.000 tentara, kebanyakan orang Arab. Dan seperti yang pernah disepakati dengan Thariq, pasukan Musa bin Nushair segera menuju Sevilla, kota terkuat Spanyol saat itu. Sebelum ke Sevilla pasukan Musa menaklukkan Medina Sidon dan Carmona. Musa mengepung ketat kota Sevilla dan akhirnya berhasil menghancurkan kota pusat kebudayaan Spanyol itu.  Namun kota itu ditinggalkan Musa dalam keadaan kobaran api dan ia melanjutkan perjalanan  ke arah Toledo.

Warga Sevilla tetap tak rela terhadap pendudukan oleh pasukan Muslim di sana. Setelah panglima Musa bin Nushair meninggalkan kota itu, milisi Sevilla kembali beraksi mengobarkan pemberontakan. Mereka dapat membunuh tentara Muslim. Mendengar berita itu, Musa segera mengirim anaknya Abdul Aziz, untuk kembali ke Sevilla. Ia sendiri terus menuju Toledo.

Mendengar kabar akan datangnya panglima utamanya, Musa bin Nushair, Thariq segera keluar ke perbatasan Toledo untuk menyambut Musa. Namun Musa sangat marah kepadanya. Thariq dianggap telah mengabaikan perintahnya untuk menghentikan sementara penaklukkan sampai ia datang ke Spanyol. Begitu marahnya Musa sampai ia memasukkan jendralnya itu ke dalam penjara layaknya seorang penjahat.

Di depan sidang dewan pertahanan, Musa menyatakan memecat Thariq bin Ziyad, dengan tujuan memperbaiki segala sesuatu yang telah dilakukan Thariq. Sekalipun Thariq berupaya menjelaskan bahwa keputusannya itu dilakukan demi kemaslahatan kaum Muslimin dan sudah dimusyawarahkan dengan para penasehat, Musa tetap teguh pada pendiriannya. Ia mengganti Thariq dengan Mughits bin Al-Harits, tapi Mughits menolaknya. Ia segan menjadi komandan di atas Thariq sang pemeberani.

Mughits bahkan bertekad membela Thariq bin Ziyad. Diam-diam dia mengirim kabar kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik tentang situasi yang berkembang.  Al-Walid sangat marah mendengarnya. Ia lalu menyurati Musa dan memerintahkan agar kedudukan Thariq dipulihkan sebagai komandan pasukan. Dan Musa menaati perintah pemimpinnya di Damaskus itu.

Kemudian kedua panglima itu bergerak terus ke utara, hingga berhasil menaklukkan Castilla, Aragon dan Catalonia (Barcelona). Keduanya bahkan sampai ke pegunungan Pyrennes yang menjadi batas antara Spanyol dan Perancis. Sekiranya tidak ada perintah dari Damaskus untuk menghentikan penaklukan, niscaya gerakan mereka berdua tak tertahankan untuk menguasai seluruh benua Eropa.

Perjalanan hidup panglima Thariq bin Ziyad, sang penakluk Spanyol yang agung telah menjadi bagian dari sejarah patriotisme Islam melalui penaklukan Andalusia. [Widad/Miftahul Jannah]

thariq-bin-ziyad


[1] Baca Daulatu al-Islam fii al-Andalusia, oleh Dr. Abdullah ‘Inan.

[2] Antara lain: Al Hasan dan Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah), Abdullah bin Umar ibnul –Khaththab, Abdullah bin ‘Amr ibnnul-‘Ash, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Abu Bakar, dan lainnya (-Ed).

[3] Taarikh Fath al-Maghribi wa al-Andalus, Dr. Al-‘Ubadi

Setiap orang bisa berubah…

Seperti satu dari dua Umar (Umar bin Khattab dan Umar bin Hasyim–Abu Jahal)
Salah satunya bisa berubah. Benar-benar berevolusi!
Keduanya memiliki karakter yang sama. Keras. Getas. Benar-benar menetang seruan dakwah Rasulullah dengan penentangan yang amat. Namun apa yang terjadi setelah do’a Rasulullah ini terlantunkan menuju langit?
“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar, Umar bin Khatab atau Umar bin Hasyim(Abu Jahal).”
Umar bin Khattab-lah yang akhirnya tercerahkan…
Karakter kerasnya yang digunakan untuk menentang Islam berbalik 180°C menjadi penentang segala bentuk kekafiran… namun menjadi lembut pada sesama. Mudah menangis saat teringat dosa-dosa dan pertanggungjawaban yang harus dihadapinya…
Bagaimana ia bisa berubah? Sesuatu yang awalnya sangat mustahil.
***

Personality (kepribadian) : sejumlah karakteristik individu yang cenderung menetap dan kemudian ditampilkan lewat perilaku

Trait (sifat) : respon yang senada (sama) terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.

Character (karakter) : suatu kualitas atau sifat yang terus-menerus dan kekal yang dapat dijadikan mengidentifikasikan individu.

Disposition (watak) : karakter yang lama dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.

Temperament (temperamen) : kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologik atau fisiologik.

Type (ciri) : aspek yang yang mengkategorikan manusia menjadi beberapa jenis model atau jenis tingkah laku.

Habit (kebiasaan) : respon yang sama untuk stimulus yang sama pula dan cenderung berulang.

Semua definisi di atas masih satu keluarga. Karakter itu major partnya sedangkan sifat adalah minor partnya. Jadi, karakter adalah pola pembentuk sifat kita.

Contoh:
Karakter : keras
sifatnya: tegas, galak, dkk

Karakter sabar
sifatnya : keibuan, penyayang, lembut, dkk

***
Apapun karakter kita, semua hal positif maupun negatif dalam diri kita bisa berubah. Sesuai kondisi yangmelingkupi kita….
Hal-hal negatif bisa diubah…
Terutama karena dorongan SPIRITUAL … layaknya Umar bin Khattab…
***

People don’t change by beating themselves up or condemning themselves. The key, rather, is to simply acknowledge what we are doing and and why, then move on without self judgement
(Riso& Hudson)

Bangunan

Tukang-tukang di samping asrama itu tampak serius mengaduk semen dan mulai memakai adukannya untuk membangun sebuah bangunan. Bangunan itu hampir jadi sekarang.

Sering sudah aku memperhatikan banyak bangunan. Baik rumah, gedung, jalan, sampai jembatan layang. Walaupun tidak tahu banyak soal bangunan, yang jelas, menurutku, sebuah bangunan itu menampakkan kejeniusan pribadi dan sosial para pembuatnya. Bahan-bahan terbaik yang tepat yang dipilihnya sesuai kondisi.

Menjadi muslim yang baik ibarat sebuah bangunan yang baik.

Pondasi = aqidahnya
Tiang dan tembok = ibadah & muamalahnya
Atap = dakwah & jihadnya

Pondasilah yang menentukan kokoh tidaknya bangunan. Keyakinan akan pengawasan Allah, malaikat-malaikat-Nya, utusan-Nya, kiamat, balasan hari akhir, dan keyakinan akan takdir, akan menentukan segala tindak tanduk seseorang. Tutur katanya, gerak-geriknya, perilakunya…

Ibadah & muamalah sebagai tiang dan tembok adalah pembuktian kuatnya pondasi. Penghias sebuah bangunan. Khusyuknya ibadah… Indahnya akhlak…

Atap sebagai pelengkap, pelindung bangunan. Tanpa atap, tanpa dakwah, tanpa kesungguhan berjihad, bagaimana bisa bangunan bertahan?

Jika pondasinya saja tidak kuat, ketika diterpa badai ujian atau diguncang gempa cobaan, apakah sanggup bertahan?

home-value

Ya Rabb, izinkan kami menata diri, menjadi muslim yang baik.
Bersabar dalam menunaikan perintah-Mu.
Bertahan meniti jalan kebenaran.
Dan bersungguh-sungguh dalam bersabar dan bertahan dari berbagai cobaan yang terasa tidak menyenangkan maupun yang terasa menyenangkan…
Hindarkan kami dari kegilaan yang menjauhkan kami dari jalan-Mu dari diri-Mu…

Ya Rabb, izinkan kami…
Menata diri,
menjadi muslim yang baik…
Seperti bangunan,
yang baik…

Haruskah terhenti sampai di sini?

Haruskah aku kembali membuka lembaran kehidupan baru?
“Teh, Pak Mus tadi cuma menyampaikan. Nanti dihubungi lagi oleh bagian personalia dan pimpinan pondok…”

What must I do now?
***
Rasanya belum mendapatkan apa-apa di Jogja. Masih ingin menimba ilmu di kota pelajar yang penuh ilmu dan kemudahan akses mendapatkan ilmu. Dan tenagaku masih dibutuhkan di sini. Bahkan baru kumulai membuka lembaran baru tahun ajaran ini dengan ritmenya yang nyaris membuat badan porak poranda. Nyaris seharian , berangkat pukul 6 pagi, bekerja, sampai di pondok nyaris maghrib, dan langsung disambut dengan serbuan kabar “Ustadzah, ada yang sakit di asrama ini dan itu… Ustadzah, tenggorokanku sakit.. ustadzah, kulitku gatal… ustadzah, ana pilek dan batuk… ustadzah tadi ikhwan ada yang mencari, sepertinya ada yang sakit di asramanya…” dan semuanya baru diusaikan minimal pukul 11 malam. Jika tidak kuat, jam 9 atau 10 sudah pada posisi siap merebahkan diri. Tak kuat lagi sekedar menyalurkan hobi menulis pada malam hari. Nyaris setiap hari… Sungguh ritme baru yang membutuhkan kondisi prima setiap hari.
Bagaimanapun, aku harus kuat.
***
“Klinik di Husnul membutuhkan ijin apoteker untuk beroperasional mulus. Sebagai lulusan terbaik Husnul, kami sangat mengharapkan teh Yuli kembali. Masih ada satu tahun lagi kontrak ngabdi kan ya?”
….
“Kalau masalah tebusan karena sudah menandatangani kontrak itu bisa kami urus…”
….
“Kalau STIKES di Kuningan juga ada Teh…”
….
“S2-nya tahun depan kan Teh?”

Krik krik… aku tidak yakin semangatku menimba ilmu lagi tidak luntur, atau karena hal lainnya, jika telah berada di zona nyaman Husnul…
Sesungguhnya, tidak ada alasan sangat kuat untuk tidak kembali ke kampung halaman.

Apakah semuanya memang harus terhenti?
Mimpi-mimpi yang ingin kugapai, target-target yang harus kucapai, amanah-amanah yang belum tertunaikan… di Jogja…
Rabb…apa yang sebenarnya kuinginkan???

Apakah semuanya memang harus terhenti?
Demi menunaikan hutangku, mengabdi pada pondok yang telah membesarkanku, mengenalkanku pada Islam sesungguhnya…
Di mana balas jasamu?

Apakah semuanya memang harus terhenti?
Sampai di sini?

Sungguh… aku senang mendengarkan senandung Yogyakarta Katon Bagaskara. Tapi aku samasekali tak ingin sungguhan menyenandungkannya suatu saat 😥

netease_moonanya1024

Apakah kau melihatnya? Cahayanya? Kesempurnaannya?

***

Sebuah pelajaran :’) ;

“Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat. Pasti akan kembali.”

–novel “Eliana”, tere liye

Antara Merapi-Lara Jonggrang; Pondok Kedamaian (30)

TIGA PULUH

Anak-anak sudah datang ke Pondok. Pondok kembali ramai setelah dua pekan hanya suara-suara jangkrik yang menyeruak di malam-malam libur lebaran.

Kembali beraktivitas sebagai santri, kembali meninabobokan mereka dengan kisah-kisah sahabat, nabi, dan kisah-kisah hikmah lainnya. Meski beranjak remaja, mereka tetap menyukai kisah yang dibacakan Delya menjelang tidur. Jangankan anak-anak atau remaja. Orang tua pun masih senang mendengarkan kisah-kisah; termasuk Delya.

Sudah berapa puluh kisah yang Delya bacakan pada anak-anak didiknya menjelang terlelap. Ini adalah momen yang penting. Karena tidak setiap saat Delya bisa membersamai mereka, apalagi saat ini. Meskipun badan lelah setelah seharian bekerja, Delya berkomitmen; harus menyempatkan diri minimal tiga kali per minggu membacakan sebuah kisah.

Konon, dongeng-dongeng/ kisah-kisah akan memberikan pengaruh pada tumbuh kembang mental & pribadi anak di masa mendatang.

***

Pengaruh Cerita Dongeng Anak terhadap Mental dan Prestasi Bangsa

David McClelland, seorang pakar psikologi sosial, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyimpulkan sebuah teori bahwa cerita dongeng untuk anak sebelum tidur sangat mempengaruhi prestasi suatu bangsa. McClelland memaparkan penelitiannya terhadap dua negara terkuat abad 16 yaitu Inggris dan Spanyol.

Cerita anak di negara Inggris kaya akan muatan spritualitas dan motivasi untuk maju. Sebaliknya, Cerita anak di Spanyol penuh dengan muatan yang membuat anak terlelap dan ternina-bobokan. Dari begitu banyak cerita dari berbagai negara yang dikumpulkan McClelland dan kemudian diteliti, menunjukkan bahwa negara yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi adalah negara yang memiliki cerita dongeng anak mengandung need for achievement (kebutuhan berprestasi) yang tinggi.

Cerita si Kancil dan Mental Bangsa Indonesia

Kemudian salah satu guru besar Fakultas Budaya Universitas Indonesia, Ismail Marahaimin, mengungkapkan hasil penelitian yang senada. Dongeng si Kancil Mencuri Mentimun yang sangat populer di Indonesia bisa jadi adalah salah satu penyebab bobroknya mental pemimpin bangsa. Kancil mencerminkan tokoh yang cerdas tapi licik. Secara tidak disadari cerita ini akan melekat dalam alam bawah sadar anak-anak bahwa mental tokoh seperti kancil patut ditiru.

Oleh karena itu, perlu digalakkan kembali dongeng anak-anak yang memotivasi untuk berprestasi, yang mendidik dan menumbuhkan keinginan untuk maju.

Tugas Para Penulis, Pendidik, dan Orang Tua

Sudah selayaknya menjadi tugas para penulis Indonesia, untuk menciptakan cerita-cerita anak yang bermutu. Jika mulai hari ini saja Indonesia mampu menerbitkan karya sastra anak seperti yang dimiliki Inggris, maka jika merujuk pada penelitian McClelland, 25 tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh pesat.

Tentu hal ini juga tidak terlepas peran dari para pendidik dan orang tua, untuk membiasakan siswa dan putra-putrinya membaca cerita dongeng anak yang bermutu, yang mengandung semangat berprestasi lebih banyak lagi. Karena disadari atau tidak, mental bangsa beberapa tahun ke depan, adalah sangat dipengaruhi oleh mental yang disiapkan untuk anak-anak sekarang.

Para pendidik dan orang tua hendaknya benar-benar memilihkan bacaan-bacaan yang bagus untuk anak dan bisa dibacakan sebagai pengantar tidur atau saat anak mengalami kejenuhan belajar.
(sumber : http://www.anneahira.com/cerita-dongeng.htm )

 

 

***

Delya, meluangkan sedikit waktu untuk mendongeng bukanlah hal yang sulit. Apalagi sekarang kamu tidak sering membersamai mereka. Lakukanlah untuk anak -anak, hanya beberapa menit untuk membantunya mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya, dan kamu akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan mereka 🙂